Dear Tiga Cagub-Cawagub, Ini Suara dan Harapan Anak-anak Jatim

Surabaya, IDN Times - Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkadak serentak Jawa Timur menjadi kesempatan perwakilan anak dan anak muda menyampaikan harapa kepada calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur (Cagub-Cawagub Jatim). Mereka membuat harapan yang ditujukan kepada tiga Cagub dan Cawagub Jatim untuk menjamin terpenuhnya hak-hak anak.
Perwakilan kelompok Anak, Remaja dan Anak Muda se-Jawa Timur, Aulia Izza, Alief Maghfiranu Putra Riyadi, dan Garnis Rizky Amelia menuturkan, berbagai perwakilan anak-anak di Jatim dalam beberapa bulan terakhir berkumpul untuk menyerap suara serta usulan anak yang merespon kondisi Jawa Timur saat ini, khususnya di bidang perlindungan anak.
Berbagai pertemuan itu diikuti anak-anak dari 38 kabupaten/kota yang tergabung dalam kelompok anak dari berbagai komunitas dan dampingan seperti dari Wahana Visi Indonesia, UNICEF, LPA Jatim, Tunas Hijau, Plato Foundation, CCCM, Komnas PA Surabaya, ISCO, Yayasan Embun, SCCC, Savy Amira, Kampoeng Dolanan, AMERTA KASIH - FKM Unair, serta berbagai pemerhati anak lainnya.
“Sehingga terhimpun keresahan serta harapan yang diinginkan oleh anak-anak pada para Calon Kepala Daerah se-Jawa Timur untuk diperjuangkan demi anak-anak,” kata Izza saat konferensi pers di Palm Hotel Surabaya , Sabtu (23/11/2024).
Izza mewakili anak-anak Jawa Timur ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada calon kepala daerah di Jawa Timur atas visi dan misi yang sudah diencanakan untuk masa depan Jawa Timur.
Dalam berbagai diskusi anak-anak, lpengentasan kemiskinan sangat penting. Lewat keluarga yang sejahtera, anak-anak akan bisa tumbuh lebih baik dan merasa aman terhadap kebutuhan dasar tumbuh kembang anak-anak. Namun, berbagai organisasi anak dan pemuda di Jawa Timur ingin menyampaikan bahwa keluarga yang sejahtera tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga sejahtera secara sosial.
“Harapan kami, calon Kepala Daerah juga memberikan perhatian bagi kesejahteraan anak-anak dan remaja serta anak muda dengan memastikan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang. Terlindungi dari berbagai perlakuan salah, kekerasan dan eksploitasi di lingkungan keluarga serta khususnya bagi anak-anak yang tinggal dan diasuh oleh pengasuh pengganti termasuk anak-anak di lingkungan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren,” jelasnya.
Alief menambahkan, anak dan pemuda di Jawa timur bersyukur karena Ayah dan Bunda memikirkan kesehatan anak-anak. Pihaknya juga menekankan, Ayah dan Bunda juga memperhatikan kesehatan mental anak-anak dan juga orang tua.
“Kesehatan mental menjadi salah satu kebutuhan dasar yang mendesak saat ini karena banyaknya anak muda yang mengalami kecemasan, depresi, dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Termasuk perlindungan khusus terhadap teman-teman kami dengan mengidap HIV. Dengan layanan kesehatan yang merata dan mudah diakses kami bisa bermain, belajar, dan tumbuh dengan tubuh yang sehat secara fisik dan mental,” ucapnya.
Selain itu, Alief juga ingin memastikan semua anak mendapatkan pendidikan berkualitas dan siap menghadapi tantangan global dengan pendidikan abad 21. Anak-anak Jatim ingin sekali belajar tanpa khawatir tidak bisa melanjutkan sekolah dan bebas dari rasa takut terhadap kekerasan dan bullying di lingkungan sekolah termasuk dalam lingkungan berasrama ataupun pesantren.
“Kami berharap pendidikan untuk semua anak terselenggara tanpa diskriminasi termasuk bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus (anak disabilitas, anak berhadapan dengan hukum, korban NAPZA, kekerasan seksual, perkawinan anak, pekerja anak),” tegasnya.
Selanjutnya, Garnis menambahkan, anak-anak Jatim juga ingin menyampaikan, qda beberapa hal tentang anak-anak yang mungkin bisa lebih diperhatikan lagi, seperti kasus perkawinan usia anak yang disebabkan akibat pergaulan bebas, tekanan budaya perjodohan, hingga nikah siri karena dispensasi kawin tidak dikabulkan pengadilan.
Pihaknya merasakan dampaknya kemiskinan struktural yang terus menghimpit, meningkatnya kasus KDRT, perceraian yang melukai, hingga kematian ibu muda dan bayi yang merenggut masa depan.
