Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cuaca Jatim Lagi Healing, Payung Jangan Disimpan Dulu
ilustrasi matahari yang tak terbenam di Greenland (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • BMKG Juanda memprediksi cuaca Jawa Timur didominasi cerah hingga cerah berawan selama 6–12 Juli 2026, meski hujan ringan masih mungkin terjadi di awal hingga pertengahan pekan.
  • Kondisi ini dipengaruhi angin monsun Australia yang membawa massa udara kering, sementara fenomena global seperti ENSO, IOD, dan MJO berada pada fase netral tanpa dampak signifikan terhadap pembentukan awan hujan.
  • BMKG mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi hujan lokal sore hingga malam hari serta kabut yang dapat mengurangi jarak pandang di beberapa wilayah pada akhir pekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Warga Jawa Timur (Jatim) tak bisa langsung menyimpan payung meski cuaca mulai didominasi langit cerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda memprediksi sebagian besar wilayah Jatim akan mengalami cuaca cerah hingga cerah berawan sepanjang sepekan ke depan. Namun, hujan ringan masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah, terutama pada awal hingga pertengahan pekan.

Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi menguatnya angin monsun Australia yang membawa massa udara kering melintasi Jawa Timur. "Angin monsun Australia yang bersifat kering melintasi wilayah Jawa Timur sehingga dalam sepekan ke depan kondisi cuaca secara umum didominasi cerah hingga cerah berawan," ujarnya, Senin (6/7/2026).

Berdasarkan prospek cuaca mingguan BMKG periode 6-12 Juli 2026, hujan ringan masih berpotensi terjadi pada Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Sementara Rabu, Sabtu, dan Minggu diprakirakan didominasi kondisi berkabut atau berasap pada pagi hingga malam hari.

BMKG menjelaskan, kondisi atmosfer saat ini belum menunjukkan adanya faktor signifikan yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di Jatim.

Dari sisi fenomena global, El Niño Southern Oscillation (ENSO) berada pada indeks positif 1,11. Meski demikian, kondisi tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan awan konvektif di Jatim.

Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada kondisi netral dengan nilai indeks +0,01 sehingga tidak memicu peningkatan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia bagian barat.

Selain itu, prediksi Outgoing Longwave Radiation (OLR) menunjukkan kondisi netral hingga positif. Artinya, hingga 12 Juli 2026 diperkirakan tidak ada gangguan atmosfer signifikan yang melintasi Jatim.

Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diprediksi berada pada fase 7 atau wilayah Western Pacific dalam kondisi netral. Kondisi tersebut tidak memberikan dukungan berarti terhadap pembentukan awan hujan. Meski demikian, BMKG mencatat anomali suhu muka laut berkisar antara minus 0,5 hingga 1,5 derajat Celsius masih berkontribusi terhadap penambahan uap air, terutama di kawasan Selat Madura.

Sementara hasil analisis angin lapisan 3.000 kaki menunjukkan arah angin di Jatim didominasi bertiup dari timur hingga tenggara dengan kecepatan maksimum mencapai 23 knot dan berpola stabil.

BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai hujan ringan yang masih dapat terjadi secara lokal, terutama pada sore hingga malam hari, serta memperhatikan potensi berkurangnya jarak pandang akibat kabut di sejumlah wilayah pada akhir pekan.

Editorial Team

Related Article