Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menggunting Luka Trauma Keluarga demi Melanjutkan Cerita Hidup

Menggunting Luka Trauma Keluarga demi Melanjutkan Cerita Hidup
Stefani Gabriela meluncurkan buku pertamanya, Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga, di Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Intinya Sih
  • Stefani Gabriela meluncurkan buku pertamanya berjudul 'Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga' di Surabaya dengan konsep acara reflektif dan interaktif bertema penyembuhan luka batin keluarga.
  • Buku ini mengajak pembaca memahami akar trauma yang diwariskan antar generasi, bukan untuk menyalahkan orang tua, tetapi untuk memutus rantai rasa sakit melalui kesadaran dan keberanian melihat diri sendiri.
  • Stefani menegaskan bahwa proses pemulihan adalah perjalanan seumur hidup; ia mendorong generasi muda untuk berani mengakui luka, menulis kisahnya sendiri, dan menciptakan keluarga yang lebih sehat secara emosional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Suara gunting terdengar lirih. Satu per satu peserta maju membawa secarik kertas. Di atasnya tertulis sesuatu yang tak kasat mata. Rasa tidak cukup, kemarahan, ketakutan, penolakan, hingga luka masa kecil yang bertahun-tahun dipendam.

Lalu, gunting itu memotong kertas. Masalah mereka tentu tidak ikut terpotong. Tetapi, setidaknya mereka memberi nama pada luka yang selama ini diam-diam hidup bersama mereka.

Begitulah cara Stefani Gabriela memilih meluncurkan buku pertamanya, Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga, di Surabaya. Bukan sekadar bedah buku atau sesi tanda tangan. Ia mengubah peluncuran menjadi ruang curhat, ruang refleksi, sekaligus ruang untuk mengatakan bahwa menjadi terluka bukanlah akhir dari cerita.

Di tengah maraknya pembicaraan mengenai kesehatan mental di kalangan milenial dan Gen Z, Stefani justru mengajak orang menoleh lebih jauh ke belakang, ke rumah, kepada pola asuh, dan kepada luka yang sering kali diwariskan tanpa disadari.

Trauma, menurutnya, tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan besar. Kadang ia berwujud kalimat yang terus diulang sejak kecil. Tuntutan untuk selalu sempurna. Perasaan tidak pernah cukup baik. Atau kebiasaan menyimpan emosi karena sejak kecil diajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan.

Luka-luka itu tumbuh diam-diam. Lalu tanpa sadar, diwariskan lagi kepada anak-anak berikutnya. "Buku ini bukan tentang membenci keluarga atau memutus hubungan. Buku ini tentang keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri, mengenali luka yang ada, dan memilih untuk tidak meneruskan rasa sakit itu kepada generasi berikutnya, terutama kepada anak-anak kita," ujar Stefani.

Kalimat itu menjadi benang merah seluruh isi bukunya. Alih-alih menyalahkan orang tua, Stefani memilih mengajak pembaca memahami bahwa banyak orang tua pun sebenarnya pernah menjadi anak-anak yang tidak pernah diajarkan cara menyembuhkan luka mereka sendiri.

Karena itulah, buku ini terasa sangat personal. Ia lahir dari perjalanan yang tidak sebentar. Stefani mengaku proses menulis berlangsung selama Januari hingga Maret. Namun sesungguhnya, cerita di dalamnya telah ia jalani jauh sebelum tinta pertama menyentuh kertas.

"Penyelesaian buku ini tujuannya sebagai sarana merefleksikan diri saya. Dulu pembicaraan sulit itu tidak pernah terjadi. Tapi perlahan keluarga saya berubah, mulai mau mendengar dan memahami. Akhirnya ada pemulihan," katanya.

Pemulihan itu, ia tekankan, bukan garis akhir. Bahkan hingga hari ini ia mengaku belum sepenuhnya sembuh. "Sampai hari ini saya belum sepenuhnya pulih. Justru saya masih berproses. Kita terus berproses dan pulih sampai seumur hidup," ungkapnya.

Pengakuan itu justru membuat pesannya terasa lebih jujur. Tidak ada janji bahwa satu buku akan menghapus trauma. Tidak ada resep lima langkah menjadi bahagia. Yang ada hanyalah keberanian untuk mulai melihat luka sendiri tanpa menyangkal keberadaannya. Stefani percaya, kesadaran adalah langkah pertama.

"Misiku sederhana, creating the family I wish I had. Aku percaya siapa pun bisa menjadi generasi pertama yang memilih itu," katanya.

Mungkin itulah ia menamai acara peluncuran bukunya Teman Curhat. Di sana, peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka diminta menuliskan pengalaman hidup yang selama ini disimpan rapat, berbagi cerita dengan orang asing yang ternyata memiliki luka serupa, hingga mengikuti simbolisasi memotong secarik kertas sebagai tanda melepaskan beban emosional.

"Aku ingin setiap orang yang datang pulang dengan perasaan lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian," katanya.

20260614_100316.jpg
Buku Stefani Gabriela. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Di era media sosial yang dipenuhi kutipan motivasi dan solusi instan, buku Stefani justru mengambil jalan berbeda. Ia tidak menawarkan penyembuhan dalam semalam. Ia mengajak pembaca menerima bahwa healing adalah perjalanan yang panjang, sering kali melelahkan, bahkan mungkin berlangsung seumur hidup. Dan perjalanan itu selalu dimulai dari satu langkah sederhana. Berani mengakui terluka.

Stefani pun mengingatkan, setiap orang memiliki kisah yang tak bisa diceritakan siapa pun selain dirinya sendiri. "Setiap orang punya kisah. Buku ini lahir dari kisah saya. Tidak ada orang lain yang bisa menceritakan ini sebaik diri kita sendiri," tukasnya.

Ia berpesan kepada siapa pun yang ingin mulai menulis atau berdamai dengan dirinya sendiri agar tidak menunggu semuanya terasa sempurna. "Tulis saja dulu. Nanti bisa direvisi. Daripada terus overthinking," ucapnya. Sebab, seperti proses penyembuhan itu sendiri, keberanian untuk memulai sering kali jauh lebih penting daripada menunggu semuanya terasa siap.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More