Musim Hujan Jatim Molor, 90,6 Persen Wilayah Baru Diguyur Desember

BMKG memprakirakan 90,6 persen wilayah Jawa Timur baru memasuki musim hujan pada Desember 2026, sementara sejumlah Pantura dan Madura diperkirakan menyusul Januari 2027.
Kemunduran musim hujan dipengaruhi El Niño sangat kuat dan IOD positif, yang menekan pembentukan awan, memperpanjang kemarau, serta mempersingkat durasi hujan.
Masyarakat dan pemerintah diminta mengantisipasi kekeringan, menyesuaikan jadwal tanam serta pengelolaan air, sambil mewaspadai banjir, longsor, dan angin kencang saat puncak hujan Februari 2027.
Surabaya, IDN Times - Warga Jawa Timur (Jatim) tampaknya masih harus bersabar menunggu datangnya musim hujan. Berdasarkan prakiraan BMKG, sekitar 90,6 persen wilayah Jawa Timur baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Bahkan, sebagian wilayah diprediksi baru memasuki musim hujan pada Januari 2027. Sementara sebagian kecil wilayah dataran tinggi dan pegunungan diperkirakan lebih dulu mengalami hujan pada akhir November.
Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi, mengatakan musim hujan 2026/2027 di Jatim diprakirakan mengalami kemunduran dibandingkan kondisi iklim normal.
Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer global, terutama fenomena El Niño sangat kuat di Samudra Pasifik dan fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia.
Kombinasi kedua fenomena itu menekan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jatim. Dampaknya, periode kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang, sementara durasi musim hujan menjadi lebih pendek. “Musim hujan periode 2026/2027 di Jawa Timur diprakirakan mengalami kemunduran dibandingkan kondisi iklim normalnya,” ujar Rendy berdasarkan rilis resmi BMKG Iklim Jatim.
Secara umum, mayoritas wilayah daratan Jatim baru memasuki musim hujan pada Desember 2026. Kondisi tersebut membuat periode November menjadi salah satu fase yang masih perlu diwaspadai, terutama terkait kekeringan dan ketersediaan air.
Tidak semua wilayah memiliki jadwal yang sama. Sejumlah kawasan dataran tinggi dan pegunungan diperkirakan mulai memasuki masa transisi pada akhir November. Sebaliknya, beberapa wilayah pesisir utara atau Pantura serta sejumlah kawasan di Pulau Madura justru diprediksi menjadi wilayah yang lebih lambat. Musim hujan di kawasan tersebut diperkirakan baru dimulai pada Januari 2027.
BMKG juga mencatat sekitar 11,8 persen luas Jatim mengalami kemunduran musim hujan signifikan, yakni mencapai satu hingga dua bulan dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Artinya, masyarakat di wilayah yang mengalami kemunduran tersebut masih akan menghadapi periode kering lebih panjang sebelum hujan benar-benar menjadi pola yang menetap.
Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap sektor pertanian. Petani diminta tidak terburu-buru melakukan tanam hanya berdasarkan munculnya hujan sesaat. BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dengan prakiraan awal musim hujan. Untuk mayoritas wilayah Jatim, waktu tanam perlu mempertimbangkan masuknya musim hujan pada Desember 2026.
Pemilihan varietas tanaman juga menjadi perhatian. Varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan atau memiliki umur panen lebih pendek dapat dipertimbangkan untuk menghadapi kondisi musim yang lebih singkat.
Tak hanya petani, pengelola sumber daya air juga perlu bersiap. Dengan durasi musim hujan yang diprakirakan lebih pendek, pengelolaan air hujan harus dilakukan secara efisien agar cadangan air dapat dimanfaatkan untuk menghadapi periode kering berikutnya.
Kewaspadaan terhadap potensi krisis air bersih juga masih diperlukan hingga akhir November dan memasuki Desember 2026. Namun, keterlambatan musim hujan bukan berarti Jatim sepenuhnya terbebas dari ancaman bencana hidrometeorologi. Justru ketika hujan mulai terkonsentrasi, potensi bencana tetap perlu diwaspadai.
BMKG memprakirakan Januari 2027 menjadi periode ketika intensitas dan frekuensi hujan mulai meningkat, sebelum mencapai puncaknya pada Februari. Sebagian besar wilayah Jatim diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Februari 2027. Setelah itu, curah hujan diprakirakan mulai berangsur menurun pada Maret.
Pada fase puncak, hujan dengan intensitas tinggi tetap berpotensi memicu banjir, tanah longsor, maupun angin kencang di wilayah rawan. “Walaupun durasi musim hujan lebih pendek, konsentrasi curah hujan saat puncak musim tetap perlu diwaspadai,” kata Rendy.
Pemerintah daerah dan masyarakat diminta tidak hanya bersiap menghadapi kekeringan pada akhir 2026, tetapi juga mulai menyiapkan mitigasi menghadapi potensi bencana ketika hujan meningkat pada awal 2027.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















