Potensi Pasar Wisata di Jatim Dinilai Belum Tergarap Optimal

- Potensi pasar wisata di Jawa Timur dinilai belum tergarap maksimal karena banyak ruang komersial tradisional tidak memiliki identitas dan keunikan yang membedakan dari destinasi lain.
- Astrid Kusumowidagdo menekankan pentingnya konsep 'soul of space' yang memadukan ruang fisik, aktivitas ekonomi, dan budaya lokal sebagai pembeda utama dalam pengembangan destinasi wisata.
- Pendekatan pengembangan yang terlalu fokus pada renovasi fisik dianggap menyebabkan stagnasi, sehingga dibutuhkan strategi komprehensif untuk memperkuat kewirausahaan lokal dan menciptakan pengalaman wisata autentik.
Surabaya, IDN Times - Potensi pasar wisata di Indonesia, termasuk di Jawa Timur (Jatim), dinilai belum tergarap optimal meski jumlah pasar tradisional dan desa wisata sangat besar. Persoalan utama bukan pada kuantitas, melainkan lemahnya identitas dan keunikan yang ditawarkan.
Guru Besar Bidang Desain dan Perilaku Universitas Ciputra Surabaya, Astrid Kusumowidagdo menyebut, banyak ruang komersial tradisional berkembang tanpa diferensiasi yang jelas. Kondisi ini membuat destinasi terlihat seragam dan sulit bersaing di pasar wisata.
"Banyak ruang komersial tradisional kita berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Akibatnya terlihat serupa dan sulit bersaing sebagai destinasi wisata,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Berdasarkan penelitiannya bertajuk Discovering the Soul of Space, Astrid menekankan pentingnya “soul of space” atau jiwa tempat sebagai faktor pembeda utama. Konsep ini merujuk pada perpaduan antara ruang fisik, aktivitas ekonomi, serta budaya lokal yang hidup di dalamnya.
Data menunjukkan, dari lebih dari 16 ribu pasar tradisional di Indonesia, hanya sekitar 5 - 10 persen yang berkembang menjadi pasar wisata dengan karakter kuat. Sementara itu, dari sekitar 7 ribu desa wisata, baru sebagian yang mampu menghadirkan produk kreatif unggulan dan pengalaman khas bagi wisatawan.
Padahal, sejumlah destinasi seperti Pasar Ubud, Malioboro, hingga Pasar Terapung Lok Baintan telah membuktikan bahwa kekuatan interaksi antara ekonomi, budaya, dan kehidupan sehari-hari mampu menciptakan daya tarik wisata yang autentik.
Astrid menilai, pendekatan pengembangan yang selama ini terlalu fokus pada renovasi fisik menjadi salah satu penyebab utama stagnasi. Tanpa penguatan aktivitas, narasi lokal, dan pengalaman ruang, pasar tradisional sulit bertransformasi menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan.
"Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat, tapi pengalaman. Dan pengalaman itu lahir dari interaksi manusia, bukan sekadar desain fisik,” tegasnya.
Ia menambahkan, optimalisasi pasar wisata, termasuk di Jawa Timur, membutuhkan strategi yang lebih komprehensif, mulai dari penguatan kewirausahaan lokal, kurasi produk, hingga penciptaan keterikatan emosional antara pengunjung dan ruang.


















