Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jatim Paling Banyak, 109 Anak Putus Sekolah Kembali Belajar PJJ
Ilustrasi pembelajaran jarak jauh (IDN Times/ Wira Sanjiwani)
  • Jawa Timur mengusulkan 124 anak tidak sekolah untuk Program PJJ pendidikan menengah, terbanyak secara nasional; 109 peserta lolos verifikasi dan 15 lainnya masih diproses.
  • Dindik Jatim menjaring peserta secara door to door dan pendaftaran masyarakat, lalu Kemendikdasmen memverifikasi usia, status sekolah, wawancara wali, serta kelengkapan dokumen.
  • Program bagi usia 16–18 tahun ini didukung enam SMA negeri, memakai skema 30 persen daring sinkron dan 70 persen mandiri, dengan fasilitas belajar hingga ijazah setara reguler.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Jawa Timur (Jatim) menjadi provinsi dengan jumlah calon peserta terbanyak dalam Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sebanyak 109 Anak Tidak Sekolah (ATS) telah lolos verifikasi dan siap mengikuti pembelajaran, sementara 15 calon peserta lainnya masih menjalani proses verifikasi.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Aries Agung Paewai mengatakan, total 124 ATS yang diusulkan Pemprov Jatim merupakan jumlah terbanyak dibandingkan provinsi lain. Program ini menjadi upaya pemerintah mengembalikan anak-anak putus sekolah ke bangku pendidikan.

"Program PJJ merupakan ikhtiar pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak tidak sekolah. Kami menyambut baik program ini dengan melakukan penjaringan secara masif dari rumah ke rumah. Alhamdulillah, 124 calon murid yang kami usulkan merupakan yang terbanyak di seluruh Indonesia," ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Aries menjelaskan, Dindik Jatim menginstruksikan seluruh cabang dinas pendidikan melakukan pendataan ATS secara intensif, terutama di wilayah dengan angka anak putus sekolah yang masih tinggi. Pendataan dilakukan melalui metode door to door maupun pendaftaran langsung dari masyarakat.

Selanjutnya, seluruh calon peserta menjalani verifikasi oleh Kemendikdasmen. Tahapan itu meliputi wawancara dengan orang tua atau wali, pemeriksaan usia 16–18 tahun untuk jenjang kelas X, memastikan peserta tidak terdaftar di sekolah lain, hingga pengecekan dokumen administrasi seperti kartu keluarga, akta kelahiran, ijazah SMP atau MTs, serta surat keterangan putus sekolah.

Untuk mendukung pelaksanaan program, Dindik Jatim menunjuk enam SMA negeri sebagai penyelenggara, yakni SMAN 1 Kepanjen sebagai sekolah induk, serta SMAN Plus Sukowono, SMAN 1 Tosari, SMAN 4 Bangkalan, SMAN 4 Malang, dan SMAN 1 Ambunten sebagai sekolah mitra.

Menurut Aries, program ini diperuntukkan bagi anak usia 16–18 tahun yang putus sekolah, sudah bekerja, tinggal di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), maupun anak dengan kondisi khusus yang tidak memungkinkan mengikuti pembelajaran reguler.

Skema pembelajaran disusun secara fleksibel, yakni 30 persen pembelajaran sinkron melalui tatap muka daring dan 70 persen pembelajaran asinkron atau belajar mandiri.

Peserta juga akan memperoleh berbagai fasilitas, mulai dari modul pembelajaran, bantuan kuota internet, akun Belajar.id, akses Learning Management System (LMS), layanan konsultasi bersama guru pendamping secara luring maupun daring, hingga ijazah yang memiliki legalitas setara dengan sekolah reguler.

Aries berharap semakin banyak ATS di Jawa Timur memanfaatkan program tersebut sehingga angka anak tidak sekolah terus menurun. "Harapannya semakin banyak siswa yang mengikuti program ini sehingga jumlah anak tidak sekolah dapat terus berkurang," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article