Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mahasiswa ITS Ciptakan Pestisida Teknologi Nano, Tahan Hujan dan UV

Mahasiswa ITS Ciptakan Pestisida Teknologi Nano, Tahan Hujan dan UV
ITS saat meneliti pestisida teknologi nano. (Dok. Humas ITS)
Intinya Sih
  • Mahasiswa ITS Surabaya mengembangkan pestisida nano bernama DNF@S-MSN-CS yang tahan terhadap hujan dan sinar UV untuk meningkatkan efektivitas pestisida dinotefuran.
  • Inovasi ini menggunakan kitosan sebagai pelapis dan silika sebagai pembawa bahan aktif, menghasilkan partikel halus yang lebih merata serta melekat kuat pada tanaman.
  • Teknologi ini dinilai berpotensi menekan penggunaan pestisida kimia, mendukung pertanian berkelanjutan, dan diharapkan dapat dikembangkan hingga tahap komersial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Surabaya menciptakan pestisida berbasis teknologi nano. Pestisida ini dirancang tahan hujan dan paparan sinar UV.

Inovasi dari Fakultas Vokasi ITS ini bernama DNF@S-MSN-CS. Pestisida tersebut dibuat untuk menjawab tantangan efektivitas pestisida dinotefuran yang mudah larut air hujan dan menurunkan kinerja karena paparan sinar matahari.

Peneliti DNF@S-MSN-CS Putri Mulia Hafiy Dzikrullah memaparkan bahwa pestisida jenis dinotefuran masih memiliki sejumlah keterbatasan. Selain mudah rusak akibat paparan sinar UV, pestisida juga rentan tercuci oleh air hujan sehingga mengurangi efektivitasnya. “Kondisi tersebut diperparah dengan pelepasan bahan aktif yang cenderung berlangsung secara tidak terkontrol,” ujar Fide, Rabu (1/7/2026).

Sebagai jawaban akan tantangan tersebut, DNF@S-MSN-CS memodifikasi bahan aktif pestisida di pasaran dengan formulasi nano. Fide menyebutkan bahwa salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penggunaan kitosan sebagai coating serta silika sebagai pembawa bahan aktif.

“Struktur ini dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap paparan UV dan air hujan,” lanjut mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) ITS ini.

Selain itu, lanjut Fide, bentuk formulasi dibuat dalam partikel halus menyerupai pasir. Menurut Fide, hal ini memungkinkan distribusi bahan aktif lebih merata dan lebih melekat di tanaman. Dengan pendekatan ini, satu kali penyemprotan dapat memberikan efektivitas yang lebih optimal dibandingkan formulasi konvensional.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur Ari Ika Sari SP MAgr menyampaikan antusiasmenya terhadap inovasi ini. Ia menilai inovasi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan pestisida. “Minimnya penggunaan pestisida tentu dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan,” ungkap Ari.

Selain untuk pestisida, Ari menilai teknologi nano memiliki peluang pemanfaatan yang lebih luas di sektor pertanian. Ari menjelaskan bahwa konsep serupa berpotensi diterapkan pada agen pengendali hayati hingga zat pengatur tumbuh tanaman. Dengan pengembangan smart nano pesticide delivery system tersebut, diharapkan dapat lahir solusi pengendalian hama yang lebih efisien sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

Sementara itu, dosen pembimbing penelitian Nurul Faizah STrT MT menyampaikan bahwa pengembangan inovasi tersebut juga sejalan dengan identitas pendidikan vokasi yang menekankan penerapan ilmu. Faizah, sapaan akrabnya, berharap penelitian ini tidak berhenti pada tahap laboratorium saja, melainkan dapat dilanjutkan menuju uji komersial.

“Hal ini bertujuan supaya hasil riset dapat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” harap dosen DTKI ITS ini.

Tak hanya meningkatkan efektivitas pengendalian hama, teknologi ini juga berpotensi mengurangi dampak penggunaan bahan kimia terhadap lingkungan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah

Latest News Jawa Timur

See More