Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Serangan Jantung Mengintai Usia Muda, Kenali Gejala dan Faktor Risiko

Kota Surabaya
4 min read
Serangan Jantung Mengintai Usia Muda, Kenali Gejala dan Faktor Risiko
Dokter Spesialis Jantung RS Premier Surabaya, dr. Christian Pramudita Budianto, Sp.JP. Dok. RS Premier Surabaya.
  • Serangan jantung kini mengintai usia di bawah 40 tahun, terutama terkait merokok berat, obesitas, pola makan tinggi gula dan kalori, kurang tidur, stres berkepanjangan, serta minim aktivitas fisik.

  • Nyeri dada seperti tertindih benda berat, khususnya saat atau setelah aktivitas fisik, perlu diperiksa medis dan tidak dianggap sekadar masuk angin atau kelelahan.

  • Olahraga tetap penting, tetapi pelaku aktivitas intensitas tinggi dianjurkan menjalani pemeriksaan berkala; evaluasi dapat mencakup EKG, laboratorium, treadmill, ekokardiografi, hingga pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Serangan jantung tidak lagi identik dengan usia lanjut. Gaya hidup tidak sehat membuat penyakit kardiovaskular juga dapat mengintai kelompok usia muda, termasuk mereka yang berusia di bawah 40 tahun.

Kebiasaan merokok, obesitas, pola makan tinggi gula dan kalori, kurang tidur, serta stres yang berlangsung terus-menerus menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.

Dokter Spesialis Jantung RS Premier Surabaya, dr. Christian Pramudita Budianto, Sp.JP, mengatakan, kebiasaan merokok dengan intensitas tinggi yang disertai gaya hidup tidak sehat menjadi salah satu faktor yang sering ditemukan pada pasien usia muda.

“Rokok dengan intensitas tinggi, disertai gaya hidup tidak sehat seperti obesitas menjadi penyebab paling sering pada usia di bawah 40 tahun,” ujarnya, Selasa (29/9/2026).

dr. Christian menjelaskan, pola konsumsi sehari-hari juga perlu mendapat perhatian. Salah satunya kebiasaan mengonsumsi minuman kopi dengan tambahan gula, krimer, atau susu kental manis yang kerap disertai camilan tinggi kalori.

Selain itu, persoalannya bukan semata pada kopi. Kopi hitam tanpa tambahan gula dalam jumlah yang wajar berbeda dengan minuman kopi yang memiliki kandungan gula dan kalori tinggi.

“Yang jahat itu kalau kopi dicampur gula, krimer, dan susu kental manis. Pendamping kopi seperti pisang goreng juga menaikkan kadar gula darah pemicu serangan jantung,” katanya.

Selain pola makan dan rokok, kondisi psikologis juga perlu diperhatikan. Beban pekerjaan yang menumpuk dapat memicu stres. Namun, Christian menekankan bahwa serangan jantung tidak serta-merta terjadi hanya karena seseorang mengalami stres pekerjaan.

Stres yang berlangsung lama dapat berjalan bersama dengan kebiasaan lain yang tidak sehat, seperti kurang tidur, kurang istirahat, pola makan buruk, hingga minim aktivitas fisik.

Kombinasi faktor tersebut yang kemudian dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. “Kurangnya istirahat, akumulasi stres, ditambah gaya hidup buruk menyebabkan terjadinya serangan jantung. Jadi bukan semata-mata stres karena pekerjaan banyak lalu langsung terkena serangan,” jelasnya.

Yang tidak kalah penting adalah mengenali gejala. Nyeri dada, terutama yang muncul ketika atau setelah melakukan aktivitas fisik, tidak seharusnya langsung dianggap sebagai masuk angin atau sekadar kelelahan.

dr. Christian menggambarkan nyeri dada akibat gangguan jantung dapat terasa seperti tekanan atau tertindih benda berat. “Nyeri dada karena sakit jantung itu sensasinya seperti ditindih barang berat. Jangan meremehkan hal ini, apalagi jika terjadi saat atau setelah beraktivitas fisik,” tegasnya.

Masyarakat perlu lebih peka terhadap keluhan tubuh. Nyeri dada yang mencurigakan, terutama jika muncul saat aktivitas atau disertai keluhan lain, perlu mendapat pemeriksaan medis agar penyebabnya dapat diketahui.

Di sisi lain, olahraga tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung. Namun, aktivitas fisik sebaiknya dilakukan secara terukur dan disesuaikan dengan kondisi tubuh.

Bagi mereka yang rutin melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, pemeriksaan kesehatan berkala juga penting. Aktivitas seperti lari atau olahraga kompetitif dapat memberikan beban besar pada sistem kardiovaskular, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko atau kondisi jantung yang belum diketahui.

“Orang dengan rutinitas olahraga intensitas tinggi seperti voli atau lari wajib melakukan medical check up. Serangan jantung bisa muncul mendadak seusai aktivitas fisik,” paparnya.

Pemeriksaan kesehatan jantung dapat dilakukan melalui sejumlah metode sesuai kebutuhan pasien. Pemeriksaan dasar dapat mencakup rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG) dan pemeriksaan laboratorium.

Dokter kemudian dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan seperti treadmill test, ekokardiografi, pemantauan Holter, CT scan jantung, atau MRI jantung berdasarkan kondisi dan faktor risiko pasien.

Kemampuan fasilitas kesehatan di Jatim dalam menangani penyakit jantung juga terus berkembang. Salah satunya RS Premier Surabaya yang memiliki layanan Heart and Vascular Center dengan sejumlah fasilitas diagnostik dan tindakan kardiovaskular.

Fasilitas yang tersedia antara lain EKG, treadmill test, ekokardiografi, Holter monitoring, CT Cardiac, MRI Cardiac, hingga cath lab untuk tindakan intervensi tertentu. RS Premier Surabaya juga menyediakan fasilitas operasi dan ICU untuk mendukung tindakan bedah serta pemulihan pasien.

dr. Christian mengatakan kelengkapan pemeriksaan memungkinkan dokter melakukan penilaian kondisi jantung secara lebih menyeluruh. “Fasilitas kami di RS Premier Surabaya sangat lengkap mulai CT scan hingga pemasangan ring jantung,” pungkasnya.

Layanan cardiac surgery RS Premier Surabaya juga tercantum dalam daftar Best Specialized Hospitals Asia Pacific 2026. Dalam daftar tersebut, layanan bedah jantung rumah sakit itu berada di peringkat ke-67 Asia Pasifik dan urutan pertama di Indonesia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More