Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Minyak dan Tepung Naik, Produsen Kerupuk di Magetan Pangkas Isi

Harga Minyak dan Tepung Naik, Produsen Kerupuk di Magetan Pangkas Isi
Aktivitas pabrik kerupuk di Desa Malang, Kecamatan Maospati. IDN Times/Riyanto.
Intinya Sih
  • Produsen kerupuk di Magetan mengurangi isi dan ukuran kerupuk agar harga jual tetap stabil meski biaya produksi meningkat.
  • Kenaikan harga minyak goreng, tepung, dan plastik kemasan membuat pelaku UMKM tertekan karena biaya operasional melonjak tajam.
  • Strategi pengurangan isi ini dilakukan untuk mempertahankan pelanggan dan menjaga keberlangsungan usaha di tengah margin keuntungan yang makin menipis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Magetan, IDN Times – Kenaikan harga minyak goreng belum berhenti menghantam pelaku UMKM. Kini, harga tepung dan plastik kemasan ikut merangkak naik sehingga membuat biaya produksi semakin membengkak. Demi bertahan, produsen kerupuk di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, memilih mengurangi ukuran dan jumlah isi kerupuk dalam setiap kemasan tanpa menaikkan harga jual. Strategi tersebut terpaksa dilakukan agar pelanggan tidak beralih ke produk lain, meski keuntungan yang diperoleh terus menipis

1. Isi kerupuk berkurang, ukuran ikut diperkecil

Riyanto
Aktivitas pabrik kerupuk di Desa Malang, Kecamatan Maospati. IDN Times/Riyanto.

Perajin kerupuk di Desa Malang, Kecamatan Maospati, kini mengurangi isi setiap kemasan. Jika sebelumnya satu bungkus berisi 15 keping kerupuk dengan harga Rp3 ribu, sekarang hanya berisi 14 keping dengan harga yang tetap sama.

Tak hanya jumlahnya yang dikurangi, ukuran kerupuk juga dibuat lebih kecil. Cara ini dipilih agar biaya produksi tetap terkendali tanpa harus menaikkan harga jual kepada konsumen.

2. Harga minyak dan tepung sama-sama naik

Riyanto
Aktivitas pabrik kerupuk di Desa Malang, Kecamatan Maospati. IDN Times/Riyanto.

Wahyuni (52), salah seorang perajin kerupuk, mengatakan usahanya kini semakin terbebani akibat kenaikan harga bahan baku. Harga minyak goreng curah yang sebelumnya sekitar Rp16 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp19.300 per kilogram. Sementara itu, harga tepung sebagai bahan baku utama juga ikut mengalami kenaikan.

Setiap hari, usahanya membutuhkan sekitar 250 kilogram minyak goreng untuk menggoreng berbagai jenis kerupuk. Kenaikan harga minyak dan tepung membuat biaya produksi melonjak cukup signifikan.

"Sejak harga minyak naik, kami kena imbasnya. Harga tepung juga ikut naik, begitu juga plastik kemasan. Mau menaikkan harga jual takut pembeli kabur, jadi kami hanya bisa mengurangi jumlah isi kemasan dan memperkecil ukuran kerupuk," ujarnya, Selasa (01/7/2026).

3. Plastik kemasan melonjak, keuntungan makin tipis

Riyanto
Aktivitas pabrik kerupuk di Desa Malang, Kecamatan Maospati. IDN Times/Riyanto.

Beban produsen tidak berhenti pada minyak dan tepung. Harga plastik kemasan juga melonjak dari sekitar Rp30 ribu menjadi Rp52 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan pelaku usaha semakin tergerus.

Wuryadi, salah seorang pengecer kerupuk, mengaku pendapatannya ikut menurun karena perubahan tersebut. "Ya pastinya penghasilan tiap hari ikut menurun. Kerupuk kami kurangi dari 15 menjadi 14 biji supaya masih ada sedikit keuntungan," katanya.

Fenomena yang dialami produsen kerupuk di Magetan merupakan contoh shrinkflation, yakni strategi mengurangi ukuran atau isi produk tanpa menaikkan harga jual. Di tengah kenaikan harga minyak goreng, tepung, dan plastik kemasan, langkah tersebut menjadi pilihan agar usaha tetap berjalan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah

Latest News Jawa Timur

See More