Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Wisudawan Pendidikan Luar Bias Unesa, Tanpa Penglihatan, Penuh Harapan
Wisudawan Unesa, Elpanta Tarigan. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Elpanta Tarigan, wisudawan tunanetra setinggi 215 cm dari Jurusan Pendidikan Luar Biasa Unesa, berhasil lulus dengan prestasi dan langsung diterima sebagai pegawai tetap di kampusnya.
  • Perjalanan hidup Elpanta penuh tantangan sejak kehilangan penglihatan di usia 12 tahun, namun dukungan keluarga dan tekad kuat membawanya menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.
  • Ia aktif di bidang akademik dan olahraga seperti catur serta goalball, menggunakan teknologi screen reader untuk menyelesaikan skripsi tentang peran Pertuni dalam meningkatkan keterampilan sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Pagi jelang siang, Ballroom Graha di Universitas Negeri Surabaya tak sekadar menjadi ruang seremoni. Ia berubah menjadi panggung sunyi yang penuh makna. Riuh tepuk tangan mendadak mereda ketika satu sosok berdiri dari kursinya, Rabu (29/4/2026).

Elpanta Tarigan melangkah perlahan. Tinggi badannya mencuri perhatian, sekitar 215 sentimeter. Namun bukan itu yang membuat ribuan pasang mata terpaku. Di tangannya, ada tongkat yang menuntunnya. Ia berjalan dalam gelap yang sudah ia kenal sejak usia 12 tahun. Di belakangnya, seorang teman setia membimbing langkahnya menuju podium. Setiap pijakan terasa terukur. Setiap gerak menyimpan cerita panjang.

Ketika ia sampai di atas panggung, tepuk tangan kembali pecah. Lebih keras, lebih lama. Rektor Prof Nurhasan menyambutnya dengan hangat. Bukan sekadar ucapan selamat, tapi juga sebuah pengakuan. Elpanta bukan wisudawan biasa. Ia adalah salah satu yang terbaik dari Jurusan Pendidikan Luar Biasa.

Di tengah momen itu, ia mendapat tawaran yang tak semua orang miliki. Melanjutkan S2 atau langsung bekerja di kampus. Pilihan itu sempat menggantung beberapa detik. Namun jawabannya akhirnya tegas. Ia memilih bekerja.

“Mulai tanggal 1 Mei, Mas El menjadi pegawai tetap di Unesa,” ujar Nurhasan. Kalimat itu seperti menutup satu bab, sekaligus membuka yang baru. "Terima kasih Prof," kata Elpanta.

Perjalanan Elpanta menuju panggung itu tidak pernah lurus. Ia kehilangan penglihatannya di usia 12 tahun. Usia ketika dunia anak-anak seharusnya masih penuh warna. Pukulan itu sempat membuatnya goyah. Namun ia tidak berhenti terlalu lama. Dukungan keluarga dan teman menjadi pijakan awal untuk bangkit.

Dari Medan, ia menempuh pendidikan di SLB Akarya Murni. Lalu berlanjut ke SMA inklusi, sebelum akhirnya merantau ke Surabaya untuk kuliah. Perpindahan itu bukan hanya soal jarak, tapi juga soal budaya. Ia harus belajar lagi, bukan hanya pelajaran kampus, tapi juga cara berkomunikasi, beradaptasi, dan diterima di lingkungan baru.

Tak semua perjalanan ramah. Ejekan pernah datang. Keraguan dari orang lain sempat menghampiri. Tapi Elpanta menyimpan satu keyakinan sederhana. "Saya percaya selalu ada jalan," ucapnya.

Keyakinan itu yang membawanya menyelesaikan skripsi tentang peran Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dalam meningkatkan keterampilan sosial. Ia mengerjakannya bukan dengan huruf braille, melainkan laptop biasa yang dilengkapi screen reader, sebuah teknologi yang “membacakan” setiap kata yang ia tulis. Dari September hingga Januari, ia menuntaskan karyanya. Dalam sunyi. Dalam gelap. Tapi dengan arah yang jelas.

Di luar akademik, Elpanta juga menemukan dunia lain catur. Ia mengenalnya dari seorang guru tunanetra di sekolah. Dari sana, papan hitam-putih itu menjadi ruang baru baginya untuk “melihat”. Ia mengikuti berbagai kompetisi, dari tingkat kota hingga provinsi. Tak berhenti di situ, ia juga pernah turun di Pekan Paralimpik Pelajar cabang tolak peluru, hingga meraih prestasi di olahraga goalball.

Tubuhnya yang tinggi menjulang memberi keunggulan sekaligus tantangan.

Dengan tinggi lebih dari dua meter, dunia di sekitarnya sering terasa “tidak pas”. Ia kerap terbentur benda yang tak bisa ia lihat. Mencari pakaian dan sepatu menjadi perjuangan tersendiri. Ukuran sepatunya, 56, angka yang jarang tersedia, bahkan harus dipesan khusus. Namun, seperti hal lain dalam hidupnya, ia menyesuaikan diri. Bukan menyerah.

Kini, langkah Elpanta tidak berhenti di podium wisuda. Ia memilih untuk langsung bekerja, membangun pijakan yang lebih kokoh sebelum suatu hari kembali ke Medan. Mimpinya sederhana, tapi dalam. Menjadi pendidik. Ia ingin hadir bagi mereka yang mungkin sedang berada di titik yang dulu pernah ia rasakan. Bingung, jatuh, dan mencari arah.

Editorial Team