Sejarah Hari Jadi Kota Surabaya, Gagalnya Invasi Mongol di Hujunggaluh

- Hari Jadi Kota Surabaya diperingati setiap 31 Mei, merujuk pada peristiwa mundurnya pasukan Mongol oleh Raden Wijaya di Hujunggaluh tahun 1293 yang menjadi awal berdirinya Majapahit.
- Penetapan tanggal 31 Mei sebagai Hari Jadi dilakukan setelah penelitian tim khusus bentukan Wali Kota Soekotjo pada 1973, menggantikan tanggal 1 April peninggalan masa kolonial Belanda.
- Peristiwa sejarah ini juga mendorong pelestarian situs penting seperti Sungai Kali Mas dan Pintu Air Kali Jagir yang dikaitkan dengan jalur masuk pasukan Mongol ke Jawa.
Surabaya, IDN Times - Hari Jadi Kota Surabaya diperingati setiap tanggal 31 Mei. Memasuki hari jadi ke-733 pada tahun ini, peringatan ini merujuk pada fakta sejarah peristiwa tentara Mongol (Tar-tar) yang dipukul mundur oleh pasukan Raden Wijaya pada tahun 1293. Peristiwa yang mengambil tempat di wilayah Surabaya ini menjadi sejarah awal dari berdirinya Kerajaan Majapahit pada akhir abad 13 tersebut.
Mundurnya Pasukan Mongol oleh Raden Wijaya di Hujunggaluh

Peristiwa tersebut bermula ketika Kubilai Khan, penguasa Kerajaan Mongol pada waktu itu, mendapatkan kabar bahwa kerajaan di Jawa menolak membayar upeti dengan memotong telinga utusan dari Mongol yang Bernama Meng Ch’i. Karena murka, kaisar Mongol tersebut mengirimkan tiga jenderal besarnya, Ike Messe, Shih-pi, dan Kau Hsing untuk memimpin sekitar 20 ribu pasukan ke Jawa. Ekspedisi besar ini bertujuan untuk menundukkan Jawa yang membelot dari kewajiban membayar upeti kepada Kekaisaran Mongol.
Ekspedisi yang dipimpin oleh Ike Messe tersebut dilakukan pada tahun 1292. Perjalanan mereka dilakukan melalui jalur laut: melewati Campa (sekarang Vietnam), Pulau Natuna, Karimun Jawa, hingga berlabuh di Tuban. Setelah tiba di Tuban, rombongan serdadu yang dipimpin Ike Messe bertemu dengan rombongan Shih-pi dan Kau Hsing. Perjalanan ke Kerajaan Jawa kemudian dilanjutkan melalui dua jalur. Pasukan pimpinan Shih-pi melewati jalur laut dari Sungai Sugalu atau Sedayu menuju Sungai Pa-tsieh atau Kalimas, sedangkan pasukan Ike Messe-Kau Hsing melewati jalur darat.
Kabar rencana pasukan Mongol untuk menundukkan Kerajaan Jawa tersebut ternyata sampai ke telinga Raden Wijaya. Di sisi lain, Kerajaan Mongol belum mengetahui adanya suksesi kepemimpinan baru di Pulau Jawa. Raja Kertanegara, penguasa Kerajaan Singasari yang memotong telinga utusan Mongol sebelumnya, telah digulingkan oleh Jayakatwang pada 1292. Peristiwa kudeta tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Singasari dan mengawali kekuasaan Kerajaan Kediri di bawah Jayakatwang.
Raden Wijaya, yang merupakan menantu Raja Kertanegara, adalah penerus tahta Kerajaan Singasari. Dengan ditaklukkannya Singasari oleh Jayakatwang, tentu Raden Wijaya juga terkena imbasnya. Setelah penaklukkan itu, Jayakatwang mengusir Raden Wijaya yang kemudian mendirikan sebuah desa bernama Majapahit. Sembari mengurus wilayahnya di desa tersebut, ia menyiapkan berbagai strategi untuk membalas dendam kepada Jayakatwang.
Karena ketidaktahuan pasukan Mongol atas situasi dan kondisi pemerintahan di Jawa saat itu, Raden Wijaya kemudian memikirkan taktik untuk bekerja sama. Hal ini karena tujuan pasukan Mongol dan Raden Wijaya pada waktu itu serupa, yakni membalas dendam terhadap penguasa Jawa, meskipun kemudian terdapat pergantian pemimpin yang luput diketahui oleh pasukan Mongol. Ia kemudian mengatur strategi untuk menyerang Jayakatwang dengan bergabung dengan pasukan Mongol. Pasukan dari kedua Kerajaan tersebut kemudian berhasil bergabung dan bertemu di Sungai Kali Mas.
Penggabungan dua pasukan itu kemudian membuahkan hasil. Pada tahun 1293, gabungan kedua pasukan tersebut berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri dan menangkapJayakatwang berserta keluarga dan pejabat kerajaan. Setelah peristiwa penyerbuan itu, Raden Wijaya kembali ke kediamannya dengan kawalan sekitar 200 pasukan Mongol. Namun, dalam perjalanan, Raden Wijaya diam-diam membantai seluruh pasukan pengawal. Pertempuran itu berlanjut hingga 68 hari dan berhasil memukul mundur pasukan Mongol hingga ke Hujunggaluh pada tanggal 24 bulan ke-4 atau 31 Mei.
Hujunggaluh merupakan ujung Sungai Kali Mas yang menjadi jalur masuk pasukan Mongol ke Jawa. Oleh karena itu, Sungai Kali Mas yang disebut sebagai pa-tsieh menjadi salah satu situs sejarah penting yang masih eksis hingga saat ini. Salah satu literatur yang merujuk pada peristiwa tersebut adalah Notes on The Malay Archipelago and Malacca oleh W.P. Groeneveldt (1876). Catatan Groeneveldt ini merupakan salah satu literatur yang digunakan tim penelitian Hari jadi Kota Surabaya dalam menetapkan tanggal 31 Mei sebagai hari ulang tahun Kota Surabaya.
Penetapan Hari Jadi Kota Surabaya

