Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Krisis Air Bersih di Ngawi Meluas, 164 KK Bertahan dengan Air Keruh
Krisis air bersih di Ngawi meluas, seratus KK lebih bertahan dengan air keruh. IDN Times/Riyanto.
  • Kemarau hampir tiga bulan memicu krisis air bersih di Desa Karangtengah Prandon dan Kenongorejo, Ngawi, dengan total 164 KK terdampak setelah sumur-sumur mengering.
  • Warga mencari air keruh dari rembesan dasar sungai dan kawasan hutan; sebagian harus menempuh perjalanan hingga 4 kilometer, bahkan bolak-balik dua kali sehari.
  • Warga mengaku belum menerima bantuan air bersih, sementara kemarau juga mulai mengeringkan sebagian lahan pertanian dan mengganggu kebutuhan rumah tangga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ngawi, IDN Times Musim kemarau yang berlangsung hampir tiga bulan mulai memicu krisis air bersih di Kabupaten Ngawi. Sedikitnya 164 kepala keluarga (KK) di dua desa terdampak harus bertahan dengan air keruh setelah sumur-sumur mereka mengering.

Warga bahkan rela menempuh perjalanan hingga beberapa kilometer untuk mendapatkan air yang digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

1. Sebanyak 164 KK terdampak, sumur mengering selama tiga bulan

Krisis air bersih di Ngawi meluas, seratus KK lebih bertahan dengan air keruh. IDN Times/Riyanto.

Krisis air bersih terjadi di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, dan Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin. Di Karangtengah Prandon, sebanyak 60 KK terdampak setelah sumur warga mengering.

Sementara itu, di Desa Kenongorejo, sebanyak 104 KK mengalami kondisi serupa. Hampir seluruh sumur di desa tersebut tidak lagi mengeluarkan air akibat kemarau yang berkepanjangan.

2. Warga masuk hutan dan menggali dasar sungai demi mendapatkan air

Krisis air bersih di Ngawi Meluas, seratus KK lebih bertahan dengan air keruh. IDN Times/Riyanto.

Untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, hingga mencuci, warga terpaksa mencari sumber air yang masih tersisa. Di Karangtengah Prandon, warga berjalan kaki menyusuri perbukitan menuju dasar sungai yang mulai mengering dan mengambil rembesan air dari lubang-lubang kecil.

Sedangkan warga Kenongorejo harus menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer ke kawasan hutan menggunakan sepeda motor. Mereka bahkan bolak-balik hingga dua kali sehari untuk mengangkut air ke rumah.

"Airnya harus diambil sedikit-sedikit karena keruh. Sumur sudah kering sejak tiga bulan tidak ada hujan," ujar Sutini, salah seorang warga.

3. Belum ada bantuan, warga berharap pasokan air bersih segera datang

Krisis air bersih di Ngawi meluas, seratus KK lebih bertahan dengan air keruh. IDN Times/Riyanto.

Hingga kini, warga mengaku belum menerima bantuan air bersih. Kondisi itu memaksa mereka tetap menggunakan air yang kualitasnya kurang layak untuk kebutuhan sehari-hari.

"Di sini ada empat sumur dan semuanya kosong. Ada 104 KK yang krisis air bersih, sampai sekarang belum ada bantuan," kata Supari, warga Desa Kenongorejo.

Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kemarau juga mulai mengeringkan sebagian lahan pertanian. Meski begitu, sebagian petani masih berupaya mempertahankan tanamannya dengan memanfaatkan sisa sumber air yang tersedia.

Warga berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih agar aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan normal selama musim kemarau masih berlangsung.

Curated For You

Editorial Team

Related Article