Pagi yang Fitri di Jantung Kota Surabaya

- Ribuan warga Muhammadiyah memadati Jalan Pahlawan Surabaya untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 2026 di depan Kantor Gubernur Jawa Timur dengan suasana khidmat dan penuh kebersamaan.
- Khotbah disampaikan oleh Thoat Stiawan yang mengajak umat menjadikan Idul Fitri sebagai momentum membangun peradaban bersih, berpedoman pada Al-Qur’an, serta meneladani Rasul dalam kehidupan sehari-hari.
- Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan penetapan hari raya serta mendorong umat berperan aktif memperbaiki kondisi bangsa melalui ikhtiar dan doa.
Surabaya, IDN Times - Pagi itu, Jalan Pahlawan Surabaya berubah wajah, Jumat (20/3/2026). Hamparan aspal yang biasanya dipenuhi kendaraan, kini tertutup rapi oleh sajadah berwarna-warni. Di bawah langit yang cerah berbalut awan tipis, ribuan warga Muhammadiyah duduk berbaris, bersiap menunaikan Salat Idul Fitri di depan Kantor Gubernur Jawa Timur.
Takbir menggema sejak pagi, bersahut-sahutan dari pengeras suara yang tetap digunakan sepanjang pelaksanaan salat. Suaranya mengalun kuat, menyatu dengan khidmatnya suasana, menciptakan getaran spiritual yang terasa hingga ke sudut-sudut jalan.
Jemaah datang dari berbagai penjuru kota. Ada yang berjalan kaki bersama keluarga, ada pula yang membawa anak-anak kecil, bahkan lansia yang tetap antusias mengikuti ibadah tahunan ini. Di barisan depan, para pria mengenakan baju koko dan peci, sementara di sisi lain, jemaah perempuan dengan mukena berwarna lembut duduk berjejer rapi.
Di tengah kekhusyukan itu, khotbah disampaikan oleh Thoat Stiawan, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Surabaya sekaligus Dekan Fakultas Studi Islam & Peradaban UMSURA. Dalam pesannya, ia mengajak umat untuk menjadikan Idulf Fitri sebagai momentum membangun peradaban yang bersih dan bermakna.
“Agama ini adalah nasihat, yang mengajak manusia kembali kepada Allah, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, serta meneladani Rasul dalam setiap perilaku,” ujarnya di hadapan ribuan jemaah.
Thoat juga menyinggung pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan penetapan hari raya. Menurutnya, perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan bagian dari dinamika pemahaman keagamaan yang harus dihormati.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, ia mengingatkan bahwa umat memiliki peran, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Ketika memiliki kemampuan, umat didorong untuk berikhtiar memperbaiki kondisi, termasuk dalam menghadapi tantangan ekonomi. Namun ketika tidak mampu, doa menjadi kekuatan yang tak kalah penting.
Salat Idul Fitri di Jalan Pahlawan itu pun tak sekadar ritual tahunan. Ia menjelma menjadi ruang kebersamaan. Tempat ribuan orang melebur dalam satu saf, menanggalkan sekat sosial, dan kembali pada fitrah. Di akhir pelaksanaan, jemaah saling bersalaman. Senyum, pelukan, dan ucapan maaf mengalir hangat, menutup pagi yang penuh makna di jantung Kota Surabaya.


















