Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

43 Ekor Ular Dilaporkan Masuk Pemukiman Warga Surabaya Selama 2026

ular sanca (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)
ular sanca (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)
Intinya sih...
  • BPBD Surabaya menangani 43 laporan ular masuk pemukiman warga selama Januari-Februari 2026.
  • Ular yang sering ditangani adalah jenis sanca, biasanya masuk ke rumah warga mencari makanan.
  • Faktor utama ular masuk rumah adalah sungai yang membelah kota dan kebersihan lingkungan yang buruk.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mencatat sejak Januari hingga Februari 2026 telah menangani 43 laporan ular masuk ke pemukiman warga. Laporan ular masuk pemukiman tersebut meningkat pada musim hujan.

Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya Arif Sunandar mengatakan, sepanjang tahun 2026 pihaknya menerima 81 laporan penanganan satwa, 43 di antaranya adalah laporan ular masuk pemukiman warga. "Januari 2026 ada kurang lebih 81 kejadian laporan satwa liar, satwa liar yang dilaporkan ular, buaya, iguana, biawak, monyet, anjing, kucing," ujarnya kepada IDN Times, Rabu (11/2/2026).

Ular yang kerap ditangani BPDB adalah jenis sanca. Satwa itu kerap dilaporkan berada di plafon rumah, lemari hingga kamar mandi warga. "Ditemukan di plafon, lemari, kamar mandi, dibelakang lemari, selokan, kandang ayam dan lain-lain," terangnya.

Arif menjelaskan, biasanya setelah pihaknya mengevakuasi ular dari satu rumah warga, tak lama kemudian di sekitar pemukiman akan kembali dilaporkan hal yang sama. Hal ini terjadi karena ular sekali berkembang biak, ular bisa bertelur hingga ratusan butir. "Ular sanca itu kan memang sekali bertelur itu bisa ratusan. Nggih. Jadi biasanya kalau kita menemukan ada laporan sekali itu ya di daerah itu gitu. Besok beberapa saat kaki akan ada laporan lagi di daerah itu," ungkap dia.

Faktor ular masuk rumah warga ini dikarenakan Surabaya memiliki sungai yang membelah kota, ada Kalimas dan Kali Surabaya. Ditambah lagi, makanan ular sanca adalah tikus, sehingga satwa-satwa tersebut kerap mencari makanannya hingga ke pemukiman warga dengan cara masuk melalui selokan atau saluran air.

"Tikusnya lari ke got, dikejar ke got. Masuk ke perumahan, makanya ada yang ke mandi, ada ke dalam rumah kan ngejar makanannya, makanya kita kadang menemukan di plafon, di kamar mandi," ucapnya.

Ular memang lebih sering dilaporkan saat musim hujan. Sementara, saat musim kemarau, jumlah laporannya lebih sedikit. Hal ini tak lepas dari kondisi volume air yang meningkat saat musim hujan, ular biasanya terbawa arus air hingga masuk ke pemukiman. "Air sungai kan naik ya, tinggi, itu membuat ular juga naik. Makanya kadang kalau ada genangan, kadang ada ular itu karena dia kena arus, kebawa arus," tuturnya.

Arif memastikan, hingga saat ini ular yang dievakuasi belum sampai melukai warga. Hanya saja, beberapa di antaranya dilaporkan pernah memakan hewan ternak. "Iya, alhamdulillah sih enggak ada (yang melukai Warga). Cuman ada memang ada yang pernah makan binatang ternak," ungkap dia.

Biasanya, setelah ular-ular dievakuasi dari pemukiman warga, BPBD akan menyerahkan satwa tersebut ke BKSDA. Penanganan selanjutnya dilakukan oleh BKSDA. "Iya biasanya kita serahkan ke BKSDA, kita kerjasama dengan BKSDA," jelasnya.

Arif pun mengimbau kepada masyarakat agar selalu menjaga kebersihan lingkungan. Hal ini agar tidak menjadi sarangan tikus yang merupakan makanan ular. "Makanya rumah harus dibersihkan, jangan sampai ada rimbun-rimbun gitu, karena tikus sukanya di situ, kebersihan lingkungan itu penting," pungkas dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

Dugaan Korupsi Bimtek DPRD Surabaya, Wakil Ketua Komisi B Diperiksa

11 Feb 2026, 14:48 WIBNews