Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Tantangan Media di Era AI yang Disorot AMSI

Kota Surabaya
4 min read
3 Tantangan Media di Era AI yang Disorot AMSI
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika . (Dok. AMSI)
  • AMSI menyoroti tiga tantangan pers: distribusi berita dikuasai platform dan kreator, AI mengurangi klik melalui ringkasan jawaban, serta kepercayaan publik pada berita turun menjadi 37 persen.

  • Dalam IDMC 2026, AMSI mendorong jurnalisme kembali fokus pada verifikasi, peliputan lapangan, dokumen, dan konteks karena kecepatan serta volume konten mudah ditiru AI.

  • AMSI mengajak media membangun hubungan audiens lewat wartawan sebagai kreator, kemitraan, model bisnis beragam, aksi kolektif, dan kekuatan media lokal dalam menjawab kebutuhan warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 kembali digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang dilaksanakan di Shangri-La Hotel, Surabaya, Rabu (28/10/2026). Pada gelaran IDMC tahun ini, AMSI menekankan agar media lahir kembali menghadapi era digital dan kecerdasan buatan.

IDMC 2026 kali ini Mengusung tema “Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI & Content Creator”, konferensi pada 28–29 Oktober 2026 ini membahas masa depan industri media di tengah perubahan teknologi digital.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika mengatakan, pers saat ini tengah menghadapi tantangan yang kompleks. Setidaknya ada tiga tantangan utama yang ia jabarkan dalam sambutannya.

Pertama, distribusi tidak lagi milik perusahaan pers. Hampir 54 persen masyarakat mendapat sumber berita dari media sosial dan platform video menjadi sumber berita terbesar secara global. Bahkan, hampir separuh orang kini mendapat berita dari kreator konten, dan lebih dari seperempat dari kreator yang khusus membahas berita.

"Halaman depan kita sudah digantikan feed. Dan wajah yang dipercaya publik di feed itu sering kali bukan wajah media," ujarnya

Kedua, mesin pencari berubah menjadi mesin jawaban. AI telah merangkum karya jurnalistik, dan pembaca tidak perlu lagi mengklik laman. Riset AMSI bersama Monash menemukan dampak negatif yang signifikan terhadap klik setelah hadirnya Google AI Overview pada enam dari 13 media yang diteliti.

"Karya kita diambil. Nilainya dinikmati pihak lain. Biayanya kita yang tanggung," jelasnya.

Ketiga soal kepercayaan. Kepercayaan terhadap berita kini berada di 37 persen, terendah sejak survei Reuters Institute dimulai pada 2015. Pada saat yang sama, kekhawatiran publik terhadap berita palsu naik menjadi 62 persen. "Publik makin cemas terhadap informasi palsu, tapi makin tidak percaya kepada kita, yang seharusnya menyediakan obat penawarnya. Ini bukan hanya masalah platform. Itu juga masalah kita. Saatnya melakukan refleksi diri," sebutnya.

Karena itulah IDMC tahun ini mengambil tema Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI and Content Creator. Kata reborn dipilih dengan sengaja. Lahir kembali bukan berarti menghidupkan yang lama.

"Lahir kembali berarti berani melepaskan sebagian dari diri kita yang lama, supaya yang esensial bisa bertahan," terangnya.

Untuk itu ia mengusulkan tiga langka agar pers terus berkelanjutan. Langkah pertama, mendefinisikan ulang jurnalisme. Bertahun-tahun, banyak dari pers mengukur jurnalisme dengan metriks yang kini tak lagi relevan, mulai dari berapa berita per hari, berapa pageview, berapa klik dan berlomba menjadi yang tercepat mengabarkan hal yang sama.

"Tapi di era AI, kecepatan dan volume adalah hal yang paling mudah ditiru mesin. Yang tidak bisa ditiru mesin adalah wartawan yang datang ke lokasi, memverifikasi, menggali dokumen, bertanya, dan menjelaskan konteks," sebutnya .

Untuk itu, jurnalisme harus kembali menjadi kerja menemukan dan menguji kebenaran, bukan sekadar memproduksi konten. Kredibilitas bukan slogan yang harus diulang ulang dalam pidato. "Kredibilitas adalah alur kerja yang berintegritas, yang bisa diverifikasi dan diperiksa oleh pihak ketiga," ungkap dia.

Langkah kedua adalah mendefinisikan ulang media. Media bukan lagi sekadar situs berita. Media adalah jembatan yang menghubungkan kita, redaksi, wartawan, dengan pembaca, dengan komunitas, dengan klien, dengan pengiklan yang membutuhkan audiens yang percaya.

"Kawan-kawan content creator bukan musuh kita. Mereka membuktikan satu hal: publik ingin mendengar dari manusia yang mereka kenal dan percaya. Maka wartawan kita juga harus berani tampil sebagai kreator: hadir di setiap platform, dengan wajah, suara, dan standar jurnalisme yang kita percaya," jelasnya.

Selain menjadi kreator, pers juga bisa bermitra dengan kreator, membawa verifikasi dan etika ke dalam ekonomi kreator. Tentu bisnis pun tidak boleh bertumpu pada satu kaki.

"Ada model langganan dan keanggotaan. Acara dan komunitas. Riset dan data. Lisensi arsip dan konten untuk AI. Kekayaan intelektual dari liputan kita. Tidak ada satu model untuk semua. Setiap media harus menemukan aset yang hanya ia miliki, diferensiasi utamanya, dan segmen audiens yang ingin ia layani," jelasnya.

Media juga harus bertindak bersama. Satu media lokal tidak punya daya tawar di hadapan perusahaan teknologi global. Tapi lebih dari 500 media anggota AMSI yang berbicara dengan satu suara, itu daya tawar. Itulah mengapa AMSI mendorong revisi Undang-Undang Hak Cipta, lisensi kolektif, dan negosiasi bersama. "Kita tidak menolak teknologi dan platform. Kita menuntut hubungan yang adil," ungkap Wahyu.

Langkah ketiga, pers harus menemukan kembali relevansi untuk audiensnya. Pembaca tidak hanya butuh diberi tahu apa yang terjadi. Mereka butuh penjelasan. Butuh perspektif. Butuh bantuan untuk mengambil keputusan, soal harga kebutuhan pokok, sekolah anak, banjir di kampungnya, kebijakan pemerintahnya.

"Mereka butuh merasa terhubung. Dan hari hari ini, mereka butuh harapan. Media lokal punya keunggulan yang tidak dimiliki AI dan platform mana pun, kedekatan. Anda tahu jalan mana yang rusak, sekolah mana yang kekurangan guru, anggaran mana yang tidak sampai ke warga. Itu bukan berita kecil. Itu relevansi," kata Wahyu.

Pembaca akan kembali. Bukan karena algoritma, tapi karena mereka membutuhkan pers. Dan ketika pembaca merasakan value atau nilai dari produk pers, maka mereka akan ikut menjamin independensi. Ikut menjaga kebebasan pers.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More