Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

KontraS Ungkap ada Mobilisasi Massa Pemicu Ricuh Demo di Grahadi

KontraS Ungkap ada Mobilisasi Massa Pemicu Ricuh Demo di Grahadi
KontraS Surabaya saat konferensi pers di Surabaya, Selasa (30/6/2026). (IDN Times/Khusnul Hasana)
Intinya Sih
  • KontraS Surabaya mengungkap adanya dugaan mobilisasi massa berusia belasan tahun yang memicu kericuhan dalam aksi demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi pada 26 Juni 2026.
  • Tim KontraS memantau sekelompok orang menerima sesuatu dari empat pria berpakaian hitam sebelum bergabung ke titik aksi, lalu hilang dari pantauan menjelang maghrib.
  • Aksi bertajuk #SurabayaSekarat awalnya damai dengan 11 tuntutan sosial-ekonomi, namun berujung ricuh hingga polisi membubarkan massa dan menangkap 24 orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Kota Surabaya mengungkap adanya mobilisasi massa yang diduga pemicu ricuh dalam aksi Demonstran di Depan Gedung Negara Grahadi pada Jumat (26/6/2026) lalu.

Tim Advokasi KontraS Surabaya, Zaldi Maulana mengatakan, berdasarkan pantauan KontraS, sekelompok massa tersebut berusia sekitar belasan tahun. Mereka datang saat massa aksi masih perjalanan menuju titik aksi.

"Sekitar pukul 16.10 WIB, sembari massa masih dalam perjalanan menuju titik aksi , Tim Pemantau KontraS Surabaya melihat sekelompok orang berjumlah 10 orang duduk di sepanjang jalan di depan Kantor Pos Indonesia," ujarnya saat konferensi pers di Surabaya, Selasa (30/6/2026).

Tak berapa lama, sekitar 30 menit kemudian datang empat orang laki-laki dengan ciri-ciri bertubuh tegap berkapain serba hitam mendatangi 10 orang kelompok tersebut. Mereka datang seperti memberi pengarahan singkat.

"Salah satu pria bertopi hitam dari kelompok itu tampak memberikan sesuatu ke dalam saku masing-masing anggota kelompok, satu per satu," ucapnya.

Sementara salah satu dari empat pria bertubuh tegap tersebut tampak mendokumentasikan peristiwa itu, seolah-olah merekam bukti atas sebuah serah-terima atau transaksi.

"Setelah memberikan benda tersebut, keempat pria itu meninggalkan kelompok 10 orang tersebut dan duduk di lokasi yang tidak jauh dari tempat itu," terang dia.

Kemudian, sekitar pukul 16.40 WIB, tepat massa aksi tiba di depan Gedung Negara Grahadi untuk melakukan orasi serta pembacaan puisi, kelompok massa yang sebelumnya menunggu di Taman Apsari langsung merapat menuju titik aksi.

"Dia berada di samping kiri. Kami terus melakukan melakukan pemantauan kepada 10 orang tersebut karena apa ya indikasinya sudah kuat ya di awal," jelasnya.

Menjelang makhrib 10 orang tersebut hilang dari pemantauan KontraS. Pantauan terakhir, 10 orang tersebut berada di bawah jembatan penyebrangan orang (JPO) atau sisi timur gerbang Gedung Negara Grahadi.

"Di situ ada ada masa aksi yang sedang melakukan bukan ini ya bermain bola kemudian bergeser ke situ dan kami sudah tidak menemukan lagi," ungkap Zaldi.

KontraS menduga, 10 orang yang diduga dimobilisasi ini adalah massa yang datang untuk memprovokasi dan menyebabkan kericuhan.

"Itu yang temuan kami di awal yakni adanya aktivitas mencurigakan yang kami duga sebagai adanya mobilisasi massa untuk memprovokasi adanya kericuhan seperti itu," pungkasnya.

Sekadar diketahui, ratusan massa yang tergabung dalam aksi "Warga Surabaya Turun ke Jalan" di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/6/2026). Demonstrasi bertajuk #SurabayaSekarat membawa 11 poin tuntutan soal turunkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga BBM. mereka juga membawa banner dengan gambar karikatur mirip Presiden Prabowo itu bertuliskan "Prabowo Kowarso Kowarso", "Gendarseng", "Lemes", "Longor."

Bener berukuran 1,5 meter kali 4 meter itu tersebut dipasang di jembatan penyebrangan Jalan Gubernur Suryo.

Massa yang didominasi kalangan muda itu tiba di lokasi sekitar pukul 16.20 WIB setelah melakukan long march dari kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel), Jalan Pemuda. Mereka mengenakan pakaian kasual dan sebagian besar menggunakan penutup wajah.

Massa kemudian melingkar dan satu persatu melakukan orasi. Mereka juga nampak membakar baju bekas yang dibawa dari rumah.

Aksi yang awalnya berjalan damai ini berujung ricuh. Polisi kemudian membubarkan massa dengan membentuk barikade dan mobil bara kuda. Massa aksi dipukul mundur hingga ke arah ujung Timur Jalan Gubernur Suryo.

Polisi kemudian menangkap 24 orang. 4 orang diterapkan tersangka atas dugaan pengerusakan fasilitas umum, 6 orang positif narkoba dan sisanya dibebaskan.

Dalam demonstrasi tersebut, massa menyampaikan 11 tuntutan kepada pemerintah, yakni:

1. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.

2. Menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

3. Mencabut UU Polri dan UU TNI.

4. Menciptakan lapangan kerja yang layak.

5. Membubarkan Komando Teritorial serta menghentikan keterlibatan TNI dalam ranah sipil.

6. Menghentikan proyek reklamasi Surabaya Waterfront Land.

7. Membebaskan seluruh tahanan politik serta memulihkan nama baik mereka.

8. Memprioritaskan anggaran pendidikan dan kesehatan.

9. Mewujudkan transportasi umum yang layak, inklusif, dan gratis.

10. Membubarkan parlemen dan membangun kuasa rakyat.

11. Mengakhiri kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi.

Share Article
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More