Misi Dagang Jatim-Sumut Tembus Rp2,84 Triliun, Transaksi Jatim Dominan

Misi Dagang dan Investasi Jatim-Sumut mencatat transaksi Rp2,843 triliun, dengan penjualan produk Jatim ke Sumut mendominasi Rp2,721 triliun dan pembelian produk Sumut Rp121,592 miliar.
Agenda kedelapan Pemprov Jatim sepanjang 2026 ini memperdagangkan beragam komoditas, termasuk peternakan, pangan, pupuk, perikanan, fashion, serta produk Sumut seperti wortel, jeruk, kepiting, kopi, dan arang.
Khofifah menekankan perluasan pasar bagi pelaku usaha dan UMKM, pengembangan komoditas saling melengkapi, peningkatan bibit kopi, serta communal branding untuk memenuhi permintaan pasar besar.
Surabaya, IDN Times - Nilai transaksi Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur (Jatim) - Sumatera Utara (Sumut) menembus Rp2,843 triliun. Angka ini tercatat dalam agenda yang dipimpin langsung Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Hotel Grand Mercure Maha Cipta Angkasa Medan.
Dari total transaksi, perdagangan produk Jatim ke Sumut mendominasi dengan nilai mencapai Rp2,721 triliun. Sementara pembelian produk Sumut oleh pelaku usaha Jatim tercatat Rp121,592 miliar.
Besarnya transaksi menunjukkan arus perdagangan dua provinsi tidak hanya bergerak dalam satu arah. Beragam produk Jatim masuk ke pasar Sumut, sementara pelaku usaha Jatim juga menyerap sejumlah komoditas unggulan dari Sumut.
Khofifah mengatakan Misi Dagang dan Investasi Jatim -- Sumut merupakan misi dagang kedelapan yang digelar Pemprov Jatim sepanjang 2026. Menurutnya, agenda ini tidak semata mengejar nilai transaksi, tetapi juga memperluas pasar dan membangun hubungan perdagangan antardaerah secara berkelanjutan.
“Prinsipnya adalah mari kita bangun kebersamaan ini, kita harus tumbuh bersama, maju bersama, berkembang bersama dan sejahtera bersama,” ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Produk yang diperdagangkan dari Jatim cukup beragam. Mulai dari olahan daging unggas, susu, daging unggas, anak ayam, kambing dan domba, telur, gula aren dan gula kelapa cair, kayu gergajian, produk fashion, olahan hasil perikanan, benih hortikultura dan tanaman pangan, hingga pupuk.
Selain itu, transaksi juga mencakup beras premium, gula kristal, benih jagung, kopi, tepung mocaf, abon, sepatu kulit, produk olahan ikan, multipleks, garam, serta pakan ikan.
Sementara dari Sumut,, pelaku usaha Jatim membeli sejumlah komoditas seperti wortel, jeruk, kepiting pasteurisasi, kopi, arang batok kelapa, cocofeat, dan kopi luwak.
Sejumlah transaksi bahkan dilakukan dalam volume besar. PT Putra Prima Mandiri Kediri, misalnya, mencatat komitmen penjualan produk peternakan kepada CV Kencana Harapan Agung Istimewa di Medan. Komitmen tersebut mencakup 1.236 ton olahan daging unggas, 27.164 ton susu, 90 ton telur, 904 ton daging unggas, 449.500 ekor anak ayam, serta 95 ekor kambing dan domba.
Perdagangan pakan juga menyumbang transaksi dengan volume besar. PT Central Proteina Prima Surabaya menjual 3.062 ton pakan ikan kepada pembeli di Medan. Komitmen lainnya adalah penjualan 20.000 ton pakan sapi dan kambing konsentrat oleh PT Ayo Tani Berjaya Kediri kepada CV Udin Mixfeed Binjai.
Dari sektor pupuk, CV Sinar Jaya SAE Gresik mencatat komitmen penjualan 4.800 ton pupuk NPK multiblending dan dolomit kepada PT Raja Aspal Medan. Sementara dari sisi pembelian, PT Bumi Menara Internusa Surabaya menyerap 345 ton kepiting pasteurisasi dari UD H.I. KTM di Batu Bara.
Khofifah mengatakan angka transaksi tersebut sekaligus menunjukkan besarnya ruang bagi pelaku usaha untuk menemukan pasar baru. Menurut dia, perluasan akses pasar menjadi penting terutama bagi UMKM agar kapasitas produksi mereka dapat berkembang.
“Apa yang kita ikhtiarkan pada misi dagang dan investasi ini? Tentu harapan kita seluruh pelaku usaha, termasuk di dalamnya UMKM, mereka punya harapan baru bahwa mereka akan memiliki pasar-pasar baru,” ungkapnya.
Khofifah juga melihat peluang perdagangan dua daerah dapat dikembangkan melalui komoditas yang saling melengkapi. Jatim memiliki basis produksi sekaligus pengalaman mengakses pasar internasional, sedangkan Sumatera Utara memiliki sejumlah komoditas unggulan yang dapat diserap pasar Jatim maupun dikembangkan untuk kebutuhan ekspor.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah kopi. Khofifah menyebut Jatim memiliki produksi kopi yang cukup signifikan, tetapi produktivitasnya masih perlu ditingkatkan, terutama melalui penyediaan bibit berkualitas.
“PR kita sama, bagaimana sesungguhnya kita bisa mendapatkan bibit yang baik. Di Jawa Timur memang produksi kopinya cukup signifikan, tetapi produktivitasnya masih perlu kita dorong,” katanya.
Selain kopi, Khofifah menyoroti potensi arang kayu dan arang batok kelapa. Menurutnya, permintaan terhadap komoditas tersebut cukup besar, termasuk dari pasar global. “Karena ada produk yang menurut saya pasar globalnya luar biasa dan potensi di sini luar biasa. Ada dua booth yang mengenalkan arang, baik arang kayu atau batok kelapa, marketnya gede sekali,” katanya.
Pengalaman dari misi dagang ke Jeddah juga menjadi salah satu contoh peluang tersebut. Khofifah menyebut kebutuhan arang di pasar tersebut belum sepenuhnya terpenuhi. Kondisi itu menunjukkan perlunya konektivitas antara produsen dengan pasar dalam skala lebih luas.
Ia pun mendorong penguatan communal branding agar produk dari sejumlah pelaku usaha dapat dikonsolidasikan dan mampu memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















