Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Virgo Transport 8 Kecelakaan, Gapasdap Desak Pembenahan Menyeluruh
Ketum Gapasdap Khoiri Soetomo bersama pakar transportasi laut Ir Tri Achmadi. Dok. Istimewa.
  • KMP Virgo Transport 8 terbalik di perairan Masalembu setelah berlayar dari Surabaya ke Banjarmasin; hingga 17 September, 108 orang selamat, enam meninggal, dan 129 masih dicari.
  • Pakar ITS Tri Achmadi meminta penyebab tidak disimpulkan dari usia kapal saja; investigasi harus menilai desain, perawatan, kelayakan, operasional, muatan, serta cuaca.
  • Gapasdap mendesak pembenahan menyeluruh berbasis investigasi KNKT, melibatkan operator hingga pelabuhan, dengan pengawasan SOP, kompetensi kru, kapasitas, pengikatan muatan, ODOL, dan barang berbahaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
12 September 2026

KMP Virgo Transport 8 berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin dengan mengangkut 243 orang.

13 September sekitar pukul 02.00 WITA

Kapal menghadapi cuaca buruk dan hilang kontak sebelum ditemukan terbalik di perairan Masalembu.

Kamis (17/9/2026) pukul 22.00 WITA

Basarnas mengonfirmasi 114 korban ditemukan pada hari kelima operasi SAR: 108 selamat dan enam meninggal. Sebanyak 129 orang masih dicari.

Minggu (20/9/2026)

Tri Achmadi meminta publik tidak menyimpulkan usia kapal sebagai penyebab kecelakaan sebelum investigasi resmi mengungkap fakta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KMP Virgo Transport 8 ditemukan terbalik di perairan Masalembu, Laut Jawa, setelah hilang kontak saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Gapasdap mendesak pembenahan menyeluruh sistem keselamatan pelayaran.
  • Who?
    243 orang berada di kapal; Basarnas, KNKT, Gapasdap, pakar ITS Tri Achmadi, operator, regulator, pengelola pelabuhan, kru, serta badan klasifikasi terkait dalam penanganan dan evaluasi keselamatan.
  • Where?
    Kapal ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembu, Laut Jawa. Pelayaran sebelumnya berangkat dari Surabaya dengan tujuan Banjarmasin.
  • When?
    Kapal berlayar pada 12 September 2026 dan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA, 13 September 2026. Data SAR hingga Kamis, 17 September 2026 pukul 22.00 WITA mencatat 129 orang masih dicari.
  • Why?
    Penyebab kecelakaan per saat ini masih menunggu hasil investigasi resmi KNKT. Kapal dilaporkan menghadapi cuaca buruk, namun usia kapal, desain, perawatan, muatan, pengoperasian, dan prosedur keselamatan masih perlu diperiksa.
  • How?
    Basarnas menjalankan operasi pencarian; 114 korban ditemukan, terdiri dari 108 selamat dan enam meninggal. Evaluasi diminta mencakup kondisi teknis kapal, kelayakan, kapasitas, muatan, pengikatan barang, cuaca, SOP, dan kompetensi kru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kapal Virgo Transport 8 terbalik di laut dekat Masalembu saat pergi dari Surabaya ke Banjarmasin. Kapal membawa 243 orang dan cuaca sedang buruk. Sampai sekarang, 108 orang selamat, enam orang meninggal, dan 129 orang masih dicari. Banyak orang sedang mencari tahu penyebabnya. Mereka bilang keselamatan kapal dan muatan harus diperiksa lebih baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penanganan tragedi ini menunjukkan dorongan kuat untuk menempatkan keselamatan pelayaran pada dasar yang lebih menyeluruh dan berbasis data. Penekanan pada investigasi resmi, pemeriksaan teknis kapal, pengawasan muatan, kesiapan pelabuhan, serta kompetensi kru menggambarkan bahwa setiap unsur dalam ekosistem pelayaran dapat diperkuat secara terukur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Tragedi KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Masalembu, Laut Jawa, membuka kembali persoalan besar keselamatan pelayaran nasional. Pakar Transportasi Laut Nasional dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Tri Achmadi mengingatkan agar penyebab kecelakaan tidak disimpulkan hanya dari satu faktor, termasuk usia kapal, sebelum investigasi resmi mengungkap seluruh fakta.

KMP Virgo Transport 8 mengangkut 243 orang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin pada 12 September 2026. Kapal kemudian dilaporkan menghadapi cuaca buruk dan hilang kontak pada 13 September sekitar pukul 02.00 WITA sebelum ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembu.

Hingga hari kelima operasi SAR, Kamis (17/9/2026) pukul 22.00 WITA, Basarnas mengonfirmasi 114 korban telah ditemukan. Rinciannya, 108 orang selamat dan enam orang meninggal dunia. Sebanyak 129 orang lainnya masih dalam pencarian.

Di tengah proses pencarian dan investigasi, usia kapal menjadi salah satu isu yang mencuat. Namun, Tri meminta publik tidak terburu-buru menjadikan usia kapal sebagai penyebab kecelakaan. “Sebelum ada data, kita tidak bisa serta-merta menyimpulkan penyebabnya,” ujarnya, Minggu (20/9/2026).

