Jadi Korban Bullying, Siswi SMP di Magetan Depresi dan Enggan Sekolah

1. A dirundung karena miskin dan tidak memiliki hp

Menurut penuturan ibunya, Murini, perundunganyang dialami putrinya sudah berlangsung sejak kelas 4 SD. Saat itu, A sering di-bully karena tidak memiliki ponsel pintar. Bullying tersebut semakin parah saat anak tersebut naik ke SMP.
"Anak saya di-bully karena dianggap anak orang tidak punya. HP satu satunya yang kami pumya sering mati karena baterainya mulai lowbet dan cepat habis," kata Murini saat ditemui di rumahnya, Kamis (01/02/2024).
Akibat bullying tersebut, siswi tersebut menjadi takut bertemu orang lain dan mengurung diri di kamar. Ia juga tidak mau sekolah selama tiga bulan terakhir. "Anak saya hanya mau sekolah jika dipindahkan ke pondok pesantren," ujar Murini.
2. Dinas PPKB dan PPA Magetan mengaku telah berikan pendampingan

Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB dan PPA) Kabupaten Magetan mengaku telah empat kali mengunjungi rumah korban untuk memberikan pendampingan. Pihak dinas juga telah membawa psikolog dari Surabaya untuk memeriksa kondisi siswi tersebut.
Sekretaris Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Magetan, Miftahuddin, mengatakan, A akan dibawa ke psikiater RSUD Dr. Sayidiman Magetan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. "Untuk sekolahnya kami akan bantu mencarikan pondok pesantren di Magetan agar pendidikannya tidak terputus," kata Miftahuddin. Pihaknya berjanji akan terus mengawal kasus tersebut hingga siswi tersebut pulih dan bisa kembali bersekolah.
3. Pj Bupati Magetan minta sekolah dan masyarakat turut mencegah

Kasus bullying yang dialami siswi SMP ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pj Bupati Magetan, Hergunadi, meminta pihak sekolah dan masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mencegah bullying. "Bullying merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. Kita harus bersama-sama mencegahnya agar tidak ada lagi korban," kata Hergunadi.
Ia berpesan kepada para orang tua untuk selalu mengawasi dan mendampingi anak-anaknya di sekolah. Ia juga meminta para guru untuk lebih peka terhadap gejala bullying yang terjadi di sekolahnya masing-masing.



