Selain itu, Garnis menyuarakan maraknya persebaran informasi dan materi-materi online yang mengandung kekerasan, pornografi, dan hoax sehingga diperlukan perlindungan anak di ranah online.
“Harapannya, pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat memastikan ketersediaan layanan dan perlindungan bagi anak, anak korban kekerasan, eksploitasi seksual di ranah online serta memastikan terselenggaranya program perlindungan anak melalui pendidikan kesejahteraan keluarga berbasis pengetahuan digital,” jelasnya.
Berikut poin-poin harapan suara anak dan anak muda Jawa Timur kepada Cagub dan Cawagub:
1. Kesejahteraan
• Mendorong agar ada perhatian khusus bagi kesejahteraan anak, remaja dan anak muda.
• Memastikan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang, terlindungi dari berbagal perlakuan salah, kekerasan dan eksploitasi di lingkungan keluarga serta khususnya bagi anak-anak yang tinggal dan diasuh oleh pengasuh pengganti termasuk anak-anak di lingkungan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren.
• Mendorong adanya layanan khusus kesejahteraan dan perlindungan anak rentan yang mudah diakses serta ramah di tingkat masyarakat dan sekolah di seluruh Jawa Timur. Menyediakan pekerja sosial yang profesional khusus anak dengan jumlah memadai di seluruh Jawa Timur.
2. Kesehatan
• Memastikan program kesehatan mental menjadi salah satu layanan kebutuhan dasar yang mendesak saat ini karena banyaknya anak muda yang mengalami masalah kesehatan mental, kecemasan, depresi, dan keinginan untuk mengakhiri hidup.
• Jaminan Kesehatan bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus seperti anak dengan HIV, korban NAPZA, korban kekerasan seksual, perkawinan anak, dan lainnya, dengan layanan kesehatan yang merata dan mudah diakses.
3. Pendidikan
• Memastikan program pendidikan untuk semua anak terselenggara tanpa diskriminasi khususnya bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus (anak disabilitas, anak berhadapan dengan hukum, korban NAPZA, kekerasan seksual, perkawinan anak, pekerja anak dan lainnya).
• Memastikan pendidikan yang layak dan ramah tanpa kekerasan.
4. Perkawinan Anak
• Memastikan upaya pencegahan perkawinan anak dengan wajib belajar 13 tahun.
• Penegakan hukum terhadap pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dan Undang-Undang Perkawinan.
• Optimalisasi kapasitas anak dengan peningkatan keterampilan hidup melalui program keterampilan abad 21 di sekolah baik formal maupun non formal termasuk di Pondoke Pesantren.
• Memastikan terpenuh dan terlindunginya hak-hak dasar korban perkawinan anak melalui program dan layanan terpadu pencegahan dan penanganan perkawinan anak.
5. Keamanan Online dan Kekerasan Seksual
• Memastikan terselenggaranya perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual khususnya materi dan informasi digital yang mengandung kekerasan, kekerasan seksual, pornografi dan hoax.
•Memastikan ketersediaan dan kemudahan akses layanan bagi anak korban kekerasan, eksploitasi seksual di ranah offline dan online termasuk adanya fasilitas panic button atau unit reaksi cepat bagi anak-anak yang mengalami kekerasan dan kekerasan seksual serta layanan-layanan konseling bagi anak, remaja dan anak muda di sekolah, kampus dan masyarakat.
•Mendorong terselenggaranya program dan layanan pencegahan perlindungan anak melalui pendidikan kesejahteraan keluarga dan program desa/kelurahan ramah anak
6. Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup
• Mendorong edukasi terkait perubahan iklim dan lingkungan hidup bagi semua anak di sekolah-sekolah, keluarga dan masyarakat
• Mendorong adanya kebijakan serta program terkait perubahan iklim dan lingkungan hidup yang ramah anak dengan melibatkan semua pemangku kepentingan khususnya dunia usaha
• Perbanyak ruang hijau di perkotaan dan pedesaan untuk mengurangi emisi karbon, menurunkan suhu, dan memberikan tempat aman bagi anak-anak untuk bermain dan belajar.
• Melibatkan anak muda dalam memberikan ide dan gagasan serta melibatkan mereka dalam kegiatan penanaman pohon, daur ulang, atau aksi bersih-bersih lingkungan.
7. Pelibatan Anak, Remaja dan Anak Muda Dalam Pembangunan
• Mendorong para pemangku kepentingan untuk memperluas pelibatan anak, remaja dan anak muda dalam pembangunan mulai dari perencanaan, dengan mengadakan musrenbang khusus bagi anak, remaja dan anak muda serta pelibatan dalam pemantauan pelaksanaan pembangunan melalui kanal khusus yang mudah diakses dan aman.
• Mendorong penguatan kapasitas anak, remaja dan anak muda agar bisa berpartisipasi secara aktif dan berarti dalam proses-proses pembangunan di semua tingkatan.



















