Malang, IDN Times - Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melaporkan jika mereka telah menemukan 2 spesial tanaman anggrek baru di lereng Gunung Semeru. Kedua anggrek ini diberi nama Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis.
BB TNBTS Temukan Dua Spesies Anggrek Baru di Lereng Semeru

1. Begini cerita ditemukannya dua spesies anggrek baru di lereng Gunung Semeru
Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan BB TNBTS, Toni Artaka memberikan jika penemuan dua spesies anggrek baru ini sebenarnya sudah terjadi sejak Januari 2026. Saat itu ia sedang melakukan patroli kawasan dan pengidentifikasian biodiversitas.
Saat melakukan patroli di kawasan hutan dengan ketinggian 1.000 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), ia melihat ada 2 bunga anggrek dengan ciri-ciri tidak biasa. Saat ia melihat dengan lebih jelas, ia tidak bisa mengidentifikasi jenis kedua anggrek berdasarkan catatan di BB TNBTS. "Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis sama-sama ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru. Keduanya hidup di kawasan hutan lembab, teduh, dan tanah berhumus tebal," terangnya pada Kamis (2/4/2026).
2. Kedua anggrek ini memiliki ciri yang berbeda
Toni menjelaskan jika kedua anggrek ini memiliki ciri bunga yang berbeda. Ia menjelaskan kalau gastrodia biruensis memiliki bagian perbungaan sepanjang 18-32 sentimeter dengan jumlah bunganya ada 3-5 kuntum. Kemudian pada kelopak bunha memiliki warna coklat kekuningan dan bertekstur halus. Sementara ukuran mahkota bunga memiliki panjang 4-6 sentimeter dan lebar 4-5 sentimeter dengan warna putih serta oranye.
"Kalau pada Gastrodia selabintanensis punya bagian perbungaan dengan panjang antara 15-25 sentimeter dengan 2-4 bunga atau kuntum. Kelopak bunganya berwarna coklat kehijauan dengan tekstur kasar serta berkutil. Lalu mahkota bunganya memiliki panjang 4 sentimeter dan lebar 4 sentimeter berwarna putih semu serta kuning," jelasnya.
3. BB TNBTS belum tentukan nama lokal untuk kedua anggrek ini
Lebih lanjut, Toni menjelaskan jika pihaknya belum memberikan nama lokal untuk kedua anggrek ini. Tapi menurutnya penemuan ini menambah catatan flora di kawasan Bromo-Tengger-Semeru menjadi 309 spesies anggrek.
"Kedua jenis anggrek ini termasuk tumbuhan mycoheterotropic yang mana pertumbuhannya sangat bergantung pada habitat dan sulit mengembangkan pembiakan di luar habitat alaminya. Jadi kami akan melakukan pemetaan sebaran populasinya dengan cara identifikasi pada lokasi lain pada musim berbunga," pungkasnya.