Anak Demam usai Imunisasi? Dokter Spesialis: Itu Tanda Vaksin Bekerja

- dr. Deddy Iskandar menjelaskan bahwa demam ringan atau nyeri setelah imunisasi adalah reaksi normal dan menandakan vaksin sedang bekerja membentuk kekebalan tubuh anak.
- Imunisasi penting karena melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya seperti TBC, difteri, polio, campak-rubella, hingga HFMD serta mencegah komplikasi serius dan kematian.
- Orang tua diimbau tidak menunda jadwal imunisasi karena cakupan vaksinasi tinggi membantu memutus rantai penularan penyakit dan menjaga perlindungan optimal bagi masyarakat.
Surabaya, IDN Times – Efek samping seperti demam ringan, kemerahan, atau nyeri di bekas suntikan masih menjadi alasan sebagian orang tua ragu memberikan imunisasi kepada anak. Padahal, reaksi tersebut merupakan kondisi normal dan manfaat vaksin jauh lebih besar karena mampu melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya.
Dokter Spesialis Anak RS Premier Surabaya, dr. Deddy Iskandar mengatakan, vaksin diberikan saat anak dalam kondisi sehat agar tubuh membentuk kekebalan sebelum terpapar virus atau bakteri penyebab penyakit.
"Vaksin bekerja layaknya sabuk pengaman saat berkendara. Fungsinya bukan untuk mengobati penyakit, melainkan memberikan perlindungan apabila suatu saat anak menghadapi risiko terpapar virus atau bakteri penyebab penyakit," ujarnya, Selasa (30/6/2026).
dr. Deddy menerangkan, pada masa pertumbuhan sistem kekebalan tubuh anak belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan mengalami infeksi. Melalui imunisasi, tubuh dikenalkan pada kuman yang telah dilemahkan atau bagian tertentu dari kuman sehingga mampu membentuk antibodi.
Perlindungan tersebut dapat menurunkan risiko penyakit berat, komplikasi, kecacatan permanen hingga kematian akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi.
dr. Deddy mencontohkan sejumlah penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi, seperti Hepatitis B, tuberkulosis (TBC), difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, polio, campak-rubella, pneumonia, meningitis, influenza, rotavirus penyebab diare berat, gondongan, cacar air, Hepatitis A, tifus hingga Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD).
Ia pun menegaskan, keluhan setelah imunisasi seperti demam ringan, kemerahan, atau nyeri di lokasi suntikan tidak perlu dikhawatirkan. Reaksi tersebut umumnya hanya berlangsung satu hingga dua hari dan menjadi tanda sistem kekebalan tubuh sedang membentuk perlindungan.
"Masyarakat tidak perlu khawatir. Reaksi tersebut normal dan dapat ditangani sesuai anjuran dokter. Sebaliknya, risiko apabila anak tidak mendapatkan vaksin jauh lebih besar dibandingkan efek samping ringan tersebut," katanya.
Selain melindungi anak, imunisasi juga berperan memutus rantai penularan penyakit di masyarakat. Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin kecil peluang penyakit menyebar kepada kelompok rentan seperti bayi, lansia, maupun orang dengan daya tahan tubuh rendah.
dr. Deddy mengimbau orang tua tidak menunda jadwal imunisasi hanya karena anak terlihat sehat atau khawatir terhadap efek samping. Jika ada jadwal yang terlewat, dokter dapat menyusun imunisasi kejar agar perlindungan anak tetap lengkap.
"Setiap vaksin yang diberikan adalah langkah kecil yang membawa manfaat besar bagi masa depan anak. Jangan menunggu sampai anak sakit untuk mulai melindunginya. Lengkapi imunisasi sesuai jadwal agar anak mendapatkan perlindungan yang optimal," pungkasnya.

















