Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dari Anemia ke Stunting, Strategi WVI Gaet Remaja di Ngawi

Dari Anemia ke Stunting, Strategi WVI Gaet Remaja di Ngawi
Program Manager PASTI WVI, Hotmianida Panjaitan. IDN Times/Riyanto.
Intinya Sih
  • Wahana Visi Indonesia lewat Program PASTI di Ngawi fokus edukasi remaja tentang anemia, pola makan sehat, dan risiko pernikahan dini sebagai langkah awal pencegahan stunting.
  • Tantangan utama ada pada perubahan perilaku remaja yang masih gemar makanan instan meski paham pentingnya gizi seimbang, sementara angka anemia remaja putri mencapai sekitar 30 persen.
  • Program PASTI dorong kolaborasi lintas pihak dan inovasi lokal seperti pemanfaatan pekarangan bergizi, dengan target hingga 2027 untuk membentuk generasi muda sadar gizi dan bebas stunting.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ngawi, IDN Times Upaya penurunan stunting di Indonesia tak lagi hanya fokus pada balita, tetapi juga menyasar remaja sebagai generasi calon orang tua. Pendekatan inilah yang dilakukan Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), termasuk di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Program ini mengedepankan strategi edukasi bertahap, dimulai dari isu yang lebih dekat dengan remaja seperti anemia, pola makan sehat, hingga risiko pernikahan dini, sebelum mengaitkannya dengan stunting.

Program Manager PASTI WVI, Hotmianida Panjaitan, mengatakan pendekatan ini dipilih karena remaja cenderung belum merasa memiliki keterkaitan langsung dengan isu stunting.

“Kalau langsung bicara stunting, mereka merasa itu jauh dari dirinya. Makanya kita mulai dari anemia, pola makan sehat, baru dikaitkan dengan stunting,” ujarnya kepada wartawan di Ngawi, Rabu (15/4/2026).

1. Remaja paham, tapi belum tentu menerapkan

Riyanto
Ketua Genre Kabupaten Ngawi, Sholaqal dan Duta Genre Desa Model Ngawi, Milla. IDN Times/Riyanto.

Meski edukasi terus digencarkan, tantangan terbesar justru terletak pada perubahan perilaku. Ketua Genre Kabupaten Ngawi, Sholaqal, menyebut sebagian besar remaja sebenarnya sudah memahami pentingnya gizi seimbang.

Namun, dalam praktiknya, banyak yang masih mengonsumsi makanan instan dan kurang memperhatikan pola makan sehat.

“Remaja tahu mana makanan sehat, tapi tetap memilih yang instan karena rasanya. Ini yang jadi tantangan,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Duta Genre Desa Model Ngawi, Milla. Ia menilai minat remaja mengikuti edukasi masih rendah, dipengaruhi rasa malu dan minimnya informasi tentang layanan kesehatan remaja.

2. Pola makan dan anemia jadi sorotan

Riyanto
Tim Kesehatan Dari Puskesmas Ngawi, Supriyono. IDN Times/Riyanto.

Dari sisi layanan kesehatan, perwakilan Puskesmas Ngawi, Supriyono, mengungkapkan bahwa masalah gizi remaja cukup kompleks. Salah satunya adalah tingginya angka anemia pada remaja putri.

“Dari hasil skrining, sekitar 30 persen remaja putri mengalami anemia. Ini dipengaruhi pola makan yang kurang sehat,” jelasnya.

Ia menambahkan, remaja cenderung menghindari sayur dan buah, serta lebih memilih makanan cepat saji. Kebiasaan ini dinilai berkontribusi terhadap risiko stunting di masa depan.

Selain itu, pernikahan dini juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Kondisi fisik dan mental yang belum matang membuat risiko melahirkan anak stunting semakin tinggi.

3. Kolaborasi dan inovasi jadi kunci

Riyanto
Camat Ngawi, Arin Royanto. IDN Times/Riyanto.

Camat Ngawi, Arin Royanto, menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan peran semua pihak, tidak hanya pemerintah.

“Program sudah banyak, tapi butuh kesadaran bersama. Masyarakat juga harus terlibat aktif,” ujarnya.

Salah satu inovasi yang didorong adalah pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam tanaman bergizi seperti kelor, cabai, dan sayuran lainnya guna memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

4. Edukasi berkelanjutan untuk ubah perilaku

Riyanto
Pendekatan tim Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Kabupaten Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Program PASTI yang ditargetkan berjalan hingga 2027 ini mengusung tiga strategi utama, yakni intervensi gizi berbasis lokal, pelibatan remaja, dan penguatan kapasitas tim percepatan penurunan stunting di tingkat desa.

Melalui pendekatan kreatif seperti lomba, kampanye, hingga pelibatan komunitas, WVI berharap pesan pencegahan stunting bisa lebih mudah diterima generasi muda.

Meski angka stunting nasional telah turun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 21,5 persen pada 2023, tantangan di tingkat daerah masih besar. Karena itu, perubahan perilaku sejak remaja dinilai menjadi kunci untuk menciptakan generasi bebas stunting di masa depan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More