Peternak Ayam Petelur di Ngawi Angkat Bendera Putih

- Banyak peternak ayam petelur di Desa Ploso, Ngawi, menghentikan usaha karena biaya produksi tinggi dan keuntungan menurun drastis.
- Harga pakan ayam melonjak hingga Rp455.500 per sak, sementara harga telur turun menjadi sekitar Rp19 ribu per kilogram di tingkat peternak.
- Peternak yang masih bertahan harus menjual telur ke luar daerah dengan pembayaran tertunda, membuat arus kas makin tertekan.
Ngawi, IDN Times – Nasib peternak ayam petelur di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kian memprihatinkan. Dalam dua bulan terakhir, satu per satu peternak mulai menghentikan usahanya. Kandang yang sebelumnya dipenuhi ribuan ayam kini dibiarkan kosong karena usaha tak lagi menghasilkan keuntungan.
Kondisi itu terlihat di Desa Ploso, Kecamatan Kendal. Dari sekitar 60 peternak ayam petelur di desa tersebut, sebagian memilih gulung tikar, sementara sisanya masih bertahan meski harus berjibaku mencari pasar hingga luar daerah.
1. Harga pakan terus meroket

Beban terbesar peternak berasal dari kenaikan harga pakan. Harga pakan ayam kini mencapai Rp455.500 per sak ukuran 50 kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp408 ribu.
Ratnawati (45), peternak di Desa Ploso, mengaku kenaikan biaya produksi membuat usahanya tak lagi layak dipertahankan. Ia memilih mengosongkan kandang daripada terus menanggung kerugian.
"Harga pakan terus naik dan harga telur anjlok. Saya memilih berhenti dan mengosongkan kandang daripada terus merugi," katanya, Selasa (01/7/2026).
2. Harga telur anjlok di tingkat peternak

Di saat biaya produksi melonjak, harga jual telur justru turun tajam. Jika sebelumnya mencapai lebih dari Rp23 ribu per kilogram, kini peternak hanya bisa menjual sekitar Rp19 ribu per kilogram.
Selisih harga tersebut membuat keuntungan peternak tergerus. Bahkan, sebagian mengaku hasil penjualan telur tidak lagi mampu menutup biaya pakan dan operasional harian.
3. Pasar semakin sulit, pembayaran pun molor

Peternak yang masih bertahan harus mencari pembeli hingga luar daerah. Rokhim (59), misalnya, kini menjual telur sampai Kaliurang, Yogyakarta. Sebelumnya, ia hanya memasok ke wilayah Sragen, Jawa Tengah.
Meski pasar lebih jauh, persoalan belum selesai. Harga tetap rendah dan pembayaran baru diterima sekitar tiga hari setelah pengiriman, sehingga arus kas peternak semakin tertekan.
"Sekarang saya jual sampai Kaliurang. Semakin berat karena harga pakan naik, telur sulit laku, dan pembayaran juga harus menunggu," ujarnya.
Dengan populasi ayam mencapai 2.000 hingga 10.000 ekor per peternak, tutupnya usaha peternakan di Desa Ploso menjadi sinyal serius bagi sektor perunggasan rakyat di Ngawi.
Tanpa perbaikan harga pakan maupun harga telur, bukan tidak mungkin jumlah peternak yang gulung tikar akan terus bertambah.


















