Dari Tangan Petani ke Labirin Putih Penjaga Perut Negeri

- Petani Jombang kini mengelola hasil panen lewat koperasi, memproses gabah menjadi beras premium dan medium, serta menyalurkannya ke Bulog untuk menjaga harga tetap stabil.
- Bulog Jawa Timur menyimpan sekitar 1,3 juta ton cadangan beras, menjadi simbol keberhasilan pemerintah dalam menjaga stok nasional yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
- Meskipun stok melimpah dan harga gabah membaik, kenaikan harga eceran menunjukkan masalah distribusi pangan; para ahli menilai transparansi data dan efisiensi rantai pasok perlu diperkuat.
Jombang, IDN Times - Langit di Desa Pojokkulon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, siang itu biru terang di penghujung April 2026. Matahari menimpa hamparan sawah yang menguning. Angin mengelus bulir-bulir padi siap panen, menghadirkan suara lirih seperti napas panjang bumi setelah berbulan-bulan menunggu musim panen tiba.
Di tengah hamparan itu, Sandya Evi Yulianto berdiri dengan kaus lusuh dan topi sederhana. Tangannya menggenggam batang padi yang baru saja dipotong. Di dekatnya, beberapa pria mengangkat karung-karung gabah ke atas truk kayu. Sebagian lain sibuk menimbang hasil panen. Debu sekam beterbangan, menempel di wajah-wajah yang kelelahan, tetapi tetap memancarkan senyum.
Hari itu bukan sekadar panen biasa. Bagi Sandya, setiap karung gabah yang diangkat ke truk adalah tanda bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia. “Gabah kering panen sekarang diserap Bulog Rp6.500 per kilogram,” katanya sambil mengusap keringat. “Alhamdulillah, kami terbantu,” ungkapnya menambahkan.
Luas sawah yang dipanen mencapai dua hektare. Produksinya sekitar enam sampai tujuh ton per hektare. Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya statistik, tetapi bagi petani seperti Sandya, itu adalah ukuran tentang apakah dapur tetap mengepul, apakah anak bisa terus sekolah, dan apakah musim berikutnya masih bisa ditanami.
Di Jawa Timur, cerita tentang beras memang tak pernah sekadar soal makanan. Ia adalah cerita tentang hidup. Tentang harga diri petani. Tentang politik pangan. Tentang negara yang sedang berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Dan perjalanan satu butir beras ternyata jauh lebih panjang dibanding yang dibayangkan banyak orang.
Ketika gabah tak lagi berakhir di tengkulak

Tak jauh dari sawah tempat Sandya memanen padi, Hudi sibuk mengawasi aktivitas pengangkutan gabah. Sesekali ia mencatat hasil penimbangan, lalu berbincang dengan petani anggota gapoktan. Wajahnya tenang. Nada bicaranya pelan. Tetapi di balik kesederhanaannya, Hudi sedang menjalankan sebuah gagasan besar. Membangun kedaulatan pangan dari tangan petani sendiri.
Ia adalah Ketua Koperasi Multi Pihak Sarana Agro Lestari, koperasi petani yang lahir dari program Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak 2024 lalu. Program itu diluncurkan saat era Penjabat Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono di Desa Pojokkulon. Konsepnya sederhana tetapi revolusioner, petani tidak hanya menjadi produsen gabah, melainkan juga menguasai proses bisnisnya.
“Dulu hasil panen ya selesai di tengkulak,” kata Hudi. “Sekarang kami mencoba mengelolanya sendiri,” bebernya menambahkan.
Koperasi itu kini membawahi 10 gapoktan dari berbagai kecamatan di Jombang, mulai Kesamben, Megaluh, Mojowarno, hingga Tembelang. Gabah petani diserap koperasi, kemudian dibawa ke Rice Milling Unit (RMU) di Desa Pojokkulon untuk diolah menjadi beras premium dan medium.
Di penggilingan itu, suara mesin nyaris tak pernah berhenti. Gabah dijemur, diproses, dipilah, lalu berubah menjadi beras putih bersih yang kemudian dikemas dengan label “Jatim Cettar”. Beras premium mereka mampu diproduksi hingga delapan ton. Beras medium mencapai 10 ton.
Perjalanan beras tidak berhenti di penggilingan. Hudi tahu, sebanyak apa pun produksi petani, semuanya akan percuma jika tidak ada kepastian serapan. Karena itu, koperasi petani yang dipimpinnya mulai membangun jalur distribusi yang lebih pasti. Tidak hanya menjual beras kemasan ke pasar ritel dan BUMD, tetapi juga ikut membantu skema serapan pemerintah melalui Bulog.
“Jadi kami tidak hanya produksi, kami juga melakukan serapan untuk kemudian diteruskan kepada Bulog. Dengan begitu hasil panen petani tetap terserap dan harganya stabil,” kata Hudi.
Skema itu perlahan mengubah pola lama yang selama bertahun-tahun membuat petani bergantung pada tengkulak. Gabah petani kini tidak lagi tercerai-berai tanpa arah. Dari sawah anggota gapoktan, gabah masuk ke koperasi, ditimbang, dicatat, lalu sebagian diproses menjadi beras premium dan medium. Sebagian lain masuk dalam jalur serapan pangan nasional.
Di titik inilah perjalanan butiran beras menemukan simpul pentingnya. Bulog. Bagi Hudi, Bulog bukan sekadar gudang besar penyimpan cadangan pangan negara. Lembaga itu adalah penyangga psikologis petani. Kehadiran Bulog yang membeli gabah di harga Rp6.500 per kilogram membuat petani memiliki kepastian bahwa hasil panennya tidak jatuh terlalu murah saat panen raya.
“Kalau panen bersamaan biasanya harga jatuh. Sekarang petani lebih tenang karena ada serapan,” katanya. Ketenangan itu kini terasa di banyak sentra pangan Jawa Timur. Truk-truk pengangkut gabah bergerak dari desa menuju gudang-gudang penyimpanan Bulog.
Karung-karung penjaga perut negeri

