Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saujana Para Puan di Tepi Rel: Menyemai Koperasi, Menuai Ekonomi

Kota Surabaya
39 min read
Saujana Para Puan di Tepi Rel: Menyemai Koperasi, Menuai Ekonomi
Suasan Kampung Dupak Magersari Surabaya pada malam hari. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Warga Dupak Magersari membangun Koperasi Srikandi Kapirel sejak 2024 melalui tabungan Rp2.000 per hari, yang kini menghimpun modal sekitar Rp20 juta dari 25 anggota.

  • Dana koperasi diputar sebagai pinjaman untuk modal usaha, biaya sekolah, dan renovasi rumah; skema renovasi membantu memperbaiki ventilasi serta kenyamanan hunian warga.

  • Koperasi berpotensi memperkuat UMKM dan perajin dandang melalui akses modal, pasar, perizinan, jejaring, serta digitalisasi, sambil menjaga partisipasi dan kebutuhan nyata warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - “Tuuuut... tuuut... tuuut...” Suara peluit kereta api memecah percakapan warga di Kampung Dupak Magersari, Kota Surabaya, Senin (14/9/2026) malam. Sesaat kemudian terdengar bunyi yang sudah sangat akrab di telinga mereka. “Jeg-jeg-jeg-jeg.”

Dari sebuah bangunan yang bertuliskan Balai RW, seorang laki-laki berseru. “Awas-awas, sepur!”. Sepeda motor yang semula melaju di sekitar perlintasan mendadak berhenti. Warga menoleh. Mereka memastikan kereta api yang akan melintas datang dari jalur A atau B.

Di kampung ini, kewaspadaan bukan sekadar urusan pribadi. Ia seperti kebiasaan yang diwariskan dari hari ke hari. Ketika kereta datang, semua tahu apa yang harus dilakukan. Tak lama kemudian, rangkaian gerbong melintas dengan kecepatan tinggi. Tanah dan bangunan di sekitarnya ikut bergetar. Percakapan warga terhenti sejenak, sebelum kembali seperti semula setelah suara kereta menjauh.

Bagi orang luar, gemuruh itu mungkin terdengar mengganggu. Tapi bagi warga Dupak Magersari, suara itu bagian dari kehidupan. Kampung mereka memang tumbuh di sekitar jalur rel kereta api, tidak jauh dari Stasiun Pasar Turi dan kawasan Stasiun Semut. Lalu lintas kereta api cukup padat. Namun, rel tidak membuat kehidupan berhenti.

Pagi hari, ruang di sekitar rel dapat berubah menjadi pasar tumpah. Pedagang menggelar dagangan, warga berbelanja, dan aktivitas ekonomi berlangsung di sela-sela lalu lintas kereta.

Malamnya, suasana berganti. Bapak-bapak duduk bercengkerama. Kopi mengepul. Cerita tentang pekerjaan, keluarga, harga kebutuhan pokok, hingga persoalan kampung mengalir tanpa banyak formalitas.

Anak-anak pun tumbuh dengan pemandangan yang sama. Mereka berlarian, bermain, dan sesekali harus dipanggil ketika suara kereta terdengar. Kampung itu padat. Rumah-rumah berdempetan. Ruang menjadi sesuatu yang mahal.

Dalam satu bangunan yang sempit, tidak jarang tinggal beberapa keluarga dari garis keturunan yang sama. Satu rumah dapat dihuni tiga hingga empat kepala keluarga secara vertikal. Makanya, mayoritas rumah di sini bangunannya bertingkat.

Secara keseluruhan, permukiman informal Dupak Magersari yang mencakup RW 09, Kelurahan Jepara, Kecamatan Bubutan, dihuni sekitar 400 hingga 576 kepala keluarga atau kurang lebih 1.600 jiwa.

Angka itu menggambarkan kepadatan. Namun, angka tidak pernah sepenuhnya mampu menjelaskan bagaimana rasanya hidup di dalam rumah yang terbatas ruang, berdampingan dengan rel, sambil tetap harus mencari nafkah setiap hari.

Warga Dupak Magersari pun memiliki cara masing-masing untuk bertahan. Lebih tepatnya, seni bertahan hidup. Sebagian berdagang kecil-kecilan, berjualan sayuran hingga kebutuhan pangan di pasar tumpah.

Ada juga memilih menjalankan usaha dari rumah, seperti menjadi perajin dandang. Aktivitas pembuatan dandang bahkan begitu lekat dengan kehidupan kampung hingga Dupak Magersari dikenal pula sebagai Kampung Dandang.

Di tengah keterbatasan ruang, warga menemukan cara untuk membuat kehidupan tetap bergerak. Salah satunya melalui koperasi. Dan koperasi itu bermula dari sesuatu yang tampak sangat kecil. Rp2.000.

  1. Dari Rp2.000, Kekuatan dan Kepercayaan Itu Tumbuh

    Sejumlah ibu anggota Koperasi Srikandi Kapirel di Kampung Dupak Magersari, Surabaya, berkumpul bersama.
    Ibu-ibu yang tergabung dalam Koperasi Srikandi Kapirel di Kampung Dupak Magersari Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

    Ika Sofi Widiyanti (37) baru saja tiba di rumah, ketika Maghrib mengambang di Dupak Magersari. Suaminya dengan cekatan membantu menyiapkan susu untuk anak mereka yang masih balita. Setelah itu, ia mengajak sang buah hati bermain. Di tengah aktivitas kecil sebuah keluarga, Ika masih harus memikirkan banyak hal. Rumah mereka terasa hangat. Udara di dalamnya pun sumuk.

    Bagi Ika, kondisi seperti itu bukan sesuatu yang asing. Tinggal di kawasan padat membuat ruang menjadi barang yang mahal. Rumah bukan hanya tempat untuk beristirahat, tetapi juga ruang bagi sebuah keluarga untuk menjalani hampir seluruh kehidupan.

    Malam itu, Ika sedang mempertimbangkan sesuatu yang tidak ringan. Mengajukan pinjaman untuk renovasi rumah. Ika merupakan bendahara Koperasi Srikandi Kapirel. Jalan menuju pinjaman untuk memperbaiki rumah itu justru bermula dari kebiasaan yang sangat sederhana, menyisihkan uang Rp2.000 setiap hari.

    Kisahnya dimulai beberapa tahun sebelumnya. Tepatnya tahun 2023. Gagasan awal pembentukan koperasi muncul setelah warga Dupak Magersari berkenalan dengan praktik pengorganisasian ekonomi warga di Kalijawi, Yogyakarta. Kampung Kalijawi merupakan pemukiman di pinggir sungai Yogyakarta yang rentan penggusuran serta banjir karena status lahannya yang berada di Sultan Ground (SG), tanah kesultanan Yogyakarta.

    Warga diperkenalkan dengan konsep menabung dalam jumlah kecil secara rutin. Bagi Ika dan warga lainnya, gagasan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kemungkinan besar. Jika warga di tempat lain dapat mengumpulkan kekuatan dari uang yang sedikit, mengapa mereka tidak mencobanya di Dupak Magersari?

    Sekitar tujuh hingga delapan warga kemudian berangkat ke Kalijawi. Mereka terdiri atas pengurus RT, pengurus PKK, serta warga yang aktif dalam berbagai kegiatan kampung. Tidak semuanya perempuan. Bapak-bapak juga ikut terlibat.

    Setelah pulang, mereka tidak serta-merta mendirikan koperasi. Mereka mempelajari sistemnya terlebih dahulu. Warga Kalijawi bahkan kemudian datang ke Dupak Magersari. Pengalaman tidak hanya dibagikan dari satu kampung kepada kampung lain, tetapi dipelajari bersama, disesuaikan dengan kondisi warga setempat.

    Dari sana, muncul keyakinan bahwa kekuatan ekonomi tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Koperasi Srikandi Kapirel kemudian dibentuk dengan satu kelompok kecil sebagai percontohan pada awal tahun 2024. Anggotanya hanya 13 orang.

    Mereka mulai menabung Rp2.000 sehari. Bukan berarti setiap hari ada orang yang datang menagih Rp2.000. Masing-masing anggota menyisihkan uang itu di rumah. Setelah sebulan, tabungan dikumpulkan dalam pertemuan anggota. Dalam sebulan, Rp2.000 sehari menjadi sekitar Rp60.000 bagi satu orang.

    Bagi keluarga dengan penghasilan yang terbatas dan kebutuhan yang terus berjalan, Rp60.000 bukan angka yang bisa dianggap remeh. Namun, ketika 13 orang melakukan hal yang sama, uang kecil itu mulai memiliki kekuatan baru.

    Pada bulan pertama, terkumpul sekitar Rp780.000. Jumlah tersebut tentu belum cukup untuk membenahi rumah. Maka mereka berpikir, uang ini harus diapakan? Mereka memilih memutarnya melalui simpan pinjam.

