Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anti Overcrowded! JLKT Jadi Solusi Baru Wisata Bromo
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat melihat rencana proyekJalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (13/4/2026). Dok. Pemprov Jatim.
  • Pemprov Jatim memulai pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan TNBTS sebagai solusi penataan arus wisata dan pelestarian lingkungan Bromo.
  • JLKT sepanjang 13 kilometer dirancang tanpa aspal, dilengkapi rest area, kantong parkir, patok pembatas, serta sumur resapan untuk menjaga daya dukung ekosistem.
  • Proyek ini menggabungkan aspek konservasi alam, penguatan budaya Suku Tengger, dan pemberdayaan ekonomi warga agar pariwisata Bromo lebih berkelanjutan dan merata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Probolinggo, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) resmi memulai pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (13/4/2026). Proyek ini digadang menjadi solusi penataan arus wisata sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan Bromo.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menegaskan, JLKT bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan langkah strategis untuk mengatur distribusi wisatawan agar tidak terpusat di satu titik. Dengan adanya jalur ini, tekanan terhadap kawasan inti Bromo diharapkan berkurang.

"JLKT akan menjadi penghubung antarwilayah di sekitar kaldera sekaligus alternatif distribusi wisatawan. Ini penting agar kawasan tetap terjaga dan manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.

Jalur sepanjang sekitar 13 kilometer tersebut dirancang tanpa pengaspalan untuk menjaga daya dukung lingkungan. JLKT akan dilengkapi tiga titik rest area, empat kantong parkir, ribuan patok pembatas, serta puluhan sumur resapan sebagai upaya konservasi.

Selain fungsi konektivitas, proyek ini juga diarahkan untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. Pemprov mengintegrasikan aspek pelestarian alam, penguatan budaya lokal Suku Tengger, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Khofifah menambahkan, JLKT menjadi bagian dari upaya besar menata kawasan wisata Bromo agar lebih tertib, aman, dan nyaman bagi wisatawan, tanpa mengorbankan nilai ekologis dan budaya.

"Ini bukan hanya soal akses, tapi bagaimana kita menjaga ekosistem, budaya, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem menilai JLKT akan memperkuat harmoni antara pengelolaan kawasan konservasi dan kearifan lokal masyarakat Tengger.

Editorial Team