Sementara di Romokalisari, Surabaya, gudang-gudang itu berdiri seperti benteng besar pangan nasional. Karung-karung beras tersusun menjulang tinggi hingga mendekati atap gudang. Lorong-lorong sempit di antaranya tampak seperti labirin putih tanpa ujung.
Aroma khas beras berkualitas memenuhi udara. Setiap hari, truk datang dan pergi. Beras masuk dalam jumlah besar. Bulog Jawa Timur kini menyimpan sekitar 1,3 juta ton cadangan beras. Angka yang begitu besar hingga kapasitas pergudangan nyaris penuh. Bulog bahkan harus menyewa ratusan gudang tambahan. Totalnya mencapai 223 unit gudang di berbagai daerah.
Kalau panen masih melimpah, kami akan tambah kapasitas lagi,” kata Kepala Bulog Divre Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, usai Forum Group Discussion (FGD) di Kompleks Pergudangan Romokalisari, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Pemandangan gudang penuh itu menjadi simbol optimisme pemerintah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan menyebut stok nasional 5,3 juta ton sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Ia berbicara penuh keyakinan. “Ini bukan berdasarkan rasa, tapi data,” tegasnya saat kunjungan kerja ke Gudang Bulog, Romokalisari, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Bagi pemerintah, stok besar adalah bukti keberhasilan. Bagi petani, harga gabah yang membaik adalah harapan.
Kedaulatan pangan sedang ditanam

Optimisme serupa juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berkali-kali menegaskan bahwa Jawa Timur tidak ingin hanya menjadi daerah surplus beras. Lebih dari itu, Jawa Timur ingin menjadi motor kedaulatan pangan nasional yang berkelanjutan.
"Tidak sekadar bagaimana memaksimalkan produksi padi dan beras di Jawa Timur, tetapi kita ingin menjadi bagian yang membawa Indonesia menuju kedaulatan pangan berkelanjutan," ujar Khofifah dalam peresmian Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa Timur 2026 di Sidoarjo, Rabu (13/5/2026).
Data memang menunjukkan tren positif. Berdasarkan angka tetap BPS Tahun 2025, Jawa Timur mencatat produksi padi sebesar 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 12,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Luas panennya mencapai 1,84 juta hektare. Sementara proyeksi Januari-Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton GKG.
Khofifah optimistis tren tersebut menunjukkan pertanian Jawa Timur tetap tangguh di tengah ancaman global dan perubahan iklim. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pangan bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi berkaitan langsung dengan pertahanan negara.
"Ketahanan pangan dan kedaulatan pangan adalah bagian penting dari ketahanan bangsa,” katanya.
Demi menjaga produktivitas, Pemprov Jatim terus mendorong modernisasi pertanian melalui penggunaan alsintan seperti drone sprayer, transplanter, rotavator, hingga combine harvester. Modernisasi itu bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga upaya menarik anak muda kembali ke sektor pertanian.
"Saya rasa ini sangat friendly dengan anak-anak muda," ujar Khofifah.
Sawah-sawah yang tetap “menyala”

