Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cuaca Jatim Makin Ekstrem, Angin Monsun Australia Menguat
Ilustrasi angin kencang. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • BMKG Juanda memprakirakan sebagian besar Jawa Timur berada di puncak kemarau sepanjang pekan ini, meski hujan ringan masih berpotensi turun pada Senin, Selasa, dan Jumat.
  • El Nino kuat dengan indeks ENSO +1,94 mengurangi pembentukan awan hujan di Jawa Timur; IOD dan MJO netral belum mendukung peningkatan curah hujan signifikan.
  • Angin timur-tenggara menguat hingga 25–30 knot akibat Monsun Australia. BMKG mengimbau warga menghindari pembakaran dan mewaspadai karhutla, terutama saat angin kencang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada pada puncak musim kemarau sepanjang pekan ini. Meski demikian, hujan ringan masih berpotensi turun di sejumlah daerah pada awal hingga akhir pekan. Sementara itu, angin timuran diperkirakan bertiup lebih kencang seiring menguatnya Monsun Australia.

Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi, mengatakan kondisi cuaca di Jawa Timur saat ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang berada pada kategori kuat. Kondisi tersebut mengurangi pembentukan awan hujan sehingga cuaca cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

"Sebagian besar Jawa Timur sedang berada pada puncak musim kemarau pada bulan Agustus ini. Ditambah menguatnya hembusan angin Monsun Australia pada pekan ini," ujar Rendy saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).

Berdasarkan prospek cuaca mingguan BMKG, hujan ringan masih berpotensi terjadi pada Senin, Selasa, dan Jumat. Sementara itu, kondisi cuaca pada Rabu, Kamis, Sabtu, hingga Minggu diperkirakan didominasi kabut atau asap.

Rendy menjelaskan, indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) saat ini mencapai +1,94 yang menunjukkan El Nino berada pada kategori kuat. Fenomena tersebut berdampak pada berkurangnya pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Di sisi lain, Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral dengan indeks +0,44 sehingga belum memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga berada pada fase netral sehingga belum mendukung pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan lebat di Jawa Timur.

Meski demikian, BMKG mencatat masih terdapat kolam hangat di Selat Madura yang berpotensi menambah pasokan uap air di kawasan tersebut. Namun secara umum, kondisi atmosfer masih didominasi cuaca kering.

Berdasarkan analisis angin pada lapisan 3.000 kaki, angin bertiup dominan dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan mencapai 25–30 knot atau sekitar 46–56 kilometer per jam.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat angin bertiup kencang.

"Kami mengimbau masyarakat menghindari aktivitas pembakaran saat angin berhembus kencang, apalagi jika berada di dekat lahan atau hutan yang dipenuhi dedaunan kering," kata Rendy.

Selain itu, masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu, terutama menjelang masa peralihan musim.

Curated For You

Editorial Team

Related Article