    Sebagian dana dipinjamkan kepada anggota. Pada tahap awal, seorang anggota dapat memperoleh pinjaman sekitar Rp400.000. Dana yang tersisa dapat kembali dipinjam anggota lainnya. Tidak ada uang yang sengaja dibiarkan diam. Ia diputar dari satu tangan ke tangan yang lain.

    Setiap pinjaman harus dikembalikan dalam waktu tiga bulan dengan jasa sebesar 5 persen. Pinjaman Rp400.000, misalnya, dikembalikan menjadi Rp420.000. Pembayaran dapat dilakukan secara mencicil ataupun sekaligus selama masa pengembalian.

    Sistem itu berbeda dengan arisan yang selama ini lebih akrab di kalangan ibu-ibu. “Kalau arisan itu kan sudah dapat, narik, semua orang sudah narik, buyar,” kata Ika. Sementara koperasi, dirancang untuk berjalan lebih panjang. Selama seseorang masih menjadi anggota, ia tetap menabung. Simpanan tersebut menjadi bagian dari modal koperasi dan tidak dapat begitu saja diambil selama keanggotaan masih berlangsung. Di situlah perbedaannya. Uang yang terkumpul tidak berhenti sebagai uang. Ia menjadi modal yang terus bergerak.

    Meski begitu, perjalanan awal koperasi tidak langsung mulus. Sebagian warga justru menolak. Ada yang bertanya-tanya apakah mereka harus terus membayar sepanjang hidup. Ada pula yang khawatir uang tabungan tidak akan kembali. Kekhawatiran lain muncul ketika uang tersebut dipinjamkan kepada sesama anggota.

    Bagaimana jika orang yang meminjam tidak mengembalikan? Bagaimana jika uang yang sudah dikumpulkan bersama hilang? Keraguan itu harus dijawab bukan dengan pidato, melainkan dengan waktu. “Padahal kan kita bayar juga tabungan, nantinya bisa balik ke kita juga,” ujar Ika.

    Pelan-pelan, kepercayaan mulai tumbuh. Satu orang ikut. Kemudian orang lain menyusul. Kelompok pertama yang beranggotakan 13 orang akhirnya menjadi contoh bagi pembentukan kelompok berikutnya. Dua kelompok baru kemudian terbentuk, masing-masing beranggotakan sekitar 10 orang.

    Jumlah anggota sempat berubah karena ada yang berhenti atau pindah kota. Namun, koperasi tetap berjalan. Kini, anggotanya sekitar 25 orang. Setelah kelompok berjalan selama satu tahun, besaran tabungan bulanan juga disesuaikan. Dari semula sekitar Rp60.000 per bulan, nominalnya menjadi Rp50.000 berdasarkan kesepakatan anggota.

    Dari simpanan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu, modal anggota kini mencapai sekitar Rp20 juta. Bagi sebuah koperasi besar, angka tersebut mungkin belum berarti banyak. Namun, bagi 25 warga yang membangunnya dari uang yang disisihkan setiap hari, angka itu adalah bukti bahwa sesuatu yang kecil dapat tumbuh ketika dikerjakan bersama.

    Ika menggambarkan cara kerja koperasi itu seperti air yang tidak boleh berhenti mengalir. Setiap kali cicilan pinjaman masuk, dana tersebut kembali dihimpun bersama tabungan anggota. Setelah terkumpul, uang kembali dipinjamkan kepada anggota lain yang membutuhkan.

    Misalnya, ada sekitar Rp2 juta dari cicilan pinjaman dan Rp1,5 juta dari tabungan yang terkumpul. Dana sekitar Rp3,5 juta itu kemudian kembali disalurkan. Begitu seterusnya. “Enggak ada duit mandek di kas,” kata Ika.

    Uang itu selalu diupayakan untuk berputar. Dari situlah koperasi perlahan menemukan fungsi lain yang lebih besar, membantu anggota memperbaiki tempat tinggal. Gagasan renovasi rumah datang melalui pendampingan Arsitek Komunitas (Arkom) Jawa Timur (Jatim). Koperasi kemudian mendapat dukungan dana untuk skema renovasi. Total dana yang direncanakan mencapai Rp50 juta untuk lima anggota.

    Pada tahap awal, tidak semua anggota siap menjalani proses renovasi. Dana yang kemudian turun lebih dahulu sebesar Rp30 juta untuk tiga anggota. Mereka adalah Ketua Koperasi Srikandi Kapirel Riski Indrayanti (38), wakil ketua koperasi Wiwik Sukarsi (43) dan salah satu anggota koperasi, Tri Nawang Sari (36). Setiap anggota dapat memperoleh plafon maksimal Rp10 juta.

    Uang itu bukan sekadar diberikan lalu selesai. Prosesnya panjang. Menurut Ika, anggota yang hendak merenovasi rumah harus melalui proses persiapan yang bahkan berlangsung hampir satu tahun. “Enggak gampang,” katanya.

    Sebab, renovasi bukan hanya persoalan mendapatkan uang. Warga juga harus belajar menentukan kebutuhan rumah, menyusun rencana, dan memikirkan bagaimana dana tersebut dapat digunakan secara tepat. Skemanya pun dibuat agar uang tidak berhenti di satu rumah.

    Dari plafon Rp10 juta, sekitar 25 persen atau Rp2,5 juta menjadi hibah bagi anggota. Sementara sekitar 75 persen atau Rp7,5 juta harus dikembalikan kepada koperasi, ditambah jasa 5 persen sesuai ketentuan. Pengembalian dilakukan selama 30 bulan.

    Dengan cara itu, sebagian dana yang telah digunakan untuk memperbaiki satu rumah dapat kembali menjadi modal untuk membantu anggota berikutnya. Rumah pertama menjadi awal bagi rumah berikutnya. Begitu pula uangnya. Berputar.

    Di malam ketika Ika duduk di rumahnya, rencana renovasi itu terasa lebih dekat. Ia bukan lagi sekadar angka dalam catatan koperasi. Ia ingin mewujudkan mimpi. Menata ulang huniannya. Menyingkirkan hawa sumuk yang bertahun-tahun lamanya. Yang semua itu bermula dari Rp2.000.

  2. Koperasi yang Membuat Rumah Bernapas

    Tri Nawang Sari, anggota Koperasi Srikandi Kapirel, memandangi rumahnya yang telah direnovasi berkat pinjaman koperasi.
    Salah satu anggota Koperasi Srikandi Kapirel, Tri Nawang Sari yang memandangi rumahnya usai renovasi dari hasil pinjaman koperasi. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

    Tak jauh dari rumah Ika, Tri Nawang Sari (36) tampak berdiri memandangi rumahnya dari seberang rel kereta api. Di Kampung Dupak Magersari, pemandangan seperti itu sebenarnya biasa saja. Rumah-rumah berdiri rapat, dipisahkan gang-gang sempit dan jalur rel yang setiap beberapa waktu kembali ramai oleh kereta yang melintas.

    Akan tetapi bagi Nawang, rumah dua lantai di hadapannya menyimpan cerita yang berbeda. Ia melihat bagian atas rumah yang kini jauh lebih terang. Dindingnya sudah diperbarui. Beberapa bagian yang sebelumnya masih kasar telah diselesaikan. Jendela baru terpasang. Loster menghiasi bagian depan.

    Ada satu perubahan yang mungkin tidak langsung terlihat dari luar, tetapi paling dirasakan Nawang ketika berada di dalam rumah. Udara. Sebelum direnovasi, kamar Nawang di lantai dua hanya memiliki jendela. Ketika jendela ditutup, ruangan terasa pengap. Sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik. Kini, udara bisa masuk dari depan dan bergerak menuju bagian belakang rumah. “Depan belakang itu bisa masuk angin,” kata Nawang.

    Perubahan ini menjadi contoh konkret bagaimana pinjaman koperasi yang diterimanya digunakan. Bukan untuk sesuatu yang jauh dari kebutuhan sehari-hari. Bukan pula untuk keperluan konsumtif. Uang itu masuk ke rumah. Menjadi jendela. Menjadi loster. Menjadi perbaikan dinding. Menjadi pagar. Dan yang paling penting bagi Nawang, menjadi ruang tinggal yang lebih nyaman bagi keluarganya.

    Nawang merupakan salah satu dari tiga anggota awal Koperasi Srikandi Kapirel yang mendapatkan plafon pembiayaan renovasi rumah melalui skema yang didampingi Arkom Jatim. Masing-masing mendapatkan plafon maksimal Rp10 juta.

    Angka tersebut cukup berarti. Sebab rumah Nawang sebenarnya sudah pernah direnovasi, tetapi belum sepenuhnya selesai. Bagian depan belum memiliki pembatas pagar. Tembok masih kasar dan belum dicat. Sementara persoalan yang paling ia rasakan berada di bagian dalam rumah, ventilasi.

