Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kronologi Ricuh Demo Grahadi Versi Polisi

Kronologi Ricuh Demo Grahadi Versi Polisi
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan. Dok. Istimewa.
Intinya Sih
  • Polrestabes Surabaya menyebut aksi #IndonesiaSekarat di depan Grahadi berubah anarkis, sehingga dilakukan pembubaran dan penangkapan terhadap puluhan orang yang dianggap bukan demonstran melainkan perusuh.
  • Kapolrestabes Luthfie Sulistiawan menjelaskan massa datang di luar jam kerja, mengabaikan imbauan bubar, lalu memicu kericuhan dengan pelemparan batu, petasan, hingga bom molotov ke arah petugas.
  • Polisi menggunakan water cannon untuk memadamkan api dan membubarkan massa secara bertahap, serta menahan 24 orang sambil menganalisis ponsel mereka guna menelusuri dugaan pengorganisasi aksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times – Polrestabes Surabaya membeberkan kronologi versi kepolisian terkait aksi demonstrasi #IndonesiaSekarat yang berujung ricuh di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (26/6/2026). Polisi menilai aksi tersebut telah bergeser menjadi tindakan anarkis sehingga dilakukan pembubaran dan penangkapan terhadap puluhan orang.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan menegaskan, pihaknya tidak menganggap kelompok tersebut sebagai demonstran, melainkan perusuh. Menurutnya, aksi digelar di luar jam kerja sehingga dinilai tidak memiliki tujuan menyampaikan aspirasi kepada pejabat pemerintah.

"Kami sampaikan kepada seluruh warga Kota Surabaya bahwa kemarin telah terjadi aksi anarkis oleh perusuh. Saya katakan perusuh, bukan pendemo, karena sebenarnya tidak ada aspirasi yang disampaikan. Mereka datang sekitar pukul 16.30 WIB, sudah bukan jam kerja. Mau bertemu siapa?" ujarnya, Minggu (28/6/2026).

Luthfie juga menyoroti ajakan yang beredar di media sosial sebelum aksi berlangsung. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, terdapat ajakan bermain sepak bola di Jalan Gubernur Suryo, tepat di depan Grahadi, yang menurutnya tidak masuk akal karena lokasi tersebut merupakan jalan raya.

Sebelum situasi memanas, polisi mengklaim telah beberapa kali mengimbau massa secara persuasif agar membubarkan diri setelah melewati batas waktu penyampaian pendapat di muka umum. Namun, imbauan tersebut disebut tidak diindahkan.

Menurut Luthfie, situasi berubah ketika sebagian massa mulai melakukan provokasi dengan melempar batu, petasan, hingga bom molotov ke arah petugas. Di saat yang sama, sejumlah pengendara motor disebut datang sambil membunyikan knalpot keras untuk memancing emosi massa.

"Kemudian terjadi provokasi. Mulai ada pelemparan batu, petasan, molotov, lalu datang motor yang blayer-blayer sehingga situasi semakin memanas," katanya.

Polisi juga mengaku telah mengidentifikasi kelompok tertentu yang dianggap berpotensi memicu kericuhan. Berdasarkan rekaman kamera pengawas dan dokumentasi di lapangan, mereka disebut mengenakan hoodie, penutup kepala, serta masker untuk menutupi identitas.

"Dari rekaman video terlihat ada kelompok yang memakai hoodie, penutup kepala, dan masker. Ciri-ciri seperti itu menjadi perhatian kami karena beberapa orang yang diamankan memiliki karakteristik yang sama," ujarnya.

Meski demikian, Luthfie menegaskan aparat tetap mengedepankan tindakan yang disebutnya terukur saat membubarkan massa. Water cannon, kata dia, digunakan untuk memadamkan api yang muncul di depan Grahadi, sementara personel di lapangan hanya melakukan pendorongan secara bertahap hingga massa membubarkan diri.

"Kami menggunakan water cannon untuk memadamkan api. Sedangkan pembubaran massa dilakukan secara bertahap dengan mendorong perlahan hingga mereka meninggalkan lokasi," katanya.

Usai aksi dibubarkan, polisi menangkap 24 orang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Seluruh telepon genggam yang dibawa peserta aksi turut dianalisis sebagai bagian dari penyelidikan guna menelusuri dugaan adanya pihak yang mengorganisasi aksi tersebut.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More