AMSI Luncurkan The Protocol Gap: Indonesia, Lindungi Konten Berita
AMSI meluncurkan laporan The Protocol Gap: Indonesia yang memetakan perlindungan konten jurnalistik dari crawler AI, di tengah dominasi trafik bot sebesar 57,4 persen pada situs berita Indonesia.
Dari 1.565 situs berita yang diteliti, 74,6 persen memakai robots.txt, tetapi hanya 10 persen memblokir setidaknya satu bot scraper; media lokal dinilai paling rentan karena keterbatasan SDM dan tim IT.
Riset mencatat trafik situs berita turun 20–70 persen saat konten diambil bot, sementara regulasi Indonesia belum melindungi media; AMSI mendorong audit perlindungan data dan revisi UU Hak Cipta.
Surabaya, IDN Times - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) meluncurkan The Protocol Gap: Indonesia, konten Jurnalistik Indonesia di era AI: Siapa yang Mendapatkan Akses dalam Indonesia Digital Media Conference (IDMC) di Shangri-La Hotel Surabaya Rabu (28/10/2026). The Protocol Gap: Indonesia adalah laporan soal sejauh mana perusahaan media Indonesia membatasi akses Crawley AI atau perayap AI untuk melindungi karya jurnalistik dan keberlanjutan bisnis media.
Associate Professor at Public Policy and Management Program, Monash University Indonesia, Ika Karlina Indris dalam laporannya mengatakan, pengunjung situs berita Indonesia saat ini bukan hanya manusia, tetapi juga bots. Data dari Cloudflare mencatat bahwa trafik mencapai 57,4 persen berasal dari bots dan hanya 42,6 persen itu dari manusia.
"Bots-bots itu milik siapa? Bots-bots itu milik Google, OpenAI, Anthropic, Meta, dan mungkin juga Bytedance," ujarnya.
Ika mengatakan, semua perusahaan itu butuh data untuk melatih AI, untuk menjalankan asisten AI, dan untuk memberi makan mesin pencarian mereka yang berbasis AI. Perusahaan AI global, saat ini sedang berebut data berkualitas dan ada harganya. Bahkan mereka sampai berani untuk menjebol situs pemerintah.
"Sudah terjadi di Australia untuk mengambil data yang dimiliki oleh pemerintah. Sayangnya, gitu ya, mereka bisa membuat kerja sama atau bersedia membayar tapi belum ke semua lembaga atau organisasi pemerintahan. Open AI misalnya membayar 250 juta USD untuk data yang dimiliki oleh News Corp selama 5 tahun," ungkap dia.
Menurutnya, berita adalah data yang paling premium, yang diinginkan oleh perusahaan AI berbasis Large Language Model (LLM). Sebab, berita berisi informasi yang aktual, terverifikasi, bahkan bahasanya adalah bahasa global, dan memiliki konten yang sangat dinamis.
"Kita saat ini, Bapak dan Ibu, utamanya media-media lokal karena yang di-repost adalah berita-berita lokal, kita duduk di atas tambang emas, tapi pertanyaannya sekarang adalah yang menambang, yang menikmati hasilnya apakah kita atau kita membiarkan orang lain yang menambang emas kita," terang dia.
Pihaknya telah melakukan riset yang diinisiasi oleh The International Fund for Public Interest Media (IFPIM) mengidentifikasi bahwa sejauh ini dari 1.565 situs berita yang ada di Indonesia, hanya 74,6 persen yang sudah dipasangi oleh pagar robots.txt. Dari 74,6 persen itu hanya 10 persen yang mengunci datanya dan memblokir setidaknya satu bot scraper. Angka ini naik persentase di bulan Juli yang cuma 5,8 persen.
"Angka itu sebenarnya masih sangat kecil dibandingkan apa yang misalnya dilakukan oleh Afrika Selatan yang mengunci yang menerapkan robots.txt dan memblokir datanya sampai dengan 30,4 organisasi pemerintah. Di Brasil sebenarnya lebih kecil lagi dari kita sekitar 7 persen," jelasnya.
Riset tersebut juga menunjukkan, trafik situs berita turun sekitar 20 sampai 70 persen. Saat ini kondisinya konten dari news organisasi itu diambil, trafik hilang, dan perusahaan pers tidak mendapatkan apa-apa.
"Ini sebenarnya sudah masuk ke ranah kapitalisme global dari platform. Ini dilema nyata karena robot AI itu sebenarnya sekarang sering dikutip dari news organization atau organisasi berita itu kehilangan visibilitasnya," kata dia.
Regulasi di Indonesia saat ini belum memiliki kebijakan yang melindungi perusahaan media dari ancaman tantangan AI. AMSI sudah berusaha untuk mendorong revisi undang-undang tahun 2014 tentang hak cipta agar konten berita nisa mendapatkan hak cipta.
Sayangnya, yang paling rentan dalam revisi ini sebenarnya adalah media-media kecil. Media-media lokal dengan sumber daya manusia (SDM) yang kecil. Padahal, konten-konten mereka memiliki nilai yang cukup tinggi.
"Namun, media lokal inilah yang biasanya paling rentan karena tidak punya tim IT atau tim yang untuk membantu mereka melindungi datanya," katanya.
Protocol Gap: Indonesia adalah ikhtiar AMSI untuk mengidentifikasi seberapa rawan situs berita yang dimiliki, dan apa yang perlu dilakukan. Perusahaan perlu mengidentifikasi apakah data yang dimiliki di masing-masing situs beritanya sudah terlindungi.
Kalau terlindungi, kalau tidak terlindungi, berapa kerugian yang diakibatkan oleh bot scraper ini dalam crawling data-data, dan yang terakhir, menurut saya paling penting adalah untuk bersatu mengawal undang-undang hak cipta, revisi undang-undang hak cipta bersama dengan AMSI," pungkas dia.


