    Kondisi rumah yang padat membuat kebutuhan akan sirkulasi udara menjadi penting. Apalagi kamar Nawang berada di lantai dua. “Kalau ditutup, pengap,” bebernya. Dari situ, renovasi tidak diarahkan semata-mata untuk membuat rumah terlihat lebih bagus. Kebutuhannya justru ditentukan dari persoalan yang benar-benar dirasakan penghuni.

    Arkom membantu memberikan solusi. Loster ditambahkan di bagian depan kamar. Bagian belakang juga diberi jendela. Dapur yang berada di bawah tangga mendapat tambahan bukaan agar asap masakan tidak terus berkumpul di dalam rumah. Hasilnya sederhana. Tetapi dampaknya langsung terasa. Udara kini dapat bergerak.

    Renovasi rumah Nawang berlangsung sekitar dua minggu atau 14 hari. Ia memperkirakan pekerjaan dilakukan pada akhir April hingga Mei 2026. Namun, waktu pengerjaan yang singkat bukan berarti prosesnya tanpa persoalan. Nawang tetap harus menghitung setiap pengeluaran.

    Plafon yang diterimanya maksimal Rp10 juta. Dana tersebut pun tidak sepenuhnya menutup seluruh kebutuhan renovasi. Ia masih menambah biaya sendiri. Harga material menjadi salah satu tantangan.

    Sebelum Lebaran, Nawang sudah melakukan survei harga. Ia membandingkan harga dari satu toko dengan toko lainnya untuk mencari bahan yang lebih murah. Namun, ketika renovasi dilakukan setelah Lebaran, harga sejumlah material mengalami kenaikan. “Pas Lebaran itu kan lagi gonjang-ganjing kenaikan harga. Naik semua,” katanya.

    Pengeluaran yang paling terasa justru berasal dari ongkos tukang dan kuli. Ia memanfaatkan material yang masih tersisa dari pekerjaan sebelumnya. Kayu yang masih ada, misalnya, digunakan untuk kebutuhan pagar. Tidak ada yang boleh terbuang sia-sia. Setiap rupiah harus menghasilkan bagian rumah yang memang dibutuhkan. Di sinilah pinjaman Rp10 juta menemukan bentuk konkretnya.

    Tak hanya angka pinjaman, Nawang melihat hal lain yang membuat skema tersebut berbeda. Dari plafon Rp10 juta yang diterimanya, ia tidak harus mengembalikan seluruhnya. Sekitar Rp7,5 juta menjadi bagian yang harus dikembalikan kepada koperasi, dengan pengembalian selama 30 bulan. Cicilannya sekitar Rp288 ribu per bulan.

    Tak sampai di situ saja. Mekanismenya juga berkaitan dengan simpanan anggota di koperasi. Jadi, pembayaran yang dilakukan tidak hanya dipahami sebagai kewajiban mengembalikan pinjaman, tetapi juga bagian dari keberlanjutan koperasi. Uang yang kembali nantinya dapat digunakan lagi untuk anggota lain.

    Di titik inilah, rumah Nawang menjadi contoh konkret dari cara kerja koperasi. Uang yang dikumpulkan bersama digunakan untuk membantu satu anggota. Nantinya, anggota akan mengembalikannya secara bertahap. Dana yang kembali tidak berhenti. Ia diputar lagi. Manfaat pinjaman tidak berhenti pada satu rumah.

    Ketika Nawang selesai membayar, modal tetap dapat menjadi bagian dari kekuatan koperasi untuk membantu anggota berikutnya. Nawang bukan anggota baru yang datang ketika program pembiayaan renovasi dibuka. Ia sudah ikut sejak kelompok pertama Koperasi Srikandi Kapirel dibentuk.

    Saat itu, anggotanya baru 13 orang. Mereka menjadi kelompok percontohan untuk menjalankan sistem koperasi di Dupak Magersari. Nawang ikut menyisihkan uang dan mengikuti prosesnya sejak awal. Ia tahu bagaimana koperasi itu dibangun dari jumlah yang kecil.

    Di saat ia menjadi salah satu penerima pembiayaan renovasi, ada hubungan yang cukup jelas antara kebiasaan menabung dan manfaat yang akhirnya ia terima. Ia ikut membangun koperasi. Kemudian koperasi membantu membangun kembali bagian rumahnya. Bukan dalam bentuk pemberian cuma-cuma, tetapi melalui skema yang membuat dana terus berputar.

    Nawang pun berharap koperasi tidak berhenti pada kelompok yang ada sekarang. Ia ingin semakin banyak warga bergabung sehingga kemampuan koperasi memberikan pinjaman juga semakin besar. “Harapannya ya koperasi ini tetap berjalan terus, nambah anggota,” katanya.

    Jika koperasi semakin kuat, manfaat pinjaman juga bisa diperluas. Tidak hanya untuk renovasi rumah. Pinjaman dapat digunakan untuk usaha maupun kebutuhan anggota lainnya. Harapan itu berangkat dari pengalaman yang sudah ia rasakan sendiri. Ia tidak perlu menjelaskan koperasi dengan angka-angka besar. Cukup menunjuk rumahnya.

  3. Sejuk di Dalam Rumah, Hangat di Dalam Koperasi

    Riski, Ketua Koperasi Srikandi Kapirel, berdiri di rumah yang telah menerima manfaat program renovasi rumah.
    Ketua Koperasi Srikandi Kapirel, Riski yang mendapatkan manfaat renovasi rumah. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

    Di malam yang sama, di Kampung Dupak Magersari, Riski Indrayanti (38) berdiri di lantai dua rumahnya. Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Srikandi Kapirel itu tersenyum di balik pagar pembatas rumah. Dari tempatnya berdiri, deretan rumah warga terlihat rapat. Di sela-selanya, kehidupan kampung masih bergerak.

    Namun, ada sesuatu yang berubah di rumah Riski. Bagian lantai dua kini tampak lebih terang. Pagar spandek dan lis berwarna kuning memberi wajah baru pada bangunan tersebut. Beberapa bukaan tambahan membuat udara malam lebih mudah masuk ke dalam rumah.

    Perubahannya memang tidak besar. Tetapi bagi Riski, perbedaan itu terasa ketika ia berada di dalam rumah. “Sudah agak lumayan dingin,” katanya. Sebelum direnovasi, rumah terasa lebih panas dan lembap. Kondisi itu membuat udara di dalam ruangan kurang nyaman, terutama ketika sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik.

    Kini, setelah renovasi, udara terasa lebih ringan. Rumah yang sebelumnya terasa pengap perlahan menjadi tempat tinggal yang lebih nyaman. Renovasi rumah Riski dikerjakan selama sekitar 10 hari. Dalam prosesnya, bukan sekadar memilih bagian rumah yang hendak diperbaiki. Ada proses menentukan desain dan material yang harus diperhatikan agar hasil renovasi sesuai dengan kebutuhan penghuni.

    Riski dan keluarga tetap menentukan desain rumahnya sendiri. Setelah itu, mereka berkonsultasi dengan Arkom Jatim. Di situlah pendampingan dilakukan. Bukan dengan menentukan seluruh bentuk rumah dari awal, melainkan membantu warga mengambil keputusan yang lebih sesuai, termasuk dalam memilih material.

    Salah satu pertimbangannya adalah panas. Bahan yang digunakan harus diperhitungkan agar ruang di dalam rumah tidak menjadi semakin panas. Bagi warga yang tinggal di kawasan padat seperti Dupak Magersari, pertimbangan semacam itu menjadi penting.

    Ruang terbatas membuat setiap perubahan harus benar-benar memiliki fungsi. Satu jendela bukan sekadar jendela. Ia bisa menjadi jalan masuk udara. Satu ventilasi bukan sekadar bagian dari bangunan. Ia bisa menentukan apakah sebuah ruangan terasa pengap atau lebih nyaman.

    Begitu pula dengan material yang digunakan. Pilihan bahan ikut menentukan bagaimana rumah menghadapi panas, lembap, dan kondisi lingkungan sekitar. Maka, renovasi tidak berhenti pada membuat rumah terlihat lebih bagus. Yang lebih penting adalah membuatnya lebih layak dihuni.

    Kini, ketika malam datang dan udara bergerak melewati bukaan-bukaan baru, perubahan itu bisa dirasakan secara langsung. Rumah terasa lebih sejuk. Riski mengakui kalau itu sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur. Tetapi sebagai ketua koperasi, ia tahu satu pekerjaan lain belum selesai. Jika rumahnya telah berubah, koperasi yang menjadi jalan menuju perubahan itu juga harus terus dijaga.

