Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak 5 Tahun di Surabaya Diduga Ditelantarkan Ayah Hingga Ngemis

Kota Surabaya
Anak 5 Tahun di Surabaya Diduga Ditelantarkan Ayah Hingga Ngemis
A, bocah 5 tahun yang diduga ditelantarkan ayah hingga jadi pengemis. (Dok. Istimewa)
Intinya Sih
  • Anak berinisial A (5) di Surabaya diduga ditelantarkan ayahnya selama sekitar lima bulan, tidak bersekolah, tidur di Pasar Keputran, dan disebut dipaksa mengemis.
  • Ibu A, Agustin Arimardika, mengaku berulang kali berupaya menjemput anaknya sejak Maret 2026, tetapi ditolak mantan suami dan mengaku mengalami kekerasan saat mencoba mengambil A.
  • Setelah laporan viral, DP3APPKB Surabaya menyatakan A dan ayahnya berada di rusun serta ditangani kelurahan dan Babinsa; Agustin berencana melapor ke Satres PPA-PPO Polrestabes Surabaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Viral di media sosial seorang anak di Surabaya berinsial A (5) diduga ditelantarkan oleh sang ayah. Parahnya lagi, anak tersebut tak diberi makan hingga menjadi pengemis.

Ibu korban, Agustin Arimardika (33) mengatakan, selama ini A dibawa pergi oleh sang ayah yang merupakan mantan suami Agustin. A tidur di Pasar Keputran Surabaya dan tidak diberi kehidupan yang layak.

"Sudah lima bulan A gak sekolah dan disuruh ngemis," ujar Agustin, Jumat (31/7/2026)

Agustin menceritakan kejadian tersebut bermula pada awal Maret 2026 lalu saat sang mantan suami meminta untuk bertemu anaknya. Agustin pun mengizinkan dengan syarat bertemu di waktu libur sekolah dan sang anak bersedia.

"Anaknya nggak papa ikut beberapa hari, kalau kakaknya nggak mau ikut ayahnya. Saya berangkat kerja sekalian saya anterin ke rumahnya di Keputran awal Maret sekitar tanggal 1 atau 2," ujarnya,

Saat Agustin hendak membawa pulang kembali anaknya, keduanya sempat berdebat. Mantan suami Agustin bersedia mengembalikan A asalkan mau kembali berhungan layaknya suami istri.

"Saya nggak mau saya diusir, nggak usah jemput, katanya itu anaknya juga. Saya bilang masih kalem, ini waktunya sekolah, kalau libur bisa dibawa lagi. Nggak saya larang untuk ketemu," ucap dia.

Beberapa minggu kemudian, Agustin mendengar bahwa mantan suaminya tak bisa membayar kos dan memilih tidur di Pasar Keputran. Kabar dari saudara mantan suami, sang anak tak terurus. Agustin pun datang untuk mengambil kembali A.

"Akhirnya saya ke Pasar Keputran ambil. Nggak dibolehi, saya diajak cekcok, saya dipukuli, diludahi muka saya, saya disiram air," ungkap dia.

Mendapat perlakuan tidak baik dari mantan suami, Agustin sempat menyerah. Tapi ia mencoba lagi datang ketika lebaran dengan memberi sejumlah barang untuk sang anak. Tapi, lagi-lagi usahanya gagal.

"Saya putus asa, pikiran saya nanti ujung-ujungnya damai, pikiran saya gitu," ungkap dia.

Lama tak berkontak dengan mantan suami dan saudaranya, hari Kamis (23/7)2926) seseorang menghubungi Agustin lewat media sosial dan mengatakan kalau anaknya tak terurus serta makan mengandalkan pemberian dari orang lain.

"Saya dihubungi tetangga S (saudara mantan suami) "mbak jupuken ae anakmu, sakno aku mbak, areke jarang mangan, bapake HPan terus, bangun nggak mandi, nggak makan, makan nunggu belas kasihan orang-orang." Intinya A nunggu ada yang ngasih, kalau nggak ada yang ngasih ya nggak makan," jelasnya.

Mendengar hal itu, hati Agustin pun hancur. Ia berusaha agar sang anak bisa kembali ke tangannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke polisi dengan harapan agar kepolisian bisa membantu mengambil anaknya dari mantan suami.

"Akhirnya saya ke Polsek didampingin Babinsa, ke Pasar Keputran untuk ambil A. Sama saja, padahal sudah bawa polisi, nggak membuahkan hasil, nihil hasilnya, kekeh nggak mau kasih anaknya," terang dia.

Tak mau menyerahkan begitu saja, Agustin kemudian datang ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB ) Kota Surabaya. Sambil melapor, Agustin juga menceritakan hal ini ke media sosial.

"Dari situ, mungkin jalan Allah, akhirnya viral dan banyak yang DM. Katanya ngemis di Pasar Keputran, ngamen, ada yang bilang di daerah TP nggak bisa makan, minta-minta makan "minta makan, aku lapar" katanya anak saya. Sakit hatiku dengar gitu," sebut Agustin.

Kabar terbaru, DP3APPKB Kota Surabaya telah bertindak. A dan ayahnya telah berada di sebuah rusun dan ditangani juga oleh kelurahan dan Babinsa.

Tak mau berhenti di sini, Agustin juga berniat melaporkan suaminya ke Satres PPA-PPO Polrestabes Surabaya. Ia berharap agar sang anak bisa kembali kepadanya.

"Saya mau lapor ke PPA Polrestabes juga. Saya diarahkan polisi juga," pungkas dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More