Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jatim Cuma Punya 4 Bulan Musim Hujan!
Hujan turun di Surabaya. (Dok. Warga Surabaya)
  • BMKG memprediksi musim hujan di Jawa Timur mulai November 2026 hanya berlangsung sekitar empat bulan, tetapi hujan berintensitas tinggi tetap berpotensi memicu bencana.

  • Malang, Bojonegoro, Jombang, dataran tinggi Nganjuk, dan Banyuwangi menjadi wilayah perhatian yang diminta menyiapkan mitigasi bencana hidrometeorologi sejak dini.

  • BMKG Juanda mendorong rapat koordinasi tingkat provinsi agar pemerintah daerah, sektor pertanian, BPBD, dan relawan menyatukan langkah menghadapi potensi hujan lebat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
28/10/2026

Kepala BMKG Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, mengingatkan pemerintah daerah agar menyiapkan antisipasi bencana hidrometeorologi sejak dini.

November 2026

Musim hujan di Jawa Timur diperkirakan mulai berlangsung sekitar empat bulan. BMKG memperingatkan hujan berintensitas tinggi tetap berpotensi memicu bencana di daerah rawan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BMKG memperkirakan musim hujan di Jawa Timur berlangsung sekitar empat bulan mulai November 2026, dengan potensi hujan berintensitas tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
  • Who?
    BMKG Kelas I Juanda, Kepala BMKG Taufiq Hermawan, pemerintah daerah, BPBD, sektor pertanian, relawan kebencanaan, serta warga di wilayah rawan bencana terlibat dalam kesiapsiagaan.
  • Where?
    Jawa Timur, terutama Malang, Bojonegoro, Jombang, dataran tinggi Nganjuk, dan Banyuwangi yang menjadi wilayah perhatian terhadap potensi dampak hujan lebat.
  • When?
    Musim hujan diperkirakan mulai November 2026 dan berlangsung sekitar empat bulan. Peringatan kesiapsiagaan disampaikan Taufiq Hermawan di Surabaya pada Rabu, 28 Oktober 2026.
  • Why?
    Durasi musim hujan yang pendek dapat membuat curah hujan terkonsentrasi dalam periode singkat, sehingga daerah rawan perlu mengantisipasi potensi bencana saat hujan berintensitas tinggi terjadi.
  • How?
    BMKG mendorong mitigasi sejak dini dan mengupayakan rapat koordinasi tingkat provinsi untuk menyatukan langkah pemerintah daerah, pertanian, BPBD, dan relawan dalam menghadapi musim hujan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jawa Timur, musim hujan diperkirakan cuma empat bulan mulai November 2026. BMKG bilang hujan bisa turun sangat deras dan membuat bencana. Malang, Bojonegoro, Jombang, Nganjuk, dan Banyuwangi harus siap. Pemerintah, petani, BPBD, dan relawan akan diajak rapat supaya bisa bekerja bersama sebelum hujan datang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perhatian BMKG terhadap musim hujan yang singkat menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat kesiapan sejak dini. Rencana koordinasi lintas pemerintah daerah, pertanian, BPBD, dan relawan dapat membantu menyatukan langkah menghadapi hujan berintensitas tinggi, sehingga respons di wilayah rawan seperti Malang, Bojonegoro, Jombang, Nganjuk, dan Banyuwangi lebih terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Musim hujan di Jawa Timur (Jatim) diperkirakan hanya berlangsung sekitar empat bulan mulai November 2026. Durasi yang relatif pendek ini menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) karena hujan berintensitas tinggi tetap berpotensi memicu bencana di sejumlah daerah rawan.

Kepala BMKG Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan mengingatkan, pemerintah daerah dan pihak terkait agar tidak lengah menghadapi musim hujan yang singkat. Menurutnya, persiapan harus dilakukan sejak dini, terutama di daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana hidrometeorologi.

“Karena curah hujannya sangat pendek. Ibaratnya, yang tadinya satu liter dengan takaran satu liter, sekarang takarannya menjadi kecil atau empat bulan,” ujar Taufiq di Surabaya, Rabu (28/10/2026).

Sejumlah daerah yang menjadi perhatian di antaranya Malang, Bojonegoro, Jombang, dataran tinggi Nganjuk, hingga Banyuwangi. Wilayah-wilayah tersebut perlu menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Taufiq menegaskan, pemerintah daerah tidak boleh menunggu bencana terjadi untuk mulai bergerak. Kesiapsiagaan perlu disusun lebih awal agar penanganan di lapangan tidak berjalan sendiri-sendiri ketika kondisi darurat muncul.

“Harus ada antisipasi, jangan sampai nanti kalau sudah kejadian, baru kita tersadar dan mencari pengarahan masing-masing,” tegasnya.

Untuk mendorong kesiapan lintas sektor, Taufiq berencana mengupayakan rapat koordinasi tingkat provinsi. Forum tersebut diharapkan dapat menyatukan langkah pemerintah daerah, sektor pertanian, BPBD, hingga relawan kebencanaan dalam menghadapi musim hujan.

Melalui rapat koordinasi itu, setiap sektor diharapkan memiliki rekomendasi dan langkah kerja yang jelas. Sektor pertanian, misalnya, perlu menyiapkan strategi sesuai kondisi cuaca, sedangkan BPBD dan relawan perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Menurut Taufiq, koordinasi penting agar kebijakan antisipasi tidak berjalan secara terpisah. Dengan persiapan lebih awal, pemerintah daerah diharapkan dapat merespons potensi bencana secara lebih terarah ketika hujan lebat terjadi.

BMKG pun mengingatkan daerah-daerah rawan agar mulai menyiapkan langkah mitigasi sebelum memasuki periode hujan. Meski musim hujan diperkirakan berlangsung relatif singkat, kewaspadaan terhadap hujan berintensitas tinggi dan dampak ikutannya tetap diperlukan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article