Dukungan terhadap transformasi pertanian nasional juga datang dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur, H.M. Arum Sabil. Menurutnya, kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berhasil menghadirkan semangat baru dalam pembangunan sektor pertanian nasional.
"Di tengah tantangan global, mulai perubahan iklim hingga gejolak energi dunia, langkah Menteri Pertanian cepat, terukur, dan berpihak kepada petani,” kata Arum.
Ia menilai program pompanisasi, percepatan tanam, penertiban distribusi pupuk subsidi, hingga modernisasi pertanian menjadi bukti nyata transformasi sektor pangan nasional. “Langkah-langkah itu memberi harapan baru bagi petani Indonesia, khususnya Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional,” ujarnya.
Bagi Arum, kedaulatan pangan tidak mungkin tercapai tanpa kesejahteraan petani. Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, organisasi petani, koperasi, hingga Bulog harus terus diperkuat.
Pertanyaan yang belum selesai

Perjalanan beras tidak selalu mulus saat sampai di pasaran. Di Pasar Wonokromo Surabaya, Yuni mengelus karung beras di kios kecil langganannya. Ia bersyukur stok masih tersedia. Meski harga perlahan naik, ia masih bisa membeli. "Yang penting masih ada," katanya, Kamis (14/5/2026).
Perempuan itu sadar dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang global, gejolak energi, hingga perubahan iklim membuat harga pangan dunia naik turun tak menentu. "Tapi saat ini masih stabil," ucapnya. Ucapan Yuni mungkin terdengar sederhana. Namun sesungguhnya ia menggambarkan paradoks pangan Indonesia hari ini. Gudang penuh.
Tetapi harga di tingkat konsumen masih bergerak naik. Di sinilah cerita perjalanan butiran beras menjadi semakin rumit. Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, melihat fenomena ini dengan lebih hati-hati. Ia mengakui pernyataan Bulog mengenai stok nasional memang memiliki dasar yang valid secara agregat. Stok tinggi, harga gabah petani di atas HPP, serta volatilitas harga yang relatif terkendali menjadi indikator positif.
Namun di balik angka-angka besar itu, Hendry melihat ada sesuatu yang belum sepenuhnya beres. “Ada kerikil dalam tumpukan beras,” katanya tertulis, Sabtu (16/5/2026). Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung kritik yang tajam.
Menurut Hendry, lonjakan harga eceran di tengah stok melimpah menunjukkan adanya distorsi dalam rantai distribusi pangan. Data PIHPS Nasional memperlihatkan harga beras medium I melonjak dari Rp15.800 per kilogram pada 2 Mei 2026 menjadi Rp18.950 per kilogram pada 13 Mei 2026. Beras super I bahkan naik hingga 24,6 persen.
Kenaikan itu dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan narasi stok berlimpah. “Pemerintah perlu memperkuat peran Bulog dalam operasi pasar dan memperpendek rantai pasok dari penggilingan ke konsumen,” ujar Hendry.
Menurutnya, keberhasilan pangan bukan hanya soal berapa banyak stok di gudang, tetapi apakah masyarakat bisa membeli beras dengan harga terjangkau. Di sisi lain, Hendry juga mengingatkan soal tantangan produksi ke depan. Data BPS menunjukkan produksi beras Januari-Juni 2026 hanya tumbuh 0,26 persen. Bahkan produksi April-Juni diproyeksikan turun 8,3 persen dibanding periode sama tahun lalu. Luas panen juga diperkirakan menyusut 7,64 persen.
"Kalau produksi mulai melambat dan luas panen menyusut, maka transparansi komposisi stok menjadi penting,” katanya. Ia mempertanyakan apakah stok besar saat ini sepenuhnya berasal dari serapan domestik atau masih ada carry-over stock dari impor sebelumnya.
Akan tetapi, kritik Hendry tetap berada dalam koridor optimisme. Ia percaya fondasi ketahanan pangan Indonesia sedang dibangun lebih kuat dibanding sebelumnya. Hanya saja, fondasi itu perlu dijaga dengan distribusi yang sehat, transparansi data, serta perlindungan bagi petani kecil dan konsumen.
"Stabilitas pangan bukan sekadar angka stok di gudang,” ucapnya. “Tetapi keterjangkauan harga dan kesejahteraan petani," pungkasnya menegaskan.


















