Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kreatif! Warga Ngawi Gunakan Arisan Telur untuk Kejar Target Zero Stunting

Kreatif! Warga Ngawi Gunakan Arisan Telur untuk Kejar Target Zero Stunting
Arisan telur, cara sederhana warga Ngawi penuhi protein. IDN Times/Istimewa.
Intinya Sih
  • Warga Ngawi menjalankan program arisan telur di posyandu sebagai cara sederhana memenuhi kebutuhan protein hewani dan mendukung target penurunan stunting melalui Program PASTI.
  • Inisiatif ini berdampak positif bagi ibu hamil berisiko KEK, membantu meningkatkan berat badan, nafsu makan, serta kondisi kesehatan berkat pendampingan kader dan variasi menu bergizi.
  • Kegiatan posyandu dikemas kreatif lewat kelas edukasi, permainan, dan praktik memasak, membuat warga lebih antusias hadir serta menunjukkan tren perbaikan gizi dan pertumbuhan anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ngawi, IDN Times – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Ngawi terus dilakukan dengan berbagai inovasi. Salah satu yang menarik perhatian pada desa dampingan ke-3 yaitu program “arisan telur” di posyandu desa dampingan Program PASTI. Cara sederhana ini terbukti mampu meningkatkan asupan gizi warga, terutama ibu hamil dan balita.

Program ini menjadi bagian dari Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), sebuah kolaborasi antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, dan PT Bank Central Asia Tbk, yang diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia serta didukung Yayasan Cipta. Program ini menargetkan percepatan pencegahan dan penurunan stunting hingga 2027.

Stunting sendiri masih menjadi salah satu persoalan prioritas nasional. Meski dalam satu dekade terakhir prevalensi stunting di Indonesia turun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 21,5 persen pada 2023, kesenjangan antar daerah masih menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui kolaborasi lintas sektor.

Tak sekadar berbagi bahan makanan, arisan telur juga menjadi pintu masuk edukasi gizi yang lebih menyenangkan. Berikut tiga fakta menarik di balik inovasi ini:

1. Arisan telur, cara sederhana penuhi protein warga

Istimewa
Arisan telur, cara sederhana warga Ngawi penuhi protein. IDN Times/Istimewa.

Program arisan telur digagas sebagai solusi mudah dan murah untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Setiap peserta posyandu menyumbang telur, lalu diundi seperti arisan pada umumnya.

Ketua TPPS, Dwi Ratnawati, menjelaskan bahwa telur dipilih karena mudah didapat dan terjangkau.

“Telur itu mudah dan murah. Jadi kami inisiatif membuat arisan telur sejak akhir 2025. Sampai sekarang antusias warga masih tinggi,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Meski begitu, warga tetap diingatkan untuk tidak bergantung pada arisan semata.

“Kami tekankan, jangan menunggu arisan. Konsumsi telur harus jadi kebiasaan sehari-hari, terutama untuk ibu hamil dan anak-anak,” tambahnya.

2. Ibu hamil KEK alami perubahan signifikan

Istimewa
Arisan telur, cara sederhana warga Ngawi penuhi protein. IDN Times/Istimewa.

Program ini juga berdampak langsung pada ibu hamil dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Salah satunya dirasakan Anjar (29), yang kini kondisinya jauh lebih baik setelah rutin mengikuti posyandu.

“Dulu sering pusing dan cepat lelah. Sekarang sudah ada perubahan, berat badan naik dan makan juga sudah bisa dua sampai tiga porsi,” ungkapnya.

Ia mengaku sebelumnya sering mual saat menerima makanan tambahan. Namun, berkat pendampingan kader dan variasi menu, kini nafsu makannya meningkat.

“Dulu kalau dikasih makanan sering tidak masuk, sekarang sudah bisa. Bahkan telur yang dulu tidak suka, sekarang jadi bisa dimakan,” katanya.

3. Edukasi kreatif biikin warga makin antusias

Istimewa
Arisan telur, cara sederhana warga Ngawi penuhi protein. IDN Times/Istimewa.

Tak hanya arisan, kegiatan posyandu juga dikemas lebih menarik. Mulai dari kelas ibu hamil, permainan, hingga praktik memasak menu bergizi berbahan telur dan ikan lokal.

Pendekatan ini membuat warga lebih aktif datang ke posyandu. Bahkan, kader menerapkan sistem “jemput bola” dan komitmen bersama agar kehadiran tetap terjaga.

“Kalau kita jemput bola, warga mudah dikumpulkan. Kita juga buat komitmen supaya rutin hadir. Jadi tidak hanya penimbangan, tapi juga edukasi,” jelas Dwi.

Meski penurunan angka stunting belum signifikan, tren perbaikan mulai terlihat. Jumlah kasus turun disertai peningkatan berat dan tinggi badan anak.

Lebih menggembirakan, ibu hamil yang rutin ikut program kini melahirkan bayi dengan berat normal di atas 2,5 kilogram.

Dengan inovasi sederhana seperti arisan telur, warga Ngawi membuktikan bahwa langkah kecil yang konsisten bisa membawa perubahan besar dalam upaya menuju zero stunting.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More