Harga Telur Belum Membaik, Peternak Magetan Terancam Gulung Tikar

- Harga telur di Magetan masih rendah di Rp22.800 per kilogram, sementara biaya pakan terus naik, membuat peternak ayam petelur merugi dan terancam gulung tikar.
- Produksi telur melimpah tidak terserap pasar, penjualan turun drastis hingga stok menumpuk di gudang, meski peternak sudah melakukan aksi protes agar harga segera membaik.
- Lesunya daya beli masyarakat membuat pedagang pasar juga terdampak, penjualan anjlok tajam dan stok menumpuk, sehingga mereka berharap pemerintah segera menstabilkan harga.
Magetan, IDN Times – Harapan peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu mendongkrak harga telur ternyata belum terwujud. Hingga kini, harga telur di tingkat peternak masih bertahan rendah di angka Rp22.800 per kilogram, sementara biaya pakan terus merangkak naik.
Kondisi tersebut membuat banyak peternak mengaku merugi dan terancam gulung tikar jika situasi tak kunjung membaik.
1. Telur menumpuk, penjualan anjlok drastis

Salah satu peternak yang terdampak adalah Soni Suwarno, warga Desa Cepoko, Kecamatan Panekan. Saat ini, sekitar 1,2 ton telur hasil panennya masih menumpuk di gudang karena belum laku terjual.
Padahal, sebanyak 10 ribu ayam petelur miliknya terus berproduksi setiap hari. Biasanya, Soni mampu menjual hingga 40 kotak telur per hari kepada para pedagang. Namun kini, penjualannya turun drastis menjadi hanya 10 hingga 15 kotak per hari.
"Kemaren kita protes turun ke jalan, sempat dijanjikan akan dibeli SPPG dan dinas ya. Namun hingga saat ini belum kami rasakan peningkatannya, harga belum sesuai harapan, bila dibandingkan dengan harga pakan naik,” ujar Soni, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, jika stok terlalu lama tersimpan, kualitas telur bisa menurun hingga membusuk dan menyebabkan kerugian besar bagi peternak.
2. Harga pakan naik, puluhan peternak menjerit

Tak hanya harga telur yang rendah, peternak juga dibebani kenaikan harga pakan ternak. Harga konsentrat kini mencapai Rp450 ribu per sak ukuran 50 kilogram, naik dari sebelumnya Rp400 ribu.
Sementara itu, harga jagung naik dari Rp6 ribu menjadi Rp6.500 per kilogram. Harga katul pun ikut melonjak dari Rp3.500 menjadi Rp4.500 per kilogram.
"Kalau terus seperti ini peternak bisa gulung tikar,” keluh Soni.
Di Desa Cepoko sendiri terdapat sekitar 40 peternak ayam petelur yang mengalami kondisi serupa. Mereka menilai melimpahnya produksi telur tidak diimbangi dengan serapan pasar yang memadai sehingga harga terus tertekan.
Sebelumnya, para peternak ayam petelur di Magetan juga sempat menggelar aksi protes di Simpang Empat Alun-alun Magetan pada Rabu (6/5/2026). Dalam aksi itu, mereka membagikan sekitar 3 ton telur gratis kepada pengguna jalan sebagai bentuk protes terhadap anjloknya harga telur.
3. Pedagang pasar ikut terdampak lesunya pembeli

Lesunya pasar telur juga dirasakan pedagang di Pasar Sayur Magetan. Salah satu pedagang, Sri Martini, mengaku penjualan telur menurun tajam sejak sebulan terakhir akibat minimnya pembeli.
Biasanya ia mampu menjual 7 hingga 8 kotak telur per hari. Namun kini, penjualannya bahkan tidak sampai satu kotak per hari meski harga sudah ditekan di kisaran Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.
"Sulitnya karena tidak ada yang beli sejak sebulan terakhir stok barang jadi menumpuk seperti ini,” katanya.
Turunnya daya beli masyarakat membuat stok telur di pasar terus menumpuk. Para pedagang dan peternak kini berharap pemerintah segera turun tangan melalui program penyerapan telur maupun kebijakan stabilisasi harga agar usaha mereka tetap bertahan.


