    Saat ini, anggota Koperasi Srikandi Kapirel sekitar 25 orang. Jumlah itu belum menjadi titik akhir. Ia justru berharap semakin banyak warga yang bergabung. “Ya harapan kita bisa nambah-nambah anggota juga,” ungkapnya.

    Keinginan Riski terdengar sederhana. Namun, mengajak warga bergabung ternyata tidak selalu mudah. Sebagai ketua koperasi sekaligus Ketua RT, Riski cukup dekat dengan kehidupan warga sehari-hari. Ia tahu bagaimana pandangan sebagian warga terhadap koperasi.

    Ada yang masih merasa khawatir ketika mendengar kata “utang”. Sebagian warga mungkin berpikir bahwa bergabung dengan koperasi berarti menambah beban hidup ke depannya. “Kadang orang itu mungkin takut, kayak biasa enggak utang, nanti kok utang,” katanya.

    Kekhawatiran seperti itu menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Riski dan pengurus. Koperasi tidak cukup hanya memiliki sistem. Warga juga harus percaya bahwa sistem yang diterapkan aman dan memberikan manfaat.

    Sosialisasi terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan PKK. Di sana, pengurus memiliki kesempatan menjelaskan kembali bagaimana koperasi berjalan, bagaimana simpanan dikelola, dan untuk apa pinjaman diberikan.

    Namun, hingga kini belum seluruh anggota PKK ikut menjadi anggota koperasi. Masih ada warga yang memilih tidak bergabung. Alasannya beragam. Ada yang merasa repot. Ada yang memiliki pertimbangan lain. Ada pula yang masih melihat koperasi dari sisi kewajiban membayar atau utang.

    Riski bilang, kondisi itu bukan alasan untuk berhenti. Koperasi tetap harus berjalan. Kepercayaan tidak bisa dipaksakan. Ia harus dibangun perlahan, melalui pengalaman dan manfaat yang bisa dilihat warga. Dan rumah Riski sendiri kini menjadi salah satu contoh yang bisa dilihat. Bersama rumah Nawang dan Wiwik.

    Warga tidak hanya mendengar bahwa koperasi dapat membantu renovasi rumah. Mereka bisa melihat hasilnya. Rumah yang dulu terasa panas dan lembap kini lebih sejuk. Ventilasi dan jendela tambahan membuat udara lebih mudah bergerak.

    Ada sesuatu yang menarik dari posisi Riski. Ia bukan hanya orang yang menerima manfaat koperasi. Ia juga orang yang bertanggung jawab memastikan koperasi tetap berjalan. Di satu sisi, ia merasakan langsung manfaat pembiayaan untuk rumahnya. Di sisi lain, ia harus memikirkan bagaimana koperasi dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak warga.

    Riski memastikan bahwa fungsi utamanya bukan hanya pada pembiayaan renovasi rumah. Lebih luas. Untuk roda kehidupan. Bisa untuk kulakan dagangan Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) yang dimiliki angggota, dapat dibuat tambahan modal bagi perajin dandang serta untuk biaya sekolah anak. Semua itu sudah dilakukan oleh sejumlah anggota yang kini tergabung dalam Koperasi Srikandi Kapirel.

  4. Memutar Roda Usaha, Menopang Hidup hingga Menyalakan Warisan Lama

    Infografis Koperasi Srikandi Kapirel karya Ardiansyah Fajar untuk IDN Times, menyajikan informasi tentang koperasi tersebut.
    Infografis Koperasi Srikandi Kapirel. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

    Renovasi rumah bukan satu-satunya manfaat yang dirasakan anggota Koperasi Srikandi Kapirel. Bagi sebagian anggota, koperasi justru menjadi tempat mencari tambahan modal untuk menjaga usaha kecil mereka tetap berputar. Pinjaman anggota tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sebagian memanfaatkannya untuk usaha, mulai dari berjualan jajanan hingga menjalankan bisnis secara daring.

    “Jadi pinjaman itu mereka pakai buat nambahin modal, buat muter modal,” kata bendahara koperasi, Ika Sofi Widiyanti (37).

    Kebutuhannya pun bermacam-macam. Ada anggota yang meminjam uang untuk kulakan barang dagangan. Kemudian membutuhkan tambahan modal agar usaha kecilnya (UMKM) tetap berjalan. Serta ada yang memanfaatkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak ketika memasuki tahun ajaran baru.

    Pada Juni-Juli, misalnya, ada anggota yang datang kepadanya untuk meminjam uang demi membayar kebutuhan pendaftaran sekolah anak. “Mbak, aku pinjam, ya, buat daftarin anakku sekolah,” tutur Ika menirukan permintaan salah satu anggota.

    Tak selalu tentang modal usaha dalam jumlah besar. Tak mesti soal ekspansi bisnis. Kadang uang pinjaman hanya dibutuhkan agar seorang pedagang bisa kembali kulakan. Atau agar sebuah keluarga bisa melewati satu kebutuhan penting tanpa harus mencari pinjaman ke tempat lain. Uang koperasi masuk ke kebutuhan yang nyata dan sehari-hari.

    Kemudian, ketika usaha kembali menghasilkan atau kebutuhan telah terlewati, pinjaman dikembalikan dan dana dapat diputar lagi untuk anggota lainnya. Dengan cara seperti itu, koperasi menjadi semacam bantalan ekonomi kecil bagi warga. Tidak besar. Tetapi tersedia ketika dibutuhkan.

    Bagi Wiwik Sukarsi (43), Wakil Ketua Koperasi Srikandi Kapirel, hubungan antara rumah dan usaha bahkan terlihat langsung dari bangunan tempat tinggalnya. Rumah Wiwik termasuk salah satu yang mendapatkan program renovasi.

    Setelah direnovasi, manfaatnya tidak berhenti pada kenyamanan keluarga. Rumah itu juga menjadi ruang produksi. Bagian bawah rumah kini digunakan sepenuhnya untuk membuat dandang, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal keluarga. Pembagian ruang tersebut sangat penting bagi Wiwik dan suaminya.

    Dandang bukan sekadar benda yang dibuat di rumah. Ia adalah sumber penghasilan. Aktivitas produksi yang sebelumnya harus berbagi ruang dengan kebutuhan rumah tangga kini memiliki tempat yang lebih jelas. Bagian bawah menjadi ruang kerja, sedangkan bagian atas menjadi ruang keluarga.

    Di lantai atas, keluarga bisa beristirahat dengan lebih nyaman. Sementara di bawah, suaminya dapat mengerjakan dandang. Rumah akhirnya menjalankan dua fungsi sekaligus. Sebagai tempat tinggal dan tempat mencari penghidupan. Renovasi membuat kedua fungsi tersebut dapat berjalan lebih baik.

    Di tengah keterbatasan lahan Dupak Magersari, pemisahan ruang semacam itu menjadi sangat berarti. Sebab bagi banyak warga, rumah bukan hanya tempat pulang. Rumah juga merupakan tempat usaha. Tempat menyimpan barang dagangan. Membuat produk. Serta menerima pesanan.

    Dan dalam kasus Wiwik, tempat suaminya mempertahankan pekerjaan yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya. Dari lantai atas rumah itu, kehidupan keluarga berjalan. Di bawahnya, suara pekerjaan terus terdengar. Aluminium dipotong. Ditempa. Dibentuk. Kemudian dirakit menjadi dandang.

    Aktivitas tersebut membawa cerita Dupak Magersari kepada sesuatu yang lebih tua daripada koperasi itu sendiri. Sebuah kerajinan yang membuat kampung yang berada di tepi rel ini dikenal sebagai Kampung Dandang.

    Di kawasan ini, setidaknya masih ada tujuh rumah yang aktif memproduksi dandang hingga kini. Salah satunya Mulyadi. Dia merupakan generasi kedua perajin dandang. Ia besar di Dupak Magersari. Kini, usianya hampir 50 tahun dan telah memiliki cucu.

    Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Matari, telah membuat dandang jauh sebelum Mulyadi lahir. Ketika berbicara tentang Kampung Dandang, Mulyadi tidak pernah benar-benar tahu kapan nama tersebut mulai digunakan. “Saya juga tidak tahu sejak kapan kampung ini disebut Kampung Dandang. Pastinya sejak saya belum lahir sudah disebut seperti itu,” tuturnya.

    Namun, ia tahu satu hal. Dandang sudah menjadi bagian dari kehidupan kampung sejak puluhan tahun lalu. Matari bahkan telah membuat dandang sejak kakak Mulyadi yang kedua lahir. “Bapak saya, Bapak Matari, cerita kalau sudah dari lama membuat dandang. Sekarang saja umur saya sudah hampir 50 tahun dan sudah punya cucu,” kata Mulyadi.

