Ekonomi Lesu, Penjual Bendera Cuma Dapat Separuh dari Omset Tahun Lalu

- Penjualan bendera dan pernak-pernik merah putih di Wonokromo, Surabaya, turun hingga 50 persen dibanding tahun lalu, meski momen HUT RI biasanya menjadi andalan pedagang musiman.
- Rini mencatat omzet tahun lalu mencapai Rp50 juta, sedangkan tahun ini tinggal separuh; pembeli dari kantor, sekolah, dan kampung mulai berkurang pada pertengahan Agustus.
- Pedagang menilai penurunan dipengaruhi belanja marketplace, kondisi ekonomi, PHK, dan bertambahnya penjual; stok tersisa akan disimpan untuk dijual kembali tahun depan.
Surabaya, IDN Times - Di beberapa titik, upacara penurunan bendera telah selesai dilaksanakan, sang saka merah putih sudah turun dari tiang-tiang, Senin (17/8/2026) sore. Tetapi di sudut lain, di sebuah gang Jalan Wonokromo Surabaya sederet pedang bendera masih menanti pembeli.
Rini (43) sibuk menata pernak pernik merah putih di sebuah lapak kecil non-permanen. Meski tak terlihat ada orang yang mampir, dia tetap tersenyum kepada siapa saja yang lewat di depan lapaknya. Tak setiap bulan Rini menjajakan bendera di lapak itu. Bila momen kemerdekaan berakhir, Rini beralih berdagang makanan dan minuman.
Momen Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) adalah yang paling ia tunggu. Karena pendapatannya dari berjualan bendera musiman meningkat. Tetapi, tidak untuk tahun ini
Tahun ini, Rini merasa tak bisa sesumringah Agustus tahun lalu, dagangannya kini lesuh. Penjualannya menurun hingga 50 persen. "Tahun lalu itu kalau omset keseluruhan bisa mencapai Rp50 juta, tahun ini separuhnya," ujar Rini ditemui IDN Times.
Pembeli Rini biasanya datang dari perkantoran, sekolah hingga warga perkampungan. Dagangannya mulai ramai dari akhir bulan Juli sampai awal Agustus. "Sekarang (di pertengahan Agustus, pembeli) mulai menurun, sekarang yang dicari pernak pernik untuk karnaval, menghias panggung," jelasnya.
Penurunan terjadi bukan hanya di tahun ini saja, tetapi dua tahun yang lalu juga demikian. Fenomena tersebut berulang setiap dua tahun. "Kalau tahun kemarin ramai, tahun berikutnya menurun, tahun berikutnya meningkat lagi. Tahun depannya menurun, jadi kemungkinan ada yang punya (bendera) dicuci lagi," kata dia.
Menurutnya, penurunan ini terjadi karena banyak masyarakat yang membeli bendera lewat marketplace. Di sisi lain, ia merasa penurunan penjualan juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi saat ini. "Tahun ini kebanyakan menurun ya ekonominya, jadi tidak hanya jualan bendera saja, jual makanan pun banyak yang bilang kalau penjualan (menurun), karena kan dampak phk, banyak penjual, tambah tahun penjual bertambah, itu juga mempengaruhi," ungkap dia.
Di sebrang tempat jualan Rini, nampak Mulyati (50) sedang bersandar di lapak permanenya menunggu pembeli. Kain-kain merah putih tersusun rapi di raknya. Kain itu juga menunggu pemilik baru.
Tumpukan bendera hingga umbul-umbul tersebut dijual Mulyati ke para pedagang musiman. Beberapa pembeli juga datang dari luar Kota pahlawan. "Iya (jual grosir), (jualan juga) iya," ungkapnya.
Di lapak yang hanya berukuran dua kali satu meter itu, Mulyati dan suami menjahit sendiri bendera-benderanya. Tapi, sore itu mesin jahit di ruangan kecilnya membisu, tak ada suara kesibukan yang menderu.
Sama dengan Rini, tahun ini penjualan bendera di tempat Mulyati juga turun hingga separuh "Penjualan menurun dari tahun-tahun sebelumnya, 50 persen," ujarnya.
Meski tanggal 17 Agustus akan segera berakhir, Mulyati, Rini serta belasan pedagang bendara lainnya di kawasan tersebut masih berharap ada keajaiban. Mereka menunggu pembeli akan datang silih berganti. "Kalau masih banyak (dagangannya) saya simpan dengan baik, saya jual tahu depan lagi," tutup Rini.



















