Eri Ancam Copot Kadis Usai Warga Tewas di Lubang Proyek Surabaya

- Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan akan mencopot kepala dinas dan memberi sanksi berat kepada kontraktor jika terbukti lalai dalam proyek saluran air yang menewaskan warga di Margorejo Indah.
- Eri memerintahkan Inspektorat Kota Surabaya melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan ada tidaknya pelanggaran standar pengamanan proyek serta meminta laporan hasilnya dalam tiga hingga empat hari.
- Selain menyampaikan belasungkawa, Eri mengajak warga aktif melaporkan proyek pemerintah yang berpotensi membahayakan agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan kota.
Surabaya, IDN Times - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengancam mencopot kepala dinas hingga memberikan sanksi berat kepada kontraktor apabila ditemukan kelalaian dalam proyek saluran air yang menewaskan seorang pengendara motor di kawasan Margorejo Indah, Surabaya.
Korban, Laila Endriati, meninggal dunia setelah sepeda motor yang ditumpanginya terperosok ke lubang proyek saluran air di depan Plaza Marina, Jumat (12/6/2026) malam.
Usai pulang dari ibadah haji, Eri langsung mendatangi rumah duka di Jalan Kawatan VII, Bubutan, Sabtu (13/6/2026) malam. Di hadapan keluarga korban, ia menyampaikan permohonan maaf atas nama Pemerintah Kota Surabaya sekaligus menegaskan tidak akan mentoleransi kelalaian dalam pelaksanaan proyek pemerintah.
"Ini peringatan keras saya buat kontraktor dan kepala dinas. Hari ini cuti saya sudah berakhir. Saya akan cek dokumen RKS, bagaimana pengamanan proyeknya. Kalau pengamanan tidak dilakukan dan dinas diam saja, saya beri sanksi seberat-beratnya," tegas Eri.
Eri mengatakan hasil penelusuran awal menunjukkan lokasi proyek memang telah dipasangi pembatas. Namun, pemasangannya tidak rapat sehingga masih terdapat celah yang diduga menjadi jalur masuk sepeda motor korban hingga akhirnya terperosok ke dalam galian.
Ia memerintahkan Inspektorat Kota Surabaya melakukan investigasi menyeluruh untuk mengusut ada tidaknya pelanggaran standar operasional pengamanan proyek. Tak hanya kontraktor, Eri memastikan pejabat di lingkungan Pemkot Surabaya juga akan dimintai pertanggungjawaban apabila terbukti lalai melakukan pengawasan.
"Saya tunggu hasil investigasi Inspektorat tiga sampai empat hari ke depan. Kalau memang dinasnya tidak menjalankan tugas pengawasan sesuai aturan, saya copot kepala dinasnya. Saya ingin tahu siapa yang bertanggung jawab, apakah pimpinan proyek atau kepala dinas," katanya.
Menurut Eri, pembangunan infrastruktur untuk mengatasi banjir memang harus terus berjalan. Namun, proyek pemerintah tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat. "Pembangunan boleh jalan, tapi tidak boleh mengorbankan nyawa warga Kota Surabaya," tegasnya.
Eri juga mengungkapkan duka mendalam karena korban bukan orang asing baginya. Almarhumah diketahui masih memiliki hubungan keluarga dan merupakan sosok yang dikenalnya sejak kecil di Kampung Kawatan.
"Kampung Kawatan ini keluarga besar saya. Saya lahir di sini. Yang ikut membesarkan saya ya Mbak Endri dan Cak Sera. Karena itu saya datang bukan sekadar bersalaman, tapi ikut mendoakan dan bertemu keluarga," ucapnya.
Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, Eri meminta masyarakat aktif melaporkan proyek-proyek pemerintah yang dinilai membahayakan atau tidak dilengkapi rambu pengaman.
"Saya mohon bantuan warga. Kalau melihat proyek yang tidak ada pengaman atau penandanya, segera laporkan ke hotline saya. Jangan sampai kami baru bergerak setelah ada korban," pungkasnya.