    Dahulu, pesanan dandang dari rumah Matari datang tanpa henti. Dalam sehari, ia pernah menerima pesanan hingga sekitar 30 buah. Ketika Pasar Turi masih menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Surabaya, jumlahnya bahkan bisa mencapai sekitar 50 dandang sehari.

    Saat itu, dandang masih menjadi bagian penting dari dapur masyarakat. Penanak nasi elektrik belum menjadi barang yang umum digunakan. “Dulu kan belum ada mejikom, jadi semua masih pakai dandang,” kata Mulyadi.

    Pesanan yang begitu banyak membuat Matari tidak mungkin bekerja sendirian. Ia mengajak sejumlah tetangga membantu proses produksi. Para tetangga kemudian belajar membuat dandang. Sebagian akhirnya membuka usaha sendiri.

    Dari satu perajin, muncul perajin lainnya. Dari satu rumah produksi, tumbuh beberapa rumah produksi. Lama-kelamaan, aktivitas membuat dandang menjadi bagian dari identitas kampung. Itulah sebabnya nama Kampung Dandang bertahan hingga hari ini.

    Puluhan tahun berlalu. Peralatan rumah tangga berubah. Cara orang memasak berubah. Penanak nasi elektrik semakin mudah ditemui. Tetapi di sudut Dupak Magersari, proses membuat dandang masih berlangsung dengan cara yang sebagian besar tetap manual.

    Mulyadi bersama para perajin lainnya mengukur lembaran aluminium, memotongnya, menempa, membentuk, lalu merakitnya. Bagian badan dandang dibuat. Alas dipasang. Aksesoris ditambahkan. Saringan dibuat. Kemudian tutup dikerjakan sebagai bagian akhir.

    Tidak semuanya dikerjakan secara berurutan. Di rumah produksi Mulyadi, ada beberapa orang yang mengerjakan bagian berbeda. “Ada empat orang, jadi mengerjakan apa saja yang belum,” jelasnya.

    Di situlah pekerjaan yang tampak sederhana sebenarnya membutuhkan keterampilan. Setiap lembar aluminium harus diperlakukan dengan tepat. Salah mengukur bisa membuat ukuran tidak sesuai. Salah membentuk dapat memengaruhi hasil akhir. Dan karena dandang dibuat berdasarkan pesanan, ukuran serta kebutuhannya pun bermacam-macam. Ada dandang berkapasitas sekitar 8 kilogram. Ada yang jauh lebih besar, mencapai 30 - 50 kilogram.

    Tidak hanya untuk nasi. Mereka juga membuat dandang untuk kebutuhan memasak soto, bakso, hingga mi pangsit. Yang menarik, alat-alat produksi yang digunakan juga merupakan bagian dari sejarah panjang usaha di kampung ini. Mulyadi menunjukkan sejumlah peralatan yang usianya bahkan lebih tua darinya. “Ini sama saya lebih tua alatnya,” katanya sambil tertawa.

    Dahulu, ungkap Mulyadi, ayahnya memanfaatkan apa saja yang tersedia di sekitar untuk membantu proses produksi. Cara berpikir itu kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Peralatan sederhana dikembangkan. Fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan.

    Salah satunya adalah alat untuk membuat lubang pada saringan dandang. Dulu, proses itu dilakukan satu per satu menggunakan paku. Bayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat lubang pada satu saringan, apalagi ketika pesanan mencapai puluhan dandang.

    Melihat kondisi yang ada, para perajin kemudian membuat mesin pelubang sendiri. Ada pula mesin pres yang dipesan khusus sesuai kebutuhan. Bukan mesin produksi massal. Bukan juga peralatan yang tinggal dibeli di toko. Mesin dibuat agar presisi dengan ukuran dan bentuk dandang yang mereka kerjakan. “Dulu, bapak kita ini mikir, bagaimana caranya. Bisa dibayangkan dulu melubangi saringan satu per satu pakai paku,” ungkapnya.

    Mereka kemudian berkonsultasi dengan Bengkel Cokro dan membuat alat sesuai kebutuhan. Berulang kali mencoba. Berulang kali memperbaiki. Sampai akhirnya menemukan bentuk yang bisa digunakan. Bagi para perajin, kemampuan bertahan bukan hanya soal mempertahankan cara lama. Mereka juga harus menemukan cara agar pekerjaan lama tetap bisa dilakukan di zaman yang berubah.

    Dandang yang dibuat di Kampung Dupak Magersari ternyata tidak hanya beredar di Surabaya. Pesanannya datang dari berbagai daerah. Mulyadi bahkan baru-baru ini mengirim 100 buah dandang ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Pesanan juga datang dari Maumere.

    Saat ini, ia mengerjakan puluhan dandang untuk Pasar Grosir Surabaya dan ratusan buah untuk dikirim ke luar pulau. Artinya, meskipun dandang tradisional mulai berhadapan dengan berbagai peralatan dapur modern, kebutuhan terhadap produk buatan tangan yang satu ini belum sepenuhnya hilang.

    Ada pasar yang tetap bertahan. Pelanggan yang masih kembali. Dan ada daerah-daerah yang masih membutuhkan dandang untuk tradisi memasak dalam jumlah besar. Kualitas menjadi salah satu alasan yang membuat pelanggan tetap datang.

    Dandang buatan Kampung Dupak Magersari ini dibuat dengan aluminium yang relatif tebal. Paling tipis sekitar 0,8 milimeter dan bisa mencapai 1 milimeter, tergantung ukuran dan permintaan. Dandang di sini diklaim dapat bertahan hingga sekitar lima tahun dengan perawatan yang baik.

    Daya tahan produk, kata Mulyadi, merupakan bagian dari alasan mengapa usaha keluarganya masih memiliki pelanggan. Bukan sekadar menjual dandang. Mereka menjual barang yang dibuat dengan tangan, dengan ukuran dan ketebalan yang dapat disesuaikan.

    Keberadaan perajin dandang membuat koperasi dan UMKM di Dupak Magersari memiliki cerita yang saling berkelindan. Koperasi membantu warga memiliki akses terhadap modal. Rumah menjadi tempat tinggal sekaligus ruang ekonomi. Harmonis.

    Dan di antara gang-gang sempit, pekerjaan lama tetap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mulyadi sendiri telah menjalani pekerjaan tersebut sekitar satu dekade, meneruskan usaha yang sebelumnya dijalankan ayahnya. Ia bahkan memiliki alasan yang sangat sederhana untuk terus melakukannya. “Ini rumah kita,” katanya.

    Kalimat itu ia lanjutkan dengan keyakinan bahwa meski rumah dan kampung mereka mungkin sederhana, masih ada sesuatu yang dapat diandalkan untuk menghidupi keluarga. Di Dupak Magersari, koperasi tumbuh dari uang yang kecil. UMKM tumbuh dari modal yang diputar. Rumah menjadi ruang usaha. Dan dandang tetap dibuat dengan tangan. Semuanya bertemu pada satu hal. Kemampuan warga untuk menghidupi diri sendiri dari apa yang mereka miliki.

  5. Didorong Masuk ke Rantai Pasok

    Endy Alim Abdi Nusa, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, diwawancarai di ruang kerjanya untuk sebuah wawancara.
    Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Endy Alim Abdi Nusa saat diwawancarai di ruang kerjanya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

    Di Dupak Magersari, orang-orang sebenarnya sudah lama bekerja. Mereka membuat dandang, berjualan makanan, menerima pesanan, menjadi pedagang kecil, atau menjalankan usaha dari ruang sempit di rumah sendiri. Mereka tidak menunggu datangnya sebuah perusahaan besar untuk memberi pekerjaan.

    Ekonomi itu tumbuh dari rumah-rumah yang berhimpitan. Tapi, ada satu persoalan yang sering dihadapi usaha-usaha kecil seperti itu. Mereka tumbuh sendiri-sendiri. Pedagang membeli barang sendiri. Pengusaha rumahan mencari pasar sendiri. Perajin membuat produk sendiri. Ketika membutuhkan tambahan modal, mereka mencari pinjaman sendiri. Ketika ingin memperluas pasar, mereka kembali harus mengetuk pintu sendiri.

    Di titik inilah koperasi menjadi penting. Bagi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur Endy Alim Abdi Nusa, koperasi tidak semestinya berhenti sebagai tempat simpan pinjam. Koperasi, menurut dia, justru harus menjadi kekuatan ekonomi yang menghubungkan warga, produk, modal, dan pasar.

    Selama ini, ia melihat sebagian besar koperasi di masyarakat memang bergerak pada simpan pinjam. Model itu penting karena menyediakan akses modal. Namun, koperasi tidak seharusnya berhenti di sana. "Koperasi itu macam-macam. Di luar negeri, ada koperasi susu, koperasi keju, koperasi macam-macam. Justru koperasi produksi," kata Endy, Selasa (15/9/2026).

