Pertamax Naik, Ekonom: Pertamina Gak Kuat Tahan Harga

- Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter karena Pertamina tak lagi mampu menahan harga di bawah nilai keekonomian akibat tekanan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah.
- Ekonom Unesa Hendry Cahyono menjelaskan bahwa Pertamax adalah BBM nonsubsidi, sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar tanpa dukungan APBN atau dana talangan jangka panjang.
- Kenaikan harga ini memicu reaksi masyarakat, terutama pengguna yang sebelumnya beralih ke Pertamax, kini mulai mempertimbangkan kembali penggunaan Pertalite karena selisih harga makin lebar.
Surabaya, IDN Times - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai tak lagi bisa dihindari. Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono menyebut, keputusan tersebut merupakan konsekuensi setelah Pertamina selama beberapa bulan menahan harga Pertamax di bawah harga keekonomian.
Hendry menambahkan, selama ini Pertamina masih menggunakan dana talangan perusahaan untuk menjaga harga Pertamax agar tidak melonjak mengikuti harga pasar. Namun, skema tersebut tidak dapat berlangsung terus-menerus karena tekanan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah membuat beban perusahaan semakin besar.
"Akhirnya setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi ditahan sehingga dilepas mengikuti mekanisme pasar. Karena itu kenaikan yang sekarang terjadi cukup tinggi. Mau tidak mau Pertamax harus naik," ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Ia menegaskan Pertamax merupakan BBM nonsubsidi sehingga tidak mendapat dukungan anggaran dari APBN. Karena itu, harga jualnya memang mengikuti mekanisme pasar. "Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Karena Pertamax ini kan BBM nonsubsidi. Tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi memang murni mengikuti harga pasar," katanya.
Hendry mengingatkan, apabila Pertamina terus menanggung selisih harga tanpa melakukan penyesuaian, kondisi tersebut berpotensi menggerus keuntungan perusahaan. Dampaknya tidak hanya mengurangi kontribusi dividen kepada negara, tetapi juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap kinerja keuangan perusahaan pelat merah tersebut.
"Investor melihat rasio keuntungan dan kinerja keuangan. Kalau terus merugi, siapa yang mau berinvestasi?" katanya.
Karena itu, menurut Hendry, penyesuaian harga menjadi pilihan yang lebih realistis dibanding terus memperbesar dana talangan yang pada akhirnya juga akan membebani kondisi keuangan perusahaan.
Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax mendapatk komentar masyarakat, khususnya kalangan pekerja yang sebelumnya beralih dari Pertalite.
Salah satunya Rizal, warga Surabaya. Ia mengaku sempat rutin menggunakan Pertamax karena khawatir kualitas Pertalite dapat memengaruhi performa kendaraan. "Karena waktu itu selisih harganya enggak jauh, sekitar Rp2 ribuan," ungkapnya.
Namun, dengan selisih harga yang kini mencapai sekitar Rp6 ribu per liter dibanding Pertalite, Rizal mengaku mulai mempertimbangkan kembali pilihannya. "Sekarang ya pikir-pikir lagi beli Pertamax," pungkasnya.















