Bawang Merah dan Cabai Melimpah, Jatim Deflasi 0,26 Persen pada Juli

- Jawa Timur mengalami deflasi bulanan 0,26 persen pada Juli 2026, dipicu melimpahnya pasokan hortikultura saat panen raya; inflasi tahun kalender 1,48 persen dan tahunan 2,87 persen.
- Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar setelah harganya turun 25,43 persen, diikuti cabai rawit, cabai merah, tomat, emas perhiasan, telur ayam ras, dan tarif angkutan udara.
- Kenaikan harga bensin, beras, bawang putih, daging sapi, laptop, serta biaya SD dan bimbingan belajar menahan deflasi; kelompok pendidikan diperkirakan berpotensi mendorong inflasi Agustus.
Surabaya, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Timur (Jatim) mengalami deflasi sebesar 0,26 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Turunnya harga bawang merah, cabai, hingga tomat akibat melimpahnya pasokan saat musim panen menjadi penyebab utama penurunan harga di berbagai daerah.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati mengatakan, kondisi panen raya membuat pasokan komoditas hortikultura meningkat sehingga harga di tingkat konsumen ikut terkoreksi.
"Pada Juli 2026, Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi month-to-month sebesar 0,26 persen, inflasi tahun kalender sebesar 1,48 persen, dan inflasi year-on-year sebesar 2,87 persen," ujar Herum, Selasa (4/8/2026).
BPS mencatat bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar. Harga komoditas tersebut turun hingga 25,43 persen dengan andil deflasi sebesar 0,13 persen. Selain itu, emas perhiasan juga mengalami penurunan harga sebesar 4,96 persen dengan andil negatif 0,11 persen.
Komoditas hortikultura lain turut mendorong deflasi, yakni cabai rawit yang turun 19,43 persen dengan andil 0,08 persen, cabai merah turun 28,05 persen dengan andil 0,05 persen, serta tomat yang turun 15,72 persen.
Penurunan harga juga terjadi pada telur ayam ras sebesar 5,69 persen, tarif angkutan udara 2,12 persen, daging ayam ras 1,15 persen, dan jagung manis 8 persen.
Herum menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi Juli 2026, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan harga. Sejumlah barang justru mengalami kenaikan dan menahan laju deflasi. Bensin tercatat mengalami inflasi 1,51 persen dengan andil 0,07 persen, disusul beras yang naik 0,63 persen dengan andil 0,03 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada bawang putih sebesar 4,12 persen, daging sapi 1,72 persen, laptop atau notebook 2,25 persen, biaya Sekolah Dasar 1,05 persen, dan bimbingan belajar 2,15 persen.
Menurut Herum, kenaikan harga beras, bawang putih, dan daging sapi dipengaruhi terbatasnya pasokan, penyesuaian harga di tingkat produsen maupun distributor, serta meningkatnya biaya distribusi. Sementara itu, kenaikan biaya pendidikan merupakan fenomena yang umum terjadi pada awal tahun ajaran baru.
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender Jatim hingga Juli 2026 mencapai 1,48 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 2,87 persen.
BPS memperkirakan kelompok pendidikan masih berpotensi menjadi penyumbang inflasi pada Agustus 2026 seiring penyesuaian biaya sekolah yang biasanya terjadi pada awal tahun ajaran baru.

