    Pandangan itu terasa dekat dengan apa yang sedang tumbuh di Dupak Magersari. Koperasi Srikandi Kapirel memang belum menjadi koperasi besar dengan jaringan distribusi yang panjang. Ia bermula sangat kecil. Dari kebiasaan menyisihkan Rp2.000 setiap hari. Uang yang bagi sebagian orang mungkin terasa remeh itu dikumpulkan, diputar, dipinjamkan kembali kepada anggota, lalu kembali lagi menjadi modal bersama.

    Tetapi dari lingkaran kecil itu, perlahan muncul sesuatu yang lebih besar. Rasa percaya. Uang tidak berhenti sebagai angka dalam buku simpanan. Ia berubah menjadi tambahan modal pedagang. Menjadi barang dagangan yang bisa diputar. Biaya sekolah ketika keluarga membutuhkan. Ventilasi dan jendela rumah. Ruang produksi dandang. Juga menjadi kesempatan bagi anggotanya untuk memperbaiki tempat tinggal sekaligus mempertahankan pekerjaan keluarganya.

    Di rumah Wiwik, misalnya, batas antara rumah dan tempat usaha hampir tidak ada. Lantai bawah dipakai suaminya untuk membuat dandang. Lantai atas menjadi tempat keluarga tinggal. Setelah direnovasi, ruang hunian itu menjadi lebih nyaman, sementara kegiatan produksi tetap bisa berjalan di bawah. Rumah tidak hanya menjadi tempat pulang. Ia juga menjadi tempat orang bekerja dan mencari penghidupan.

    Di situlah wajah ekonomi Dupak Magersari yang sesungguhnya. Tidak selalu terlihat sebagai pabrik. Tidak harus punya papan nama besar. Tidak perlu memiliki toko di jalan utama. Tetapi ia hidup dari tangan-tangan warga yang setiap hari mengubah keterampilan menjadi penghasilan.

    Endy menyebut tantangan berikutnya adalah bagaimana usaha-usaha kecil itu tidak terus-menerus berjalan sendiri. Ia menggambarkan koperasi sebagai simpul yang dapat mempertemukan para pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas. Produk yang selama ini hanya dijual kepada tetangga atau pelanggan tetap dapat dikumpulkan, diperkuat perizinannya, dikemas bersama, lalu dipasarkan melalui jaringan yang lebih besar.

    "Jadi koperasi itu adalah dari warga, oleh warga, dan untuk warga," ujar Endy.

    Kalimat itu menemukan maknanya sendiri di Dupak Magersari. Sebab kampung ini sudah memiliki modal yang paling dasar. Orang-orang yang mau bekerja. Ada perajin dandang yang mewarisi keterampilan dari generasi sebelumnya, pedagang makanan dan jajanan, penjual daring, serta ibu-ibu yang menjalankan usaha dari rumah.

    Yang selama ini kurang bukan semata-mata kemauan bekerja. Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana kekuatan kecil itu dikumpulkan sehingga menjadi lebih besar. Dandang yang dibuat di sebuah rumah, harusnya tidak lagi hanya dipandang sebagai barang buatan seorang perajin. Ia bisa menjadi identitas Kampung Dandang. Produk dari kampung itu memiliki cerita, keterampilan, dan pasar yang telah terbentuk puluhan tahun. Begitu pula dengan makanan, jajanan, dan usaha rumahan lainnya.

    Jika masing-masing berjalan sendiri, daya tawarnya terbatas. Tetapi ketika mereka berhimpun, koperasi dapat menjadi kendaraan bersama untuk mengurus kebutuhan yang selama ini sulit dilakukan oleh pelaku usaha secara perorangan. Akses modal, perizinan, pengadaan bahan baku, pemasaran, hingga pencarian pasar.

    Endy menyebut gagasan itu sebagai upaya mendorong UMKM agar tidak hanya berkutat pada pola usaha yang sama dari tahun ke tahun. "Kalau UMKM kita penuh dengan wong dodolan (orang berjualan) keripik, batik, lurik, rasanya kok angel (sulit) maju. Ya gitu-gitu terus akhirnya," katanya. Menurut dia, UMKM akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang apabila masuk ke dalam rantai pasok industri. Bukan sekadar menjadi penjual produk akhir, tetapi menjadi pemasok bagian-bagian yang dibutuhkan industri.

    Logikanya sederhana. Sebuah industri besar membutuhkan banyak komponen. Ada bahan, kemasan, perlengkapan, komponen kecil, hingga jasa pendukung. Jika sebagian kebutuhan itu dapat dipenuhi oleh usaha kecil di sekitarnya, maka pertumbuhan industri tidak harus berjalan dengan meninggalkan UMKM.

    Gagasan itu mungkin terdengar jauh dari gang-gang sempit Dupak Magersari. Tetapi sebenarnya tidak. Sebab dandang yang dibuat secara manual di kampung itu juga merupakan sebuah rantai pasok dalam skala kecil. Ada yang membeli aluminium. Lalu mengolahnya. Kemudian ada yang membuat badan dandang, saringan, tutup, dan bagian-bagian lainnya.

    Dari situ, ada yang menerima pesanan. Ada yang mengirimkan barang ke luar kota, bahkan ke luar pulau. Produk yang lahir dari sebuah rumah di tepi rel ternyata bisa menyeberang jauh dari kampungnya.

    Saat ini, tantangannya bukan mengubah warga Dupak Magersari menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Justru sebaliknya, bagaimana yang sudah mereka miliki diperkuat. Keterampilan dandang tetap menjadi dandang. Pedagang makanan tetap berjualan makanan. Penjual daring tetap menjual dagangannya. Tetapi akses terhadap modal, pasar, perizinan, pengetahuan, dan jejaringnya diperluas.

    Koperasi dapat menjadi simpul dari semuanya. Endy bahkan melihat jejaring antarkoperasi sebagai salah satu jalan untuk menciptakan pasar yang lebih luas. Koperasi tidak harus hanya mengenal anggota di kampungnya sendiri. Ia dapat terhubung dengan koperasi lain yang memiliki produk berbeda dan kebutuhan pasar yang berbeda pula.

    Konsep itu seperti mempertemukan kampung-kampung yang selama ini berjalan dalam lorongnya masing-masing. Di Dupak Magersari, jejaring semacam itu bisa menjadi babak berikutnya. Sebab koperasi yang lahir dari Rp2.000 sehari itu sudah membuktikan satu hal. Modal kecil tidak selalu berarti kecil dampaknya. Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dapat menjadi pinjaman. Pinjaman dapat menjadi modal usaha. Modal usaha dapat menjadi penghasilan. Dan penghasilan itu kembali menghidupi keluarga.

    Kini tantangannya adalah membuat lingkaran itu semakin lebar. Bukan sekadar agar anggota koperasi bertambah, melainkan agar semakin banyak kegiatan ekonomi warga yang bisa saling menguatkan. Sebab pada akhirnya, persoalan Dupak Magersari bukan tentang apakah warganya bekerja atau tidak.

    Mereka bekerja. Setiap hari. Di balik pintu rumah, di bawah tangga, di depan tungku, di balik lembaran aluminium, di warung kecil, di pasar, dan di ruang-ruang yang sekaligus menjadi tempat tinggal. Yang sedang dicari adalah cara agar kerja keras yang selama ini tercecer itu memiliki daya tawar yang lebih besar. Dan koperasi adalah salah satu cara untuk membuat mereka berhenti berjalan sendirian.

  6. Tantangan Membawa Koperasi Naik Kelas

    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau aktivitas di Koperasi Kelurahan Merah Putih Tukangkayu, Banyuwangi.
    Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa saat meninjau Koperasi Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Tukangkayu, Banyuwangi. Dok. Pemprov Jatim.

    Kisah Koperasi Srikandi Kapirel bukan cerita yang berdiri sendiri. Ia adalah potongan kecil dari persoalan yang jauh lebih besar. Bagaimana ekonomi kerakyatan bisa bertahan dan berkembang ketika sebagian besar pelakunya berada di lapisan paling bawah.

    Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa melihat, koperasi dalam kerangka yang lebih luas. Koperasi tidak semestinya dipahami sekadar sebagai lembaga simpan pinjam atau tempat mencari tambahan modal. "Koperasi harus dibangun sebagai gerakan ekonomi berbasis kebersamaan yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat dari bawah," ungkapnya.

    Pernyataan itu seperti menemukan bentuk konkretnya di tepi rel Dupak Magersari. Sebab yang dilakukan warga di sana memang bukan sekadar meminjam uang. Mereka sedang membangun mekanisme agar uang warga tetap berputar di antara warga.

    Ketika seorang anggota meminjam, uang itu digunakan untuk kebutuhan rumah, usaha, atau keperluan keluarga. Ketika dikembalikan, uang tidak pergi dari kampung. Ia kembali menjadi modal bersama dan dapat dipinjam anggota lainnya. Satu rupiah yang masuk ke koperasi memiliki kesempatan untuk bekerja lebih dari sekali.

