Rupiah Melemah, Kemenprin Sebut Industri Furnitur Kecipratan Untung

- Melemahnya rupiah hingga Rp18.012 per dolar AS justru menguntungkan industri furnitur karena 80 persen produksinya diekspor dan 60 persen bahan bakunya berasal dari dalam negeri.
- Kemenperin mencatat utilitas industri furnitur nasional mencapai 60 persen dengan nilai ekspor 2024 sebesar USD 1,92 miliar dan diproyeksikan USD 1,84 miliar pada 2025.
- Pemerintah terus dorong hilirisasi lewat larangan ekspor kayu bulat untuk tingkatkan nilai tambah serta menarik investasi asing membangun pabrik pengolahan kayu di Indonesia.
Surabaya, IDN Times - Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini mencapai Rp18.012 justru menguntungkan bagi beberapa sektor. Kementrian Perindustrian (Kemenprin) menyebut, salah satu sektor yang justru kecipratan untung terhadap melemahnya rupiah ini adalah industri furnitur.
Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Andi Rizaldi mengatakan, utilitas industri furnitur nasional kini mencapai 60 persen. Nilai ekspor pada tahun 2024 mencapai 1,92 USD dan tahun 2025 1,84 USD.
"Kalau secara industri keseluruhan kita kontribusi manufaktur itu hampir 80 persen. Jadi dari total kegiatan ekonomi yang bisa diekspor manufaktur ya alhamdulillah menepati angka yang dominan 80 persen kontribusi manufaktur itu adalah kontribusi ekspor nasional," ujarnya saat menghadiri Indonesia Forestry and Woodworking Machinery (Indowood) Expo di Grand City, Surabaya, Kamis (4/6/2026).
Sehingga, menurutnya menguatnya mata uang asing ini justru memberi untung bagi beberapa pihak, tak terkecuali eksportir furnitur dan mebel. Terlebih, 60 persen bahan baku furnitur berasal dari dalam negeri. Apalagi penjualan furnitur ke luar negeri mencapai 80 persen.
"Berarti kenaikan nilai tukar dolar itu sebetulnya menguntungkan karena dia sampai 80 persen ekspor dan bahan baku lokalnya sebagian besar berasal dari lokal," ucapnya.
Di sisi lain, mantan Atase Perindustrian di KBRI Tokyo ini tak menutup mata efek domino terhadap lemahnya nilai tukar rupiah ini juga mendatangkan kerugian. Sektor lain justru menerima pukulan akibat depresinya rupiah.
"Di satu sisi ada yang senang, ada yang sedih gitu ya. Mudah-mudahan kondisi ini mungkin bisa kita ambil hikmahnya. Kita ambil sisi baiknya, dari sisi ekspor mungkin nilai tukarnya dia lebih bagus, nilainya juga jadi lebih besar," ungkapnya.
Untuk meningkatkan nilai tambah barang, pemerintah terus melakukan upaya hilirisasi lewat larangan mengekspor kayu bulat atau log un. Selain itu, upaya ini juga dilakukan untuk menggenjot angka ekspor nasional.
Kebijakan hilirisasi ini diklaim mendatangkan pemodal asing untuk berinvestasi di Indonesia. Mereka membangun pabrik di sini karena lebih mudah mendapat bahan baku.
"Industri Cina itu mungkin juga sedang mencari sumber bahan baku, tapi kan kita sudah dilarang untuk menjual kayu log," sebutnya.
Di sisi lain, pihaknya mengapresiasi Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) yang telah mengundang investor asing untuk mau melakukan aktivitas produksi pengelolaan kayu di Tanah Air.
"HIMKI ini berusaha menggiring partnernya itu untuk berinvestasi di Indonesia marena kita enggak bisa jual kayu log lagi, bahan baku mentah lagi ke negara lain. Nah, kalau mereka bangun industrinya ya kan berarti penjualannya domestik bukan ekspor, bisa kita lakukan. Itu indikasi yang bagus," pungkas dia.

















