Kemarau TIba, Ini Daerah Jatim Kekeringan dan yang Siaga

- Kabupaten Bondowoso menjadi daerah pertama di Jawa Timur yang meminta bantuan air bersih ke Pemprov Jatim akibat kekeringan awal musim kemarau 2026.
- BPBD Jatim menyiapkan 867 rit distribusi air, ratusan tandon, terpal, dan jerigen untuk membantu 916 desa di 29 kabupaten yang berpotensi terdampak kekeringan.
- Operasi Modifikasi Cuaca masih ditunda karena cadangan air waduk dinilai cukup, sementara BPBD terus memantau kondisi kemarau yang diprediksi lebih panjang dan ekstrem tahun ini.
Surabaya, IDN Times - Sejumlah daerah di Jawa Timur (Jatim) mulai mengalami dampak kekeringan memasuki musim kemarau 2026. Bahkan, Kabupaten Bondowoso telah mengajukan bantuan air bersih ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan hingga saat ini Bondowoso menjadi satu-satunya daerah yang telah meminta bantuan distribusi air bersih ke provinsi. “Yang sudah mengajukan bantuan ke provinsi baru Kabupaten Bondowoso,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Sementara sejumlah daerah lain seperti Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan hingga Kabupaten Blitar masih dinilai mampu menangani kekeringan menggunakan anggaran daerah masing-masing. “Daerah lainnya masih bisa diatasi menggunakan APBD mereka sendiri,” katanya.
BPBD Jatim sendiri telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi lebih panjang dan ekstrem dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data BPBD Jatim, sebanyak lima kabupaten telah menetapkan status siaga kekeringan, yakni Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang dan Bangkalan.
Selain itu, BPBD Jatim memprediksi dampak kekeringan tahun 2026 akan meningkat dibanding 2025. Potensi terdampak diperkirakan mencapai 916 desa di 29 kabupaten. Untuk penanganan kekeringan, BPBD Jatim menyiapkan distribusi air bersih hingga 867 rit. Setiap satu truk tangki mampu mengangkut sekitar 5.000 liter air.
“Untuk distribusi air sendiri, BPBD Provinsi mengalokasikan sebanyak 867 rit,” kata Gatot.
Tak hanya air bersih, BPBD juga menyiapkan berbagai perlengkapan penunjang seperti 474 tandon air, 9.600 terpal, 165 tandon lipat dan 400 jerigen yang nantinya didistribusikan ke daerah terdampak.
“Semua nantinya akan didistribusikan ke kabupaten/kota yang membutuhkan untuk mendukung masyarakat menyimpan air,” tambahnya.
Khusus untuk Bondowoso, BPBD Jatim telah mengirimkan bantuan sebanyak 10 ribu liter air bersih atau setara dua truk tangki ke tiga dusun terdampak. “Ada tiga dusun yang dikirim bantuan di Bondowoso, yakni Dusun Banteng Lor, Sumberwaru, dan Banteng Duk Betok,” jelas Gatot. Bantuan tersebut disebut telah dimanfaatkan sekitar 140 kepala keluarga (KK).
Di sisi lain, BPBD Jatim juga mulai berkoordinasi dengan BMKG terkait kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) jika kondisi kekeringan semakin parah.
Menurut Gatot, OMC baru akan dilakukan apabila cadangan air waduk mulai menipis dan masih terdapat potensi awan hujan berdasarkan analisis BMKG. “Kalau untuk OMC hingga hari ini belum dilakukan karena air di waduk masih tercukupi dan curah hujan masih ada meskipun cuaca sudah panas,” ungkapnya.
Ia menambahkan musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan panasnya lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya. Namun hingga saat ini BPBD masih terus memantau perkembangan kondisi di lapangan sebelum memutuskan langkah lanjutan.
















