Perajin Tusuk Sate di Tulungagung Kewalahan Penuhi Pesanan Idul Adha

- Menjelang Idul Adha, perajin tusuk sate di Desa Moyoketen, Tulungagung kebanjiran pesanan hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.
- Sukamto, perajin lokal, merakit sendiri mesin pembuat tusuk sate untuk efisiensi dan mampu memproduksi 20–25 ribu batang per hari bersama keluarganya.
- Meskipun permintaan meningkat tajam, harga tusuk sate tetap stabil di Rp16 ribu per seribu batang tanpa ada kenaikan dari produsen.
Tulungagung, IDN Times - Perajin tusuk sate di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung mendapat berkah menjelang Idul Adha. Jumlah pesanan tusuk sate meningkat hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. Para perajin mengaku kewalahan dan tidak dapat memenuhi orderan tersebut. Meski jumlah pesanan meningkat, namun perajin tidak menaikkan harga.
1. Rakit mesin untuk permudah proses pembuatan tusuk sate

Salah satu perajin tusuk sate, Sukamto (51) mengatakan permintaan mulai mengalami peningkatan sejak beberapa pekan lalu. Selama ini Sukamto hanya memenuhi kebutuhan tusuk sate untuk lokal saja. Produksi tusuk sate milik Sukamto sudah cukup modern. Hampir semua tahapan pembuatan tusuk sate menggunakan mesin yang dia rakit sendiri.
"Mesin untuk membuat tusuk sate saya rakit sendiri. Selain dapat menghemat biaya produksi juga memudahkan saya untuk bekerja," ujarnya, Sabtu (16/5/2026).
2. Setiap hari mampu produksi hingga 2 ribu batang tusuk sate

Dalam satu hari Sukamto mampu memproduksi tusuk sate mencapai 20 ribu hingga 25 ribu batang. Jumlah itu belum mampu mencukupi permintaan tusuk sate di Tulungagung. Proses pembuatan tusuk sate harus melewati delapan tahapan. Mulai dari memilah bahan baku bambu, memotong, menjemur, meruncingkan hingga packing. Proses tersebut dilakukan oleh Sukamto dibantu dengan keluarga saja.
"Sebenarnya permintaan di pasar itu banyak, tapi saya belum mampu. Rencananya saya akan mencari karyawan untuk meningkatkan produksi," paparnya.
3. Tidak ada kenaikan harga, tetap Rp16 ribu per seribu batang

Jelang Idul Adha, permintaan tusuk sate mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Meski permintaan meningkat, Sukamto memastikan harga tusuk sate dari produsen tidak naik. Sukamto menjual tusuk sate ini seharga Rp16 ribu per seribu batang. Kenaikan jumlah pesanan ini biasanya juga meningkat saat Hari Raya Idul Fitri dan musim hajatan pernikahan,
"Kenaikan permintaan tusuk sate biasanya terjadi saat Idul Adha, Idul Fitri dan musim hajatan. Saya menjual tusuk sate Rp16 ribu per seribu batang," pungkasnya.

















