Surabaya, IDN Times - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur (Jatim) memproyeksikan ekonomi Jawa Timur pada 2026 akan tumbuh solid di kisaran 4,9 persen hingga 5,72 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Optimisme tersebut ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, investasi, serta terjaganya permintaan eksternal.
Kepala BI KPw Jatim, Ibrahim, mengatakan Jawa Timur tetap menjadi motor penggerak ekonomi nasional maupun di Pulau Jawa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi Jatim terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar 14,21 persen, terbesar kedua setelah DKI Jakarta. “Sama dengan tahun lalu atau 2025, konsumsi rumah tangga, investasi, dan terjaganya permintaan eksternal masih menjadi kontributor pendukung kinerja ekonomi di tahun ini,” ujarnya.
Pada 2025, ekonomi Jatim tercatat tumbuh 5,332 persen (yoy), meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 4,93 persen (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan kinerja ekspor. Sementara dari sisi penawaran, akselerasi terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan, pertanian, serta akomodasi dan makan minum.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Jatim pada Januari 2026 tercatat terkendali di level 3,29 persen (yoy). Ibrahim menyebut capaian ini merupakan hasil sinergi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). “Inflasi yang terkendali ini sejalan dengan kuatnya sinergi dan inovasi program TPID dalam kerangka pengendalian inflasi 2025,” jelasnya.
Optimisme terhadap kinerja ekonomi juga disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Horas V M. Tarhoran, menyebut kondisi perbankan nasional hingga Desember 2025 tetap kuat.
Total kredit tercatat mencapai Rp625,66 triliun atau tumbuh 1,90 persen (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp817,59 triliun, tumbuh 3,50 persen (yoy). Rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di level 3,37 persen, sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di angka 31,38 persen. “Ketahanan perbankan terhadap risiko likuiditas terjaga baik. Solidnya kinerja perbankan selama 2025 juga sejalan dengan capaian positif di pasar modal, asuransi, hingga perusahaan modal ventura,” kata Horas.
Dari sisi fiskal, Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jatim, Saiful Islam, menyampaikan belanja APBN di Jawa Timur hingga Desember 2025 tumbuh kuat, ditopang oleh Transfer ke Daerah (TKD).
Pemerintah, kata dia, menjalankan fungsi APBN sebagai shock absorber melalui sejumlah program prorakyat, seperti Program Makan Bergizi Gratis untuk pelajar dan santri, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, pembangunan Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta peningkatan infrastruktur konektivitas.
Sementara itu, Kepala LPS II Provinsi Jatim, Bambang S Hidayat, memastikan keamanan dana nasabah tetap terjamin. LPS menjamin lebih dari 665 juta rekening simpanan di Bank Umum dan 15,7 juta rekening di BPR/BPRS di Jatim.
