Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tiga Kemungkinan Tenggelamnya KM Virgo Transport 8

Kota Surabaya
Tiga Kemungkinan Tenggelamnya KM Virgo Transport 8
Pakar Perkapalan dari Laboratorium Hidrodinamika Kapal, Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama. (IDN Times/Khusnul Hasana)
  • Pakar ITS menilai KM Virgo Transport 8 mungkin kemasukan air melalui pintu rampa, pintu kedap, jendela, atau akses ruang mesin yang tidak tertutup rapat.
  • Kemungkinan lain ialah pergeseran muatan akibat lashing tidak memadai, terutama bila kendaraan yang diangkut melebihi kapasitas kapal.
  • Ketut juga menyoroti kecocokan kapal bekas Jepang untuk laut terbuka Indonesia; penyebab pasti tetap menunggu investigasi KNKT dan penguatan penerapan ISM Code.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Pakar Perkapalan dari Laboratorium Hidrodinamika Kapal, Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama menganalisis kemungkinan penyebab kapal motor (KM) Virgo Transport 8 tenggelam. Ada beberapa kemungkinan kapal dapat tenggelam, bisa karena pintu rampa tidak tertutup rapat, bisa juga karena pergeseran muatan di ruang kargo.

Ketut mengatakan, berdasarkan laporan awal baik dari kru maupun saksi mata, kapal tersebut tidak mengalami kebocoran. Bisa saja air masuk melalui pintu rampa dan pintu kedap yang tidak tertutup rapat. "Mungkin lewat jendela, mungkin lewat pintu rampah yang tidak kedap atau ada sebagian terbuka begitu. Karena massa air yang masuk itu besar. Nah, kemudian ada bagian lain di kapal itu seperti masuk ke ruang mesin, kemungkinan terbuka air lalu masuk ke sana. Sehingga makin mempercepat (kapal tenggelam)," ujarnya ditemui di Departemen Teknik Perkapalan ITS, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, pintu pada kapal wajib ditutup rapat sesuai dengan regulasi Safety of Life at Sea (SOLAS). Kondisi pintu yang tidak tertutup rapat akan sangat fatal, kapal bisa kemasukan air bila gelombang di laut tinggi.

Kedua, kemungkinan kapal kemasukan air adalah adanya mutan yang bergeser atau cargo shift. Hal tersebut bisa disebabkan tidak digunakannya pengikat muatan atau lashing karena jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas izin berlayar. "Dan itu bisa juga terjadi, pergeseran muatan karena kapal tidak diikat atau di-lashing. Dan juga bisa juga tadi kenapa tidak di-lashing. Lashing-nya tidak cukup karena jumlah yang dimuat lebih besar dari yang seharusnya boleh dimuat di kapal," sebut dia.

Di samping dua hal tersebut, ia juga menyoroti soal asal kapal KM Virgo Transport 8, yang berasal dari Jepang. Menurutnya, secara geografis, karakteristik perairan Jepang berbeda dengan Indonesia.

Kapal di Jepang dirancang untuk transportasi perairan jarak dekat. Sementara di Indonesia, kapal tersebut digunakan pada perairan laut terbuka dengan jarak yang cukup jauh. "Jadi, yang saya pahami jadi kalau kapal untuk perairan dekat dibawa ke jauh itu harus dicek kembali. Kemungkinan tidak cocok begitu. Jadi, ini dipaksakan," terang dia.

Meski demikian, Ketut menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan itu hanyalah analisis akademis saja. Penyebab pasti kapal tersebut kecrelakaan butuh investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Itu dugaan saya bukan kesimpulan, tapi  itu perlu investigasi KNKT apakah dugaan itu betul ya,"  terang dia.

Pihaknya pun mendorong agar seluruh perusahaan kapal dan pelayaran menerapkan International Safety Management (ISM) Code secara mendalam di Indonesia. Edukasi keselamatan harus dipahami secara menyeluruh, baik oleh kru di atas kapal maupun staf operasional di darat.

"Langkah selanjutnya apa yang dilakukan.  Perlu edukasi ya, jadi edukasi kepada kru bahwa kru itu mengerti mengoperasikan kapalnya termasuk kru di darat," pungkas dia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More