Basarnas Tutup Operasi SAR KM Mutiara Sentosa II, Posko Tetap Dibuka

- Basarnas menutup operasi SAR khusus KM Mutiara Sentosa II setelah mengonfirmasi total 238 korban telah dievakuasi ke Surabaya; lima orang meninggal dunia.
- Operasi dialihkan menjadi kesiapsiagaan rutin di perairan lokasi kejadian. Keluarga yang masih mencari anggota dapat melapor ke posko Terminal GSN Pelabuhan Tanjung Perak.
- Lima kapal yang melintas membantu evakuasi. Seluruh penumpang memakai pelampung; korban meninggal diduga akibat benturan saat melompat atau kelelahan ketika naik ke kapal penyelamat.
Surabaya, IDN Times - Basarnas Republik Indonesia (RI) resmi menutup operasi gabungan SAR pencarian dan penyemalatan korban KM Mutiara Sentosa II, Selasa (4/8/2026). Meski begitu, bagi keluarga yang belum mendapati anggotanya bisa melakukan pengaduan ke posko yang berada diTerminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Kepala Basarnas RI, Marsdya TNI Mohammad Syafii mengatakan, jumlah korban yang sebelumnya 236, kini menjadi 238. Seluruhnya telah terevakuasi.
"Setelah kita konfirmasi antara dari Kesyahbandaran dengan owner yang mengoperasikan kapal Mutiara Sentosa II, hari ini dihadiri juga Bapak Wamen, kita mendapatkan data riil bahwa jumlah korban yang berada dalam kapal yaitu 238 orang," ujar Kepala Basarnas RI, Marsdya TNI Mohammad Syafii saat konferensi pers di Posko Terpadu Penanganan Penumpang KM Mutiara Sentosa II yang berada di Terminal Gapura Surya (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (4/8/2026).
Dari 238 korban, lima di antaranya meninggal dunia. Seluruh korban telah dievakuasi ke Surabaya. Korban meninggal dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya, korban luka dilarikan ke RS PHC Surabaya, dan korban sehat dibawa ke hotel untuk istirahat sementara.
Dengan dievakuasinya seluruh korban, kini Basarnas tak lagi melakukan pencarian. Operasi dialihkan dari pencarian menjadi kesiap-siagaan yang dikendalikan oleh Kepala Kantor SAR Surabaya.
"Secara resmi saya sampaikan bahwa operasi SAR secara khusus dalam penanganan kedaruratan KM Mutiara Sentosa 2 secara resmi saya alihkan kepada operasi rutin, yaitu operasi kesiap-siagaan yang dikendalikan oleh Kepala Kantor SAR Surabaya. Namun, pelaksanaan operasi rutin ini tetap akan kami fokuskan kepada perairan di mana lokasi kejadian terjadi," jelasnya.
Meski begitu, bila ada keluarga yang masih mencari anggotanya, maka tidak menutup kemungkinan operasi akan kembali dilaksanakan. "Kita semuanya berharap tidak sampai ada pengaduan adanya keluarga yang belum ditemukan. Dan andai saja ada pengaduan itu, tentunya operasi akan kita laksanakan disesuaikan dengan situasi kondisi yang ada. Kita akan buka operasi lagi untuk melaksanakan pencarian," jelasnya.
Di samping itu, Syafii menyebut, 238 korban itu dievakuasi oleh lima kapal yang sedang melintas di sekitar lokasi kejadian. Rinciannya, Kapal Meratus Pematang Siantar mengevakuasi 110 penumpang dalam kondisi selamat dan 2 dalam kondisi meninggal dunia. "Kemudian Kapal TB Hasnur mengevakuasi 62 korban dalam kondisi selamat. Kemudian Kapal SAR Permadi mengevakuasi 9 korban dalam kondisi selamat," ucapnya.
Lalu, Kapal Selaras Mas mengevakuasi 13 korban dalam kondisi selamat. KRI Nanggala, hasil transfer dari kapal-kapal yang melaksanakan evakuasi, dengan total 30 orang kondisi selamat dan 2 dalam kondisi meninggal dunia. "Kemudian yang terakhir, dari Kapal Mutiara Ferindo 1 mengevakuasi 8 korban dalam kondisi selamat dan 1 kondisi meninggal dunia," sebutnya.
Syafii memastikan, pada saat kejadian, seluruh korban menggunakan life vest atau jaket pelampung. Sehingga, ketika menceburkan diri ke laut mereka selamat. "Sehingga dari total 238 korban yang menceburkan diri ke laut, semuanya bisa kita evakuasi. Walaupun dengan berat hati, dengan kesedihan kita, ada 5 korban yang harus kita evakuasi dalam kondisi meninggal dunia," katanya.
Keberhasilan evakuasi juga berkat kesiap Siagaan kru. Kru mengarahkan seluruh penumpang untuk menjauh dari titik api dan mengenakan pelampung. Kru juga sesegara mungkin mengirim pesan meminta bantuan kepada Tim SAR yang kemudian diteruskan kepada kapal-kapal sekitar. Kapal-kapal yang melintas pun akhirnya mendekat untuk membantu korban.
"Saat ada kejadian, mungkin dengan tindakan yang dilakukan oleh kru, butuh waktu kira-kira jam 08:25 WIB broadcast secara resmi itu baru diterima oleh Basarnas. Sehingga saat itu dari Basarnas Command Center mendeclare atau mem-browse-cast informasi kepada traffic yang ada di lokasi," jelas Syafii.
Pihaknya juga memastikan bahwa korban meninggal dunia buka karena kebakar. Mereka diduga terjatuh dan mengalami benturan keras ketika lompat dari atas kapal. Ada juga yang kelelahan saat memanjat ke kapal ketika diselamatkan.
"Beberapa dari penumpang bertahan sampai akhirnya kondisi kapal miring, dan saat itulah diperkirakan korban-korban yang terakhir ini terjatuh dalam ketinggian kira-kira lebih dari 10 meter," pungkas dia.
















