Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Janggal! Mesin Pencacah di Kasus Mutilasi Madiun Dijual

Kota Madiun
3 min read
Janggal! Mesin Pencacah di Kasus Mutilasi Madiun Dijual
Tersangka Dwi Bagus Martono alias Tono memperagankan pembunuhan. (IDN Times/Riyanto)
  • Polda Jawa Timur menyelidiki mesin pencacah yang diduga terkait kasus mutilasi di Madiun; mesin itu disebut dibeli setelah pembakaran dan dijual lagi sekitar dua hari kemudian.
  • Penyidik mendalami dugaan pembunuhan DH di hotel yang sementara dinilai spontan, serta persiapan berikutnya di lokasi lain, termasuk penyediaan kayu untuk pembakaran.
  • Terduga pelaku memperagakan adegan di tiga lokasi, sementara polisi memeriksa CCTV, barang bukti tulang dan abu di Labfor, serta masih menelusuri motif terkait persoalan keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Madiun, IDN Times – Penyidik Polda Jawa Timur mendalami keberadaan mesin pencacah yang diduga berkaitan dengan kasus dugaan pembunuhan disertai mutilasi oleh Dwi Bagus Martono terhadap DH (30) dan anaknya, AG (4), di Kota Madiun. Mesin tersebut disebut dibeli setelah proses pembakaran, lalu dijual kembali sekitar dua hari setelah digunakan.

Kasubdit III Jatanras Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, mengatakan informasi mengenai pembelian dan penjualan kembali mesin tersebut menjadi salah satu bagian yang masih ditelusuri penyidik untuk mengungkap rangkaian peristiwa dalam kasus ini.

“Yang menarik itu, tersangka membeli mesin setelah proses pembakaran, kemudian setelah digunakan sekitar dua hari, menurut keterangan temannya, mesin itu dijual lagi. Ini masih harus kita dalami,” kata Jumhur saat memberikan keterangan terkait olah tempat kejadian perkara (TKP) lanjutan, Selasa malam (27/10/2026).

Menurut Jumhur, mesin pencacah tersebut telah diamankan polisi dan masih menjalani pemeriksaan untuk kepentingan penyidikan. Polisi belum mengungkap secara terperinci fungsi mesin itu maupun kaitannya dengan dugaan tindak pidana yang sedang diusut.

Selain mendalami mesin pencacah, penyidik juga menelusuri rangkaian peristiwa yang terjadi setelah dugaan pembunuhan terhadap DH di sebuah hotel di Kota Madiun.

Jumhur menjelaskan, berdasarkan pendalaman sementara, cekcok di hotel yang diduga berujung pada kematian DH berlangsung spontan. Sementara itu, sejumlah persiapan yang berkaitan dengan peristiwa di lokasi lain diduga dilakukan setelah jeda beberapa hari.

“Kalau kejadian di hotel, sementara ini spontan. Untuk persiapan di sini, setelah ada jeda beberapa hari, baru tersangka mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk kayu untuk pembakaran,” ujarnya.

Pada Selasa, penyidik menggelar olah TKP lanjutan dengan meminta Dwi Bagus Martono, terduga pelaku dalam perkara tersebut, memperagakan sejumlah adegan di tiga lokasi berbeda. Ketiganya meliputi hotel yang diduga menjadi lokasi awal kejadian, rumah orang tua terduga pelaku, dan rumah pribadinya.

Keterangan terduga pelaku di hotel juga dicocokkan dengan rekaman kamera pengawas atau CCTV. Penyidik mendalami pergerakan setelah kejadian, termasuk saat terduga pelaku mengambil sleeping bag yang kemudian digunakan untuk membungkus tubuh korban.

Di rumah orang tua terduga pelaku, penyidik sempat mendiskusikan dan memperbaiki sejumlah adegan yang dinilai belum sesuai dengan keterangan yang disampaikan.

Pendalaman di lokasi tersebut berkaitan dengan rangkaian peristiwa yang menyebabkan anak korban meninggal dunia. Dalam pengusutan kasus ini, polisi juga menyerahkan sejumlah barang bukti berupa bagian tulang dan abu yang diduga berkaitan dengan pembakaran jenazah kepada tim Laboratorium Forensik (Labfor).

Jumhur mengatakan, kepastian mengenai karakteristik bagian tulang yang ditemukan masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari laboratorium.

“Ada bagian tulang yang sudah kita serahkan. Mungkin nanti hasil resminya yang akan disampaikan, apakah tulang itu berasal dari orang dewasa atau anak-anak,” katanya.

Polisi juga masih mendalami motif dugaan pembunuhan tersebut. Sejauh ini, penyidik menelusuri persoalan yang berkaitan dengan keluarga, tetapi belum mengungkap secara terperinci motif yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More