Ibu Korban Mutilasi Madiun: Dua Nyawa, Saya Minta Hukuman Mati

- Hartik, ibu DH, meminta terduga pelaku Dwi Bagus Martono alias Tono dihukum mati setelah DH dan anaknya, AGF, tewas dalam dugaan pembunuhan disertai mutilasi di Madiun.
- Hartik mengaku sangat terpukul, sulit tidur dan makan. Kecurigaannya muncul setelah komunikasi dengan DH terputus sejak sekitar 20 Oktober 2026.
- Kepolisian masih mendalami kronologi dan bukti kasus tersebut. Hartik juga meminta penyidik mengusut kemungkinan keterlibatan pihak lain, meski belum terkonfirmasi.
Madiun, IDN Times – Hartik (58), ibu kandung DH (30), tak kuasa menahan kesedihan setelah putrinya dan cucunya, AGF (4), menjadi korban dugaan pembunuhan disertai mutilasi di Kota Madiun, Jawa Timur. Ia meminta terduga pelaku, Dwi Bagus Martono alias Tono, dihukum seberat-beratnya, bahkan berharap dijatuhi hukuman mati.
Di tengah duka yang mendalam, Hartik mengaku tidak pernah menyangka putri dan cucunya akan meninggal dalam peristiwa tragis tersebut. Hingga kini, ia mengaku masih kesulitan tidur dan makan setelah mengetahui kabar kematian keduanya.
“Hancur, hancur-hancurnya. Terpukul juga. Saya tidak menyangka,” ujar Hartik yang hadir di lokasi rekontruksi, Selasa (27/10/2026).
Ia berharap proses hukum terhadap terduga pelaku berjalan tuntas. Bagi Hartik, kehilangan dua anggota keluarga sekaligus menjadi pukulan berat yang sulit diterima.
“Ibu mah hukuman mati sekeluarga, karena itu dua nyawa,” katanya.
Hartik juga meminta polisi mengusut kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut. Ia menduga Tono tidak bertindak sendirian, meski dugaan itu belum terkonfirmasi oleh penyidik.
“Enggak mungkin dia sendiri, pasti ada temannya,” ucapnya.
Sebelum kasus tersebut terungkap, Hartik mengaku sempat merasa curiga karena komunikasi dengan DH terputus. Ia menyebut komunikasi terakhir dengan putrinya terjadi melalui telepon dan panggilan video sekitar 20 Oktober 2026.
Setelah itu, ia mengaku tidak lagi berkomunikasi dengan Dini seperti biasanya. Hartik pun berusaha mencari keberadaan putrinya dan berharap bisa bertemu sebelum Tono pergi bekerja.
Kecurigaan itu muncul karena perubahan komunikasi tersebut. Namun, Hartini mengaku tidak pernah membayangkan persoalan yang menimpa putrinya akan berujung pada tragedi yang merenggut dua nyawa.
“Ibu sampai sekarang enggak bisa tidur, enggak bisa makan,” tuturnya.
Hartik mengungkapkan bahwa dirinya telah mengenal Tono sejak putrinya menjalin hubungan dengan pria tersebut. Menurut dia, DH dan Tono menikah secara siri.
Ia mengaku mengetahui hubungan keduanya tidak selalu berjalan harmonis. DH dan Tono disebut beberapa kali terlibat cekcok, tetapi Hartini mengaku tidak menyangka konflik tersebut akan berujung pada dugaan tindak pidana serius.
“Iya, sering cekcok, tapi enggak seperti ini,” katanya.
Hartik juga menyebut AGF merupakan anak DH yang telah ia sayangi sejak masih bayi. Kehilangan putri sekaligus cucunya membuat dirinya semakin terpukul.
Di tengah kesedihan itu, ia berharap aparat kepolisian dapat mengungkap seluruh rangkaian kejadian, termasuk memastikan apakah ada pihak lain yang terlibat.
Kasus dugaan pembunuhan disertai mutilasi terhadap DH dan AGF masih dalam penanganan kepolisian. Penyidik terus mendalami kronologi serta mengumpulkan bukti untuk mengungkap peristiwa yang menyebabkan ibu dan anak tersebut meninggal dunia.



















