Ada Kotoran Pada Telur Ayam MBG, DPRD Magetan Janji Evaluasi Total

- Foto telur rebus kotor dalam paket Program Makan Bergizi Magetan viral di media sosial dan memicu kritik soal kebersihan makanan untuk siswa.
- DPRD Magetan menanggapi dengan melakukan sidak serta berencana mengumpulkan seluruh kepala SPPG guna mencegah kejadian serupa terulang.
- Pemerintah daerah menegaskan pentingnya evaluasi total dan pengawasan ketat agar standar sanitasi program gizi sekolah tetap terjaga.
Magetan, IDN Times – Program Makan Bergizi (MBG) di Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, kembali menuai sorotan. Kali ini, satu butir telur rebus yang diduga masih menyisakan kotoran ayam di cangkangnya viral di media sosial dan memicu kritik warganet.
Foto telur tersebut diunggah akun Facebook Tri Winarsih di grup Info Seputar Lembeyan. Dalam gambar yang beredar, telur rebus bernoda itu dikemas bersama roti tawar, kecap sachet, dan kacang dalam plastik bening sebagai paket makan siswa. “Semoga ini jadi pelajaran untuk lebih teliti… mosok gak ketok telek sakmono gedene,” tulisnya. Unggahan itu pun langsung dibanjiri komentar dan dibagikan ulang ratusan kali. Belum ada konfirmasi dari pihak SPPG, apakah kotoran tersebut merupakan kotoran ayam atau bukan.
Warganet mempertanyakan proses sortir dan pencucian telur sebelum direbus. Sebab, telur dengan cangkang kotor berpotensi membawa bakteri jika tidak dibersihkan sesuai standar sanitasi. Terlebih, makanan tersebut dikonsumsi anak sekolah.
Program MBG sendiri dirancang untuk memastikan kecukupan gizi siswa. Namun, satu kelalaian yang tampak sederhana bisa berdampak besar pada kepercayaan publik. Dalam urusan konsumsi, kebersihan bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama.

Menanggapi viralnya temuan itu, DPRD Magetan mengaku baru mengetahui dari foto yang beredar dan belum melihat langsung kondisi fisik telur tersebut. “Kami akan mengajak Satgas, kebetulan saya Dewan Pengarah Satgas. Kami akan kumpulkan seluruh kepala SPPG se-Kabupaten Magetan untuk antisipasi agar kejadian seperti ini tidak terulang,” ujar Wakil Ketua DPRD Magetan Putut Pujiono, usai sidak, Rabu (25/2/2026).
Ia juga mempertanyakan peran relawan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, relawan seharusnya dapat melakukan pengecekan sebelum makanan didistribusikan.
“Apakah tidak bisa relawan ini melihat barang-barang yang akan dieksekusi? Kan seperti itu,” katanya.
Di tengah derasnya kritik, DPRD memastikan evaluasi dan pengawasan akan diperketat. Sebab jika tujuannya mencetak generasi sehat dan cerdas, maka yang sampai ke tangan siswa tak boleh menyisakan soal kebersihan bahkan dari sebutir telur sekalipun.


