Sebelumnya, Hari Jadi Kota Surabaya diperingati setiap tanggal 1 April. Penetapan ini berdasarkan tanggal peresmian Gementee Soerabaia oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1906. Namun, karena dianggap mengikuti pakem sejarah kolonial, pengubahan tanggal peringatan ini lalu digaungkan oleh banyak kalangan. Hal ini kemudian direspon oleh Pemerintah Kota Surabaya pada masa kepemimpinan Wali Kota Soekotjo Sastrodinoto (1965-1974).
Pada tahun 1973, Walikota Soekotjo membentuk tim khusus untuk meneliti titik awal sejarah Kota Surabaya. Pembentukan tim penelitian ini diteken melalui Surat Keputusan Wali Kota Kepala Daerah Kotamadya Surabaya Nomer 99/WK pada tanggal 2 April 1973 dan Surat Keputusan Nomor 109/WK pada 10 April 1973. Tim peneliti beranggotakan 13 orang ini bertugas untuk menelaah peristiwa sejarah yang tepat sebagai dasar peringatan hari jadi Kota Surabaya (HJKS).
Setelah melalui berbagai proses penelitian dan pertimbangan, akhirnya diputuskan bahwa HJKS selanjutnya akan diperingati setiap tanggal 31 Mei. Hal ini berdasarkan peristiwa mundurnya pasukan Mongol oleh Raden Wijaya di Hujunggaluh pada tanggal 31 Mei 1293. Sejumlah sejarawan memperkirakan bahwa Hujunggaluh berlokasi di Surabaya. Keputusan ini kemudian ditetapkan oleh Wali Kota Soepomo melalui Surat Keputusan DPRD Kotamadya Surabaya tanggal 6 Maret 1975, Nomor 02/DPRD/Kep/75 dan Surat Keputusan Walikota tanggal 16 Maret 1975, No. 64/WK/75 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Surabaya.
Peristiwa bersejarah ini tidak hanya dijadikan landasan untuk memperingati Hari Jadi Kota Surabaya saja, tetapi juga turut menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan beberapa situs bersejarah di Kota Surabaya. Seperti yang dijelaskan oleh Groeneveldt, jalur keluar masuknya pasukan Mongol untuk menyerang Kerajaan Jawa adalah melalui Sungai Kali Mas yang saat itu disebut sebagai pa-tsieh. Toponimi Sungai Pa-tsieh ini diambil dari nama kampung yang dekat dengan aliran Sungai ini, yaitu Kampung Pa-tsieh-kan atau Patjekan.
Jika melihat peta Kota Surabaya hari ini, nama Patjekan sudah tidak ada lagi di mana pun. Namun, berdasarkan Kaart van de Hoofdplaats Soerabaja en omstreken - Top. Bur. v.d. Gen. Staf, Batavia, nama Patjekan masih eksis pada masa kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1800-an. Lokasinya terletak di sisi utara persimpangan Kali Mas dan Kali Jagir di daerah Wonokromo.
Namun, satu-satunya informasi sejarah yang resmi ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya terdapat di Pintu Air Kali Jagir. Pintu Air yang dibangun pada 1923 ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya pada 1998. Pintu air ini sekaligus menjadi situs penting yang menandai tempat bersauhnya Tentara Tar-tar yang akan menyerang Kerajaan Kediri pada tahun 1293. Sementara, lokasi spesifik bersauhnya tentara Mongol, Hujunggaluh, dan lain sebagainya masih diperdebatkan oleh banyak pihak.


















