Saat Dewa “Naik ke Langit”, Klenteng Hong San Ko Tee Menyucikan Diri

- Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya bersolek menyambut Tahun Baru Imlek 2577 dengan pembersihan menyeluruh.
- Pembersihan dilakukan sehari sebelum momen "naiknya" para dewa ke langit, sebagai bentuk pengabdian diri dan harapan agar hidup terasa lapang.
- Proses pembersihan dilakukan dengan hati-hati sesuai tradisi, menggunakan air teh panas atau air kembang untuk membersihkan rupang.
Surabaya, IDN Times - Kesibukan terasa di Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya, Rabu (11/2/2026) siang. Di bawah ratusan lampion merah yang menggantung rapat di langit-langit, para pengurus hilir mudik membawa ember, lap, dan kain kering. Aroma air kembang bercampur wangi kayu tua memenuhi ruang ibadah. Tahun Baru Imlek 2577 tinggal menghitung hari, dan klenteng itu sedang bersolek untuk menyambut jemaat.
Di meja altar, sejumlah rupang atau patung perwujudan Buddha diturunkan satu per satu dengan hati-hati. Seorang perempuan mengusap permukaan rupang menggunakan kain lembut yang telah dicelupkan ke dalam air. Gerakannya pelan, nyaris seperti membelai. Di sisi lain, seorang pria berdiri di dekat gerbang dalam, mengelap tiang hitam mengilap di bawah patung singa penjaga. Setiap sudut disentuh. Tak ada yang terlewat.
Rupang di klenteng itu beragam, ada yang besar menjulang di altar utama, ada pula yang kecil tersusun rapi di sudut-sudut ruangan. Semuanya dibersihkan. Tidak hanya rupang, tetapi juga lantai, dinding, meja persembahan, hingga ornamen ukiran dan lampion yang menggantung.
Pengelola Klenteng Hong San Ko Tee, Robertus, menjelaskan bahwa pembersihan ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ada tradisi yang melatarinya. Sehari sebelumnya diyakini sebagai momen “naiknya” para dewa ke langit untuk melaporkan perjalanan umat selama setahun. “Secara ritual dianggap kosong, karena mereka sudah naik ke atas untuk melaporkan semuanya. Nah, makanya kita bisa bersih-bersih. Biasanya selama setahun itu rupang tidak boleh dibersihkan sembarangan,” ujarnya.
Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk melakukan pembersihan menyeluruh. Dalam tradisi, membersihkan klenteng dimaknai sebagai bentuk pengabdian diri, menyucikan ruang sebelum memasuki tahun yang baru. Harapannya sederhana namun dalam, agar segala sesuatu terlihat terang, hidup terasa lapang, dan rezeki mengalir lebih baik.
Tak ada urutan baku dalam membersihkan rupang, apakah yang besar lebih dulu atau yang kecil. Semua dilakukan sesuai kebutuhan. Namun cara membersihkannya tidak boleh asal. Untuk rupang tertentu, air teh panas menjadi pilihan tradisional. Ada pula yang menggunakan air kembang. Jika berbahan porselen, cukup sabun lembut tanpa deterjen keras. “Intinya jangan sampai merusak. Kalau rupang retak atau pecah, itu harus dibuang. Jadi harus benar-benar hati-hati,” kata Robertus.
Jika tenaga terbatas, proses ini bisa berlangsung hingga dua hari. Namun dengan banyaknya tangan yang membantu, pembersihan dapat rampung dalam sehari. Mereka yang terlibat pun bukan orang sembarangan. Umumnya adalah pengurus dan orang-orang yang sudah lama membantu di klenteng, yang memahami tata cara serta penghormatan terhadap benda-benda suci.
“Kalau orang luar tidak bisa. Harus yang sudah biasa dan paham. Karena ini menyangkut penghormatan,” tegasnya.
Sebelum mulai bekerja, para pengurus terlebih dahulu berdoa secara pribadi. Bukan ritual panjang, melainkan permohonan izin kepada Tuhan agar proses pembersihan berjalan lancar dan membawa berkah.
“Kita minta restu supaya semuanya selamat sampai selesai. Supaya jadi berkah buat yang membersihkan,” kata Robertus.
Di sela-sela pembersihan, persiapan lain juga dilakukan. Lampu-lampu lama diganti baru. Harapannya, saat Imlek tiba, seluruh ruangan tampak lebih terang dan segar. Cahaya menjadi simbol awal yang baru, meninggalkan kesuraman dan menyambut harapan.
Waktu persiapan ini biasanya berlangsung sekitar sepekan sebelum perayaan. Setelah semuanya bersih, umat bersiap menyambut malam pergantian tahun. Pada H-1, tepat pukul 00.00, umat akan berkumpul untuk sembahyang bersama menyongsong tahun baru. Keesokan harinya, umat datang silih berganti untuk beribadah, saling berkunjung, dan mempererat kebersamaan, tradisi yang, dalam penuturan Robertus, kurang lebih serupa dengan momen silaturahmi pada hari raya agama lain.

















