Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Komunitas Tunanetra Keluhkan Trotoar di Surabaya yang Kurang Ramah

Kota Surabaya
2 min read
Komunitas Tunanetra Keluhkan Trotoar di Surabaya yang Kurang Ramah
Alfian Andhika saat berjalan di trotoar Surabaya. (Dok. Alfian Andhika)
  • Komunitas tunanetra mengeluhkan trotoar dekat Stasiun Surabaya Gubeng lama karena tiang pembatas menghalangi jalur pemandu dan menyebabkan Alfian Andhika menabrak tiang.

  • Guiding block di lokasi disebut terlalu kecil dan berwarna hitam, sementara sejumlah trotoar lain dilaporkan memiliki ubin mengelupas, tidak standar, atau berukuran kecil.

  • Pertuni Jatim meminta Pemkot Surabaya mengevaluasi penempatan tiang dan jalur pemandu serta melibatkan penyandang disabilitas dalam perencanaan, meski transportasi publik dinilai cukup ramah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Komunitas disabilitas tunanetra mengeluhkan fasilitas umum (fasum) trotoar di Kota Surabaya yang kurang ramah terhadap tunanetra. Keluhan itu datang dari Plt Ketua DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jawa Timur, Alfian Andhika.

Saat itu, ia berjalan dari Stasiun Surabaya Gubeng lama menuju rumah makan yang tak jauh dari tempat tersebut. Ketika berjalan di trotoar mengikuti ubin pemandu, tiba-tiba perutnya tertabrak tiang pembatas.

"Ada tiang lain yang posisinya melintang dan mengenai perut. Sayangnya, yang satu ini nggak sempat terekam. Walah, niat budal sarapan romantis karo bojo, kok malah dada karo weteng dikongkon kenalan dhisik karo tiang! 😂 Padahal, seingat saya, dulu nggak ada tiang melintang seperti ini. Persoalan serupa juga pernah terjadi dan sempat diperbaiki pada era Bu Risma. Lha kok sekarang muncul persoalan yang sama lagi? Kalau begini terus, apa artinya perbaikan yang dulu, Rek?," tulis Alfian melalui akun Threads-nya.

Tak cuma itu, Alfian juga mendapat informasi bahwa guiding block atau jalur pemandu di lokasi tersebut dinilai terlalu kecil dan berwarna hitam. Kondisi dan kesesuaiannya dengan standar aksesibilitas tentu perlu diperiksa lebih lanjut.

"Bagi kami yang tunanetra, jalur pemandu di trotoar itu membantu kami berjalan secara mandiri. Kalau jalurnya tidak sesuai atau justru terhalang tiang, jadinya ya begini, bawah aman, atas kena," kata dia.

Alfian pun berharap kepada Pemerintah Kota Surabaya dan pihak terkait, untuk meninjau dan mengevaluasi penempatan tiang pembatas dan jalur pemandunya. Ia juga berharap penyandang disabilitas turut dilibatkan dalam perencanaan pembangunan Kota.

"Saya menyampaikan ini karena saya ingin kota ini semakin ramah dan aksesibel bagi semua warganya. Ayo, Rek, bantu kawal bersama," ungkap dia.

Dihubungi IDN Times, Alfian mengatakan, secara umum fasilitas publik di Kota Surabaya cukup ramah disabilitas. Tetapi, masih ada berapa hal yang perlu diperbaiki.

"Mungkin secara umum, itu sudah agak aman ya, untuk fasilitas di Surabaya, itu tapi mungkin banyak hal yang mungkin dari kasus ini banyak trotoar-trotoar yang begitu juga, sama kayak di area Gubeng itu, dan banyak juga trotoar-trotoar yang ubinnya mengelupas, tidak standart, kekecilan, dan lain sebagainya," kata dia.

Di sisi lain, ia mengapresiasi fasilitas transportasi publik di Kota Surabaya yang juga sudah cukup ramah disabilitas. Meski demikian, fasilitasi penunjangnya juga harus ramah.

"Kita harus tetap apresiasi bahwa transportasi umum di Surabaya sudah aman, tapi balik lagi, kalaupun transportasi umum udah bagus, tapi untuk pengarahan susah juga akhirnya menjadi PR lagi," pungkas dia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More