Menurut dia, keselamatan kapal harus dilihat secara utuh dengan membedakan dua aspek besar, yakni desain kapal dan operasional kapal. Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat kapan kapal dibuat, tetapi juga bagaimana desainnya, material yang digunakan, riwayat perawatan, hasil pemeriksaan, hingga kelayakan kapal sebelum beroperasi.

“Kalau kondisinya, desainnya bagus, perawatannya bagus, umur berapa pun bisa dikatakan layak untuk dioperasikan,” katanya.

Sebaliknya, kapal yang relatif baru sekalipun tidak otomatis bebas risiko apabila desain, perawatan, pengoperasian, atau penerapan prosedur keselamatannya bermasalah.

Menurut Tri, data teknis harus menjadi pijakan utama dalam mengurai penyebab tragedi Virgo Transport 8.

Indonesia maupun Jepang, kata dia, sama-sama berada dalam sistem pelayaran yang mengacu pada standar keselamatan maritim internasional, termasuk ketentuan International Maritime Organization (IMO) dan Safety of Life at Sea (SOLAS). Persoalan keselamatan, lanjut Tri, bahkan harus ditarik lebih jauh sebelum kapal meninggalkan dermaga.

“Keselamatan itu dimulai dari pelabuhan sebetulnya,” tegasnya.

Pelabuhan bukan hanya tempat kapal bersandar, menaikkan penumpang, serta melakukan bongkar muat. Di titik inilah berbagai aspek keselamatan harus dipastikan sebelum kapal berlayar.

Mulai dari kondisi teknis kapal, kapasitas angkut, jenis dan jumlah muatan, penempatan kendaraan maupun barang, hingga sistem pengikatan muatan harus diperiksa sesuai ketentuan.

Setiap kapal memiliki batas kemampuan operasional. Karena itu, kapasitas dan karakteristik desain kapal harus berjalan seiring dengan cara kapal dimuati dan dioperasikan. “Batasan maksimum kondisi operasional inilah yang harus dikuasai,” kata Tri.

Cuaca juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Kondisi laut yang buruk harus diperhitungkan dalam pengambilan keputusan operasional karena kapal memiliki batas kemampuan menghadapi kondisi lingkungan tertentu.

Pandangan tersebut sejalan dengan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo. Ia menegaskan, hasil investigasi resmi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) harus menjadi rujukan utama untuk mengetahui penyebab kecelakaan Virgo Transport 8.

“Kita tidak bisa mendahului hasil dari investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT,” kata Khoiri.

Namun, tragedi tersebut menurutnya tidak boleh berhenti sebagai kasus kecelakaan semata. Peristiwa itu harus menjadi momentum untuk mengevaluasi keselamatan pelayaran secara menyeluruh. Khoiri menyebut kondisi ketika kecelakaan terus terjadi tanpa perubahan mendasar sebagai “arisan nasib”.

“Saya ingin harus ada pembenahan secara menyeluruh, harus ada perubahan, supaya lagi-lagi kita tidak menjalankan arisan nasib,” tegasnya.

Khoiri menambahkan, keselamatan pelayaran merupakan sebuah ekosistem. Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendiri. Operator, regulator, pengguna jasa, pemilik barang, badan klasifikasi, galangan kapal, pengelola pelabuhan, hingga sumber daya manusia di dalamnya memiliki fungsi masing-masing.

“Salah satu mata rantai lemah, maka terjadi accident,” ucapnya.

Ia mencontohkan kapal sebagai sebuah “hardware”. Kapal dengan desain dan material yang baik tetap membutuhkan “software” berupa SOP yang jelas dan dijalankan secara konsisten. Di atas semuanya, ada unsur manusia yang menentukan apakah sistem tersebut benar-benar bekerja.

Kru kapal maupun kru darat harus memiliki kompetensi dan memahami prosedur keselamatan. Sebab, kapal yang secara teknis memenuhi persyaratan tetap menghadapi risiko apabila dioperasikan tanpa kepatuhan terhadap prosedur.

Khoiri pun meminta pemeriksaan terhadap Virgo Transport 8 tidak berhenti pada pertanyaan mengenai usia kapal. Data teknis seperti general arrangement (GA), soft drawing, detail engineering design, hingga spesifikasi teknis perlu diperiksa untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai kondisi kapal.

Peran badan klasifikasi juga perlu dilihat dalam keseluruhan rantai tersebut, terutama dalam memastikan aspek teknis dan keselamatan kapal memenuhi persyaratan yang berlaku.

Menurut Khoiri, pelabuhan harus memastikan kendaraan maupun barang yang masuk ke kapal memenuhi ketentuan dimensi dan berat, termasuk mencegah praktik over dimension overload (ODOL). Penempatan dan pengikatan muatan juga harus diperhatikan karena berkaitan langsung dengan stabilitas kapal selama pelayaran.

Tak kalah penting adalah pengawasan terhadap barang berbahaya atau dangerous goods.

Pengangkutan barang berbahaya telah memiliki ketentuan melalui International Maritime Dangerous Goods (IMDG). Pemeriksaan terhadap jenis dan penanganan muatan tersebut harus menjadi bagian dari sistem keselamatan sejak kapal masih berada di pelabuhan.

“Pelabuhan sebagai pintu gerbang keselamatan,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article