Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Kedelai Hingga Tepung di Surabaya Merangkak Naik

Harga Kedelai Hingga Tepung di Surabaya Merangkak Naik
Pedagang pasar di Surabaya. (IDN Times/Khusnul Hasana)
Intinya Sih
  • Melemahnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS membuat harga bahan pokok di Surabaya, seperti kedelai, tepung terigu, minyak, dan sayuran mengalami kenaikan.
  • Harga kedelai naik dari Rp13 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram, tepung terigu dari Rp7 ribu ke Rp8 ribu, sementara sayuran seperti selada melonjak hingga tiga kali lipat.
  • Pedagang di Pasar Tambahrejo mengaku penjualan menurun karena sepinya pembeli selama setahun terakhir akibat daya beli masyarakat yang melemah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan masyarakat. Harga sejumlah bahan pokok di Surabaya pun merangkak naik.

Pantauan IDN Times di Pasar Tambahrejo Surabaya menunjukkan beberapa bahan pokok mengalami kenaikan harga, mulai dari minyak goreng, kedelai, tepung terigu, hingga sayuran.

Salah satu pedagang, Warinten (60), mengatakan harga kedelai yang biasanya Rp13 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp15 ribu per kilogram. Menurutnya, kenaikan harga kedelai belum terlalu drastis.

“Kedelai naik, tapi sedikit. Cuma naik Rp1.000–Rp2.000, itu sudah biasa,” ujar Warinten kepada IDN Times, Selasa (19/5/2026).

Hal serupa juga terjadi pada harga tepung terigu. Kenaikannya hanya sekitar Rp1.000 per kilogram.

“Tepung terigu biasanya Rp7.000, sekarang Rp8.000,” jelasnya.

Meski demikian, Warinten mengaku kenaikan dua komoditas tersebut belum seberapa dibandingkan dengan harga sayuran. Sayuran seperti selada di lapaknya naik hingga tiga kali lipat.

“Sekarang harga sayur Rp35 ribu per kilogram, biasanya cuma Rp10 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram,” sebutnya.

Kenaikan drastis juga terjadi pada harga minyak goreng, terutama MinyaKita. Di tempatnya, harga MinyaKita kini mencapai Rp22 ribu, dari sebelumnya Rp17 ribu.

“Harga kulaknya biasanya Rp15 ribu, saya jual Rp17 ribu. Sekarang saya kulak Rp21 ribu, jualnya Rp22 ribu,” katanya.

Warinten juga mengaku pasar tempatnya berdagang semakin sepi pembeli. Kondisi tersebut, kata dia, sudah terjadi dalam satu tahun terakhir.

“Pembelinya sepi, podo gak duwe duit (pada tidak punya uang). Pasarnya sepi, pendapatan menurun. Saya sudah jualan 40 tahun, mulai terasa sepi sejak satu tahun terakhir,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More