    Dari sudut pandang ekonomi makro, angka-angka yang dibawa Khofifah menunjukkan betapa besar sebenarnya ruang yang ditempati ekonomi kerakyatan di Jatim. Perekonomian Jatim pada triwulan I tercatat tumbuh 5,96 persen. Dari pertumbuhan ini, Khofifah menyebut sekitar 60 persen merupakan kontribusi koperasi dan UMKM.

    Angka itu mengubah cara melihat koperasi seperti Koperasi Srikandi Kapirel. Ia mungkin hanya memiliki sekitar 25 anggota aktif. Modal yang berputar di dalamnya juga belum sebanding dengan koperasi-koperasi besar.

    Tetapi aktivitas ekonomi yang berlangsung di dalamnya merupakan bagian dari ekosistem yang jauh lebih besar. Pedagang kecil, penjual jajanan, penjual daring, perajin dandang, pekerja rumahan, hingga keluarga yang membutuhkan biaya sekolah, semuanya adalah bagian dari ekonomi yang bergerak setiap hari.

    Ekonomi itu tidak selalu tercatat dalam bentuk gedung atau perusahaan besar. Ia bergerak dari rumah ke rumah. Dari dapur. Meja kerja. Lembaran aluminium yang dipukul dengan palu. Barang dagangan yang ditumpuk di ruang sempit. Dan uang Rp2.000 yang disisihkan setiap hari.

    Khofifah sendiri mengingatkan bahwa koperasi memiliki sejarah panjang. Ia pernah berkunjung ke Rochdale, Greater Manchester, Inggris, tempat yang dikenal sebagai kelahiran gerakan koperasi modern pada 1844. Koperasi lahir dalam situasi ketika Revolusi Industri membawa perubahan besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Sejarah tersebut penting karena menunjukkan bahwa koperasi sejak awal bukan semata-mata sebuah model bisnis. Ia lahir dari kebutuhan untuk membangun kekuatan ekonomi melalui kebersamaan.

    Ketika koperasi dibicarakan di tengah kampung seperti Dupak Magersari, yang sebenarnya sedang dibicarakan bukan hanya tentang pinjaman Rp400 ribu, Rp7,5 juta, atau Rp10 juta.

    Yang sedang dibicarakan adalah siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi. Siapa yang memiliki kesempatan mendapatkan modal. Siapa yang menentukan bagaimana keuntungan berputar. Dan apakah hasil kerja warga kembali kepada warga. Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika pemerintah kini mendorong pembentukan koperasi dalam skala yang jauh lebih besar.

    Pada 2025, Jatim mencapai target pembentukan 8.494 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh desa/kelurahan. Hingga akhir September 2026 ini, Pemprov Jatim menargetkan, 4.099 di antaranya telah terverifikasi dan tervalidasi. Selanjutnya, koperasi-koperasi ini akan menjadi bagian dari sekitar 14.000 KDKMP yang ditargetkan segera beroperasi. Tahun ini.

    Skalanya memang jauh berbeda dengan Srikandi Kapirel. Dari satu kampung ke ribuan desa dan kelurahan. Tetapi pertanyaan dasarnya sama, apakah koperasi benar-benar menjadi milik warga dan bekerja untuk memperkuat ekonomi warga? Di Dupak Magersari, jawabannya dapat dilihat dari cara uang itu diperlakukan. Uang tidak dibiarkan mengendap. Ia dipinjamkan. Diputar. Dikembalikan. Kemudian dipinjamkan lagi. Begitu seterusnya.

    Prinsip sederhana itu justru menjadi kekuatan utama koperasi. Modal yang kecil dapat memiliki umur yang panjang ketika dikelola secara bersama-sama. Namun, tantangan koperasi hari ini tidak berhenti pada bagaimana mengumpulkan modal. Dunia usaha telah berubah. Pasar berpindah ke ruang digital. Konsumen menemukan produk melalui telepon genggam. Transaksi tidak lagi harus terjadi di pasar fisik. Bahkan kecerdasan buatan mulai masuk ke berbagai lini usaha, dari produksi hingga pemasaran.

    Sebagai orang nomor satu di pemerintahan Jatim, Khofifah menekankan bahwa koperasi juga harus mengikuti perubahan zaman. "Digital ecosystem adalah sebuah kebutuhan, artificial intelligence (AI) ini juga sebuah keniscayaan," ujarnya.

    Bagi koperasi kecil seperti Srikandi Kapirel, modernisasi mungkin tidak harus dimulai dengan sesuatu yang rumit. Bisa saja dimulai dari pencatatan yang lebih rapi. Data anggota yang lebih tertib. Pemasaran produk anggota melalui kanal digital. Pendataan usaha warga. Pemetaan siapa yang membutuhkan modal dan untuk apa modal tersebut digunakan. Atau bahkan sekadar memastikan produk yang dibuat di Dupak Magersari dapat ditemukan oleh pembeli yang berada puluhan atau ratusan kilometer dari sana.

    Sebab Kampung Dandang telah menunjukkan bahwa pasar sebenarnya tidak selalu berhenti di depan rumah. Dandang buatan warga pernah dikirim ke luar kota, bahkan menyeberang pulau.

    Tradisi dan teknologi tidak harus menjadi dua kutub yang berlawanan. Dandang tetap dibuat dengan keterampilan tangan. Tetapi pemasaran, pencatatan, desain, pengelolaan pesanan, dan pencarian pasar dapat dilakukan dengan cara yang lebih modern. Koperasi dapat menjadi jembatan di antaranya. Itulah sebabnya, angka 60 persen kontribusi koperasi dan UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5,96 persen pada triwulan I tahun 2026 yang disebut Gubernur Khofifah tidak semestinya berhenti sebagai statistik.

    Di balik angka tersebut ada jutaan aktivitas ekonomi yang berlangsung dalam skala kecil. Seperti di Dupak Magersari. Kampung ini menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang-kadang ia dimulai dari Rp2.000. Lalu menjadi simpanan, pinjaman, usaha, rumah yang lebih layak, uang produksi hingga dandang yang dikirim ke luar pulau. Dan akhirnya menjadi bagian dari angka besar yang menggerakkan ekonomi Jatim.

  7. Koperasi Jangan Kehilangan Akar

    Infografis Kampung Dupak Magersari di Surabaya dengan informasi visual mengenai kawasan permukiman tersebut.
    Infografis Kampung Dupak Magersari Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

    Ada sesuatu yang menarik dari Koperasi Srikandi Kapirel di Dupak Magersari. Ia tidak lahir dari sebuah proyek. Tidak dimulai dari target berapa koperasi yang harus berdiri. Tidak pula berawal dari modal besar yang tiba-tiba datang ke kampung. Ia tumbuh dari kebutuhan warga sendiri. Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Hendry Cahyono menilai, justru di situlah letak kekuatan koperasi.

    Hendry menyebut Srikandi Kapirel sebagai koperasi yang relatif murni berlandaskan partisipasi masyarakat. Koperasi semacam itu, menurutnya, lebih dekat dengan gagasan awal koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat. "Koperasi tidak sekadar badan usaha, melainkan gerakan ekonomi rakyat yang berasaskan kekeluargaan dan gotong royong," ujarnya, Rabu (16/9/2026).

    Koperasi Srikandi Kapirel tumbuh dari bawah atau bottom up. Warga sendiri yang menjadi anggota, menyisihkan uang, menentukan kebutuhan, kemudian memanfaatkan dananya ketika membutuhkan. Model seperti itu membuat koperasi berangkat dari persoalan nyata.

    Warga yang tinggal di dalamnya tahu kapan pedagang membutuhkan tambahan modal. Mereka tahu siapa yang sedang memperbaiki rumah. Mereka tahu siapa yang membutuhkan uang untuk mendaftarkan anak sekolah. Mereka juga tahu siapa yang menjalankan usaha dan berpotensi mengembangkan dagangannya jika mendapat sedikit tambahan modal. Koperasi menjadi dekat karena kebutuhan itu juga dekat.

    Prinsip semacam ini, kata Hendry, penting karena koperasi pada dasarnya bertumpu pada swadaya, kesukarelaan, dan kesadaran anggota untuk berpartisipasi. Di tengah geliat pembentukan KDKMP, ia melihat kondisi kontras yang patut diperhatikan. Program besutan Presiden Prabowo Subianto itu memiliki skala jauh lebih besar dan didorong dari tingkat pemerintah pusat. Sementara Koperasi Srikandi Kapirel tumbuh dari inisiatif warga.

