Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7.425 Pesantren di Jatim Disiapkan Siaga Bencana

7.425 Pesantren di Jatim Disiapkan Siaga Bencana
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dialog soal melalui kemitraan dengan Pemerintah Australia dalam Program SIAP SIAGA. Dok. Pemprov Jatim.
Intinya Sih
  • Pemprov Jatim memperkuat kesiapsiagaan bencana lewat Program SIAP SIAGA bersama Pemerintah Australia, melibatkan desa dan pesantren karena provinsi ini memiliki 14 potensi ancaman bencana.
  • Gubernur Khofifah menekankan pentingnya relawan terlatih di setiap desa serta pengembangan konsep Pesantren Tangguh Bencana untuk melindungi ribuan santri dan tenaga pengajar di Jatim.
  • BPBD Jatim menyiapkan modul pelatihan berbasis SPAB bagi pesantren, sementara kerja sama Indonesia–Australia terus mendorong simulasi dan pelibatan komunitas lokal termasuk kelompok disabilitas dalam mitigasi bencana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mempercepat penguatan kesiapsiagaan bencana hingga ke tingkat desa dan pondok pesantren melalui kemitraan dengan Pemerintah Australia dalam Program SIAP SIAGA. Langkah ini dilakukan mengingat Jatim menjadi salah satu provinsi dengan risiko bencana paling tinggi di Indonesia, dengan 14 potensi ancaman bencana yang tersebar di berbagai wilayah.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menegaskan, kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, desa hingga kecamatan harus memiliki relawan terlatih yang mampu menjadi garda terdepan saat bencana terjadi.

"Sebuah desa tidak bisa disebut Desa Tangguh Bencana bila tidak ada relawan terlatih di kecamatan dan desa," ujarnya.

Khofifah menilai kapasitas relawan menjadi faktor kunci dalam mitigasi, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana. Ia pun mengusulkan setiap Desa Tangguh Bencana dilengkapi Lumbung Sosial sebagai pusat penyimpanan logistik dan peralatan darurat bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.

Selain desa, Pemprov Jatim mulai mengembangkan konsep Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA). Program tersebut disiapkan mengingat Jatim memiliki 7.425 pondok pesantren dengan lebih dari 486 ribu santri dan sekitar 36 ribu tenaga pengajar yang juga rentan terdampak bencana.

Khofifah meminta dilakukan pemetaan lokasi dan kondisi fisik pesantren agar mitigasi dapat disesuaikan dengan karakteristik ancaman di masing-masing wilayah. "Pesantren perlu diperkuat juga ketangguhannya dalam menghadapi bencana. Relawan dari pesantren perlu dilatih agar siap menghadapi situasi darurat," katanya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, konsep PESTANA akan mengadopsi pola Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Saat ini BPBD bersama mitra tengah menyusun modul kebencanaan dan metode pelatihan bagi lingkungan pesantren.

"Baik santri maupun pengajarnya tinggal menetap dalam waktu lama di lingkungan pesantren sehingga memiliki potensi terdampak bencana. Karena itu kapasitas mereka harus diperkuat," kata Gatot.

Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun mengapresiasi, berbagai masukan yang diberikan Pemprov Jatim. Menurutnya, pelibatan pemerintah desa, kecamatan, hingga komunitas lokal akan membuat sistem penanggulangan bencana semakin efektif.

Program SIAP SIAGA merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia yang telah berjalan di Jawa Timur sejak 2020. Fokus program ini adalah memperkuat kemampuan masyarakat dalam mencegah, menghadapi, merespons, hingga pulih dari bencana.

Sejumlah program telah dijalankan, mulai simulasi evakuasi tsunami di Pantai Bulu, Kabupaten Lumajang, hingga rencana simulasi penanganan erupsi gunung berapi di Kabupaten Malang pada awal Juli mendatang. Program ini juga mendorong pelibatan kelompok disabilitas sebagai subjek dalam upaya pengurangan risiko bencana, bukan sekadar penerima bantuan.

Pelaksana Tugas Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Will Lee mengatakan, kerja sama kebencanaan menjadi salah satu fondasi kuat hubungan Indonesia dan Australia. Menurutnya, pengalaman kedua negara saling membantu dalam berbagai penanganan bencana menunjukkan pentingnya kolaborasi menghadapi ancaman yang semakin kompleks.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More