    Hendry tidak mempersoalkan besarnya program KDKMP. Yang ia soroti adalah bagaimana memastikan semangat kesukarelaan tidak hilang ketika koperasi dibangun melalui kebijakan dari atas. Sebab, jika koperasi terlalu diperlakukan semata-mata sebagai badan usaha yang harus segera berjalan, ada risiko kebutuhan anggota justru menjadi nomor dua.

    "Kalau koperasi hanya dilihat sebagai badan usaha, prinsip kesukarelaan dalam koperasi bisa terpinggirkan. Ini sangat berisiko bagi keberlanjutan program," katanya.

    Kritik itu bukan berarti koperasi yang dibangun melalui program pemerintah pasti gagal. Justru sebaliknya, kritik ini menjadi pengingat bahwa besarnya modal dan banyaknya jumlah koperasi tidak otomatis menunjukkan kuatnya gerakan koperasi. Koperasi membutuhkan pemilik yang merasa memiliki. Butuh anggota yang aktif. Mengaokomodir kebutuhan nyata yang dijawab. Dan yang paling penting, mempunyai alasan mengapa warga harus tetap berada di dalamnya.

    Dupak Magersari menunjukkan bagaimana alasan itu dapat dibangun. Ketika seorang anggota meminjam untuk menambah modal dagangan, koperasi terasa berguna. Ketika uang digunakan memperbaiki rumah agar lebih sehat, manfaatnya terlihat. Ketika rumah yang direnovasi sekaligus menjadi ruang produksi dandang, hubungan antara koperasi dan penghidupan keluarga menjadi semakin nyata.

    Tetapi ada persoalan lain yang lebih besar di Jatim. Koperasi simpan pinjam memang tumbuh karena ada kebutuhan. Hendry melihat menjamurnya koperasi simpan pinjam tidak bisa dilepaskan dari proses pasar. Ketika permintaan terhadap pembiayaan tinggi, lembaga yang menyediakan pembiayaan juga akan tumbuh. Persoalannya muncul ketika struktur pinjaman lebih besar daripada simpanan, atau ketika pinjaman lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif daripada kegiatan produktif.

    Pada titik itu, koperasi memang memberikan akses keuangan, tetapi belum tentu mengubah kapasitas ekonomi rumah tangga peminjam. Di sinilah kondisi pekerja Jatim menjadi penting. Hendry menyebut jumlah pekerja informal di Jatim mencapai sekitar 25 juta orang atau sekitar 64 persen dari total pekerja. Kelompok ini memiliki karakter yang sangat beragam, mulai dari pelaku usaha mikro, buruh tidak tetap, pekerja bebas, hingga pekerja keluarga yang tidak menerima upah.

    Bagi mereka yang tidak memiliki akses memadai ke perbankan, koperasi simpan pinjam dapat menjadi semacam oase. Mereka membutuhkan uang untuk bertahan. Tetapi kebutuhan bertahan hidup dan kebutuhan mengembangkan usaha adalah dua hal yang berbeda. Jika pinjaman hanya digunakan untuk menutup kebutuhan konsumsi hari ini, maka bulan berikutnya kebutuhan baru akan muncul. Utang selesai dibayar, tetapi kapasitas pendapatan belum tentu bertambah.

    Sebaliknya, ketika pinjaman digunakan untuk membeli bahan baku, menambah stok, memperbaiki peralatan, memperluas pasar, atau meningkatkan produktivitas, pinjaman memiliki peluang menjadi modal pertumbuhan. Perbedaan kecil itu dapat menentukan masa depan sebuah rumah tangga.

    Maka dari itu, koperasi tidak cukup hanya bertanya, "Berapa yang bisa dipinjam?". Pertanyaan berikutnya mestinya adalah, "Uang itu akan digunakan untuk apa?". Dan setelah itu, "Apakah penggunaan uang tersebut membuat kehidupan anggota menjadi lebih kuat?". Pertanyaan terakhir inilah yang menurut Hendry perlu mendapat perhatian lebih besar.

    Sebab Jatim masih menghadapi persoalan struktural di pasar tenaga kerja.

    Penyerapan tenaga kerja masih banyak ditopang sektor pertanian, perdagangan, dan manufaktur. Hendry menyebut sektor pertanian menyerap sekitar 31,7 persen tenaga kerja, perdagangan sekitar 19 persen, sementara manufaktur sekitar 18 persen. Struktur itu ikut menjelaskan mengapa pekerjaan informal masih mendominasi. Sektor informal kemudian menjadi jalan masuk bagi banyak orang untuk memperoleh penghasilan, termasuk mereka yang tidak terserap oleh sektor formal.

    Ironisnya, pendidikan tinggi juga belum otomatis menjadi tiket menuju pekerjaan formal. Hendry mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi justru terdapat pada lulusan universitas, sekitar 6,04 persen, disusul lulusan SMA sekitar 5,75 persen. Angka ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata jumlah pendidikan, tetapi kesesuaian antara keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan ekonomi yang tersedia.

    Ke depan, persoalan itu menjadi semakin kompleks karena digitalisasi. Pekerjaan berubah. Sebagian pekerjaan lama berkurang, sementara pekerjaan baru membutuhkan keterampilan yang berbeda. Di sektor digital dan kreatif, bahkan muncul kelompok gig worker yang bekerja secara fleksibel, tetapi memiliki keterampilan tinggi. Menurut Hendry, Jatim tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan jangka pendek. Tidak ada quick win untuk persoalan sebesar itu.

    "Pemerintah perlu merancang kebijakan yang lebih panjang, menarik investasi manufaktur agar mampu menciptakan lebih banyak pekerjaan formal, memperkuat pendidikan dan keterampilan, sekaligus menyiapkan ekosistem bagi pekerja digital dan kreatif," katanya.

    Dalam konteks ini, koperasi dan UMKM memiliki tempat yang berbeda tetapi saling berkaitan. Koperasi dapat memperkuat akses modal dan jejaring. UMKM dapat menjadi ruang produksi dan penciptaan penghasilan. Industri dapat menyediakan pasar dan rantai pasok. Pendidikan menyediakan keterampilan. Pemerintah menyediakan ekosistem.

    Jika semuanya berjalan sendiri-sendiri, hasilnya terbatas. Jika dihubungkan, dampaknya dapat lebih besar. Hendry pun mengingatkan agar ukuran keberhasilan UMKM tidak disederhanakan menjadi satu kata. Ekspor.

    Ekspor memang dapat menjadi tanda bahwa sebuah produk telah menemukan pasar di luar negeri. Tetapi ekspor bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Bahkan, menjadi usaha besar juga tidak otomatis berarti sebuah usaha telah membawa kesejahteraan bagi pemilik dan pekerjanya. "UMKM sukses belum tentu harus meninggalkan status UMKM. Sebaliknya, naik kelas menjadi usaha besar belum tentu menjamin kesejahteraan," katanya.

    Menurut dia, ukuran yang lebih penting adalah apakah usaha tersebut sehat secara keuangan, tumbuh berkelanjutan, produktif, semakin formal, mampu memanfaatkan teknologi, memiliki daya tahan, berkeadilan, dan meningkatkan kesejahteraan pelakunya.

    Dengan ukuran itu, sebuah usaha kecil di Dupak Magersari tidak harus merasa gagal hanya karena tetap menjadi usaha kecil. Seorang perajin dandang tidak perlu meninggalkan rumah produksinya untuk disebut berhasil. Pedagang makanan tidak mesti berubah menjadi perusahaan besar agar pekerjaannya memiliki nilai. Koperasi Srikandi Kapirel juga tidak wajib segera menjadi koperasi raksasa agar dapat disebut berhasil.

    Jika modal Rp2.000 yang dikumpulkan setiap hari mampu membuat seorang ibu mendapatkan tambahan modal, seorang pedagang mempertahankan usahanya, seorang anak bisa didaftarkan sekolah, sebuah rumah menjadi lebih sehat, dan sebuah ruang bawah rumah tetap menghasilkan dandang, maka di situlah ada keberhasilan yang konkret.

    Hendry menyebut, "naik kelas" bukan sebuah keharusan. Yang lebih penting adalah kualitas, kemandirian, dan kesejahteraan. Dengan cara pandang itu, Dupak Magersari tidak perlu dipaksa menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kampung ini sudah memiliki modal sosial, keterampilan, usaha, dan sejarah ekonomi sendiri.

    Tugas kebijakan publik bukan menggantikannya dengan sesuatu yang baru, melainkan membuat kekuatan yang sudah tumbuh dari bawah itu memiliki akses yang lebih luas terhadap modal, pasar, teknologi, keterampilan, dan perlindungan. Sebab koperasi yang paling hidup bukan selalu yang paling besar. Justru koperasi yang membuat anggotanya merasa, ketika membutuhkan bantuan, mereka tidak sedang berhadapan dengan sebuah lembaga yang jauh. Mereka sedang mengetuk pintu